Header Ads

ads

Balada Si Penjual "Jantung"

Balada Si Penjual Jantung

Dia.. Oh.. Dia yang selalu menggunakan "jantungnya" sebagai satu-satunya andalan dalam mengelola dan mengendalikan kekuasaan, maka dapat dipastikan bahwa semasa kepemimpinannya ia selalu terjebak di dalam perasaannya sendiri. Selalu khawatir jika terlihat tak sempurna. Merasa cemas kalau ada yang mulai mengusik tempat duduknya yang empuk. Dan berbagai ketakutan yang lain datang silih berganti menggebuk setiap rongga dadanya.

Sambung rasa yang awalnya adalah kekuatan untuk membangun kehidupan berkeadilan sosial bukan lagi merupakan keterhubungan yang seharusnya mengikat dirinya dengan segenap lapisan kawula, melainkan hanya sebatas asa yang dimainkan dengan penuh tipu-tipu. Sayangnya hal tersebut ia jadikan sebagai alat hipnotis massal demi menyenangkan keluarganya, kelompoknya, para konconya, dan tentu saja "dompetnya" sendiri.

Ada saat dimana romantisme membelai dada, maka seketika itu pula seluruh ritme nafasnya berubah menjadi syair-syair lagu. Namun ketika kegalauan datang menerpa, ia seperti tikus yang ketakutan melihat hibuk kendaraan ketika hendak menyeberang jalan. Ia tampakkan wajahnya dengan raut sedu-sedan agar Allah turun menolong.

Sebagian besar "sabda" yang pernah diucapkannya pada saat menjadi raja merupakan produk jantungan, karena "kepala" sebagai kontrol kesadaran telah lama mati dan dimatikan oleh para vampir. Ia lupa bahwa waktu telah memberinya banyak kesempatan untuk menyeimbangkan segala sesuatu yang pernah ia pegang. Namun semuanya telah sia-sia, sebab para pengikutnya juga telah banyak menjadi hantu.

Ia tenggelam dalam kenikmatan yang menurutnya akan abadi. Amanah dari para kawula adalah kesempatan untuk memamah biak yang menjadikan pikirannya tumpul. Ia adalah jenis kegemukan yang lain, sehingga bukan rahasia lagi di zamannya para vampir beramai-ramai menghisap darahnya dan menjadikannya makhluk yang mati setengah. Vampir-vampir itu, menarik hidungnya kesana-kemari, agar mereka tak perlu jauh-jauh terbang mencari darah. Dan pada akhirnya ia tak mampu melemparkan tajamnya sebuah visi dan hanya bisa mensyiarkan kegalauan hatinya dengan bahasa yang mempesona dan berharap seluruh rakyat menjadi "sejantung" dengannya. Mana bisa?

Tapi semua sudah telolet, Om. Waktu memang tak pernah peduli pada nasib manusia. Sekarang zaman telah berubah, sebab setiap kepala berhak bersabda. Kepala yang sadar, menyelamatkan denyutan nestapa, namun kepala yang keras menjadikan konsep tentang moral adalah suatu bentuk kegilaan baru di abad ini.

Para kawanan vampir kocar-kacir. Kastil-kastil mereka telah dibakar. Penghuninya satu-persatu mati dengan sendirinya. Yang masih hidup, adalah umpan bagi penjara.

Dan lihatlah disana! Ia adalah bekas seorang raja yang tercucuk hidungnya, masih saja meratap di hadapan zaman. Ia tak sanggup tergulung waktu dan selalu berdoa agar Tuhan memutar kembali nikmatnya kekuasaan itu melalui keturunannya. Ia tak sanggup menerima kenyataan, sebab tak ada siapapun yang mampu menyembuhkan lukanya.

Ia semakin terpukul, ternyata sabda telah berubah menjadi tubuh yang ramping dan setiap pikirannya adalah harapan baru. Bahkan ia mulai bertanya-tanya kepada tu(h)an yang bertubuh kerempeng itu, apakah ada kasih dan pengampunan agar ia bisa menikmati dengkurannya yang tertunda?

Karimawatn, 07-02-2017

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.