Header Ads

ads

Jika Jijik, Tak Perlu Di-Like

Jika Jijik, Tak Perlu Di-Like

Ya, tentunya mata Anda sudah lebih dulu menelan quote di atas ini ketimbang nyeburin diri ke dalam caption-nya. Lalu Anda tertawa, bahkan juga merasa alergi atau bahkan jijik. Tapi memang seperti itulah bunyi quote ini, "Hiduplah seperti air, taek lewat cuek aja."

Ketika pertama kali aku mememukannya di gugel, ia seperti membuka mata air. Kemudian catatan ini mengalir begitu saja. Menjadi seperti sungai yang tidak pernah bertanya, kemanakah ia harus bermuara.

Batin yang keruh pasti akan risih ketika membaca satu kata yang tertulis pada quote dibawah ini. Entah siapa yang pertama kali menuliskannya, tapi tampak ia adalah orang yang spiritual dalam tingkatan tertentu. Hanya saja satu kata di dalam quote ini seolah memiliki getaran yang sangat berpotensi mengaburkan keseluruhan pesan yang ada di dalam satu kalimat utuhnya. Boleh jadi pesannya menjadi sulit terjangkau akibat si pembaca kebanyakan tertawa, atau bahkan menjadi kabur akibat pikiran yang tergesa-gesa dan terlalu dini dalam menghakimi.

*

Batin yang tidak segar adalah batin yang hanya berfokus pada sesuatu yang dianggap menganggu atau sebaliknya, ia akan terlena pada sesuatu yang dapat menyenangkan dirinya saja. Hal itu terjadi karena batin yang seperti itu selalu terburu-buru, berlari terlalu cepat tanpa mau behenti sejenak ke titik nol. Ia tidak pernah lagi mau belajar mengamati untaian setiap kata yang mengalir dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Ia hanya berfokus pada pengalaman indrawi (dalam hal ini mata) dan tidak mau lagi membaca pelajaran apa yang sedang mengalir dari dalam dirinya sendiri.

Batin yang seperti itu adalah rapuh. Ia hanya terpesona pada keindahan sekuntum mawar, tanpa mau mengamati lebih jauh lagi bahwa bunga mawar dapat mekar karena ia telah tumbuh bersama daun-daunnya, bersama batangnya yang penuh dengan duri tajam. Dan lebih penting lagi adalah ia telah tumbuh bersama akar-akarnya yang terbenam dan tidak pernah nampak.

Akar-akar itu tidak pernah berupaya mengambil peran yang lebih indah dari kelopak bunga mawar. Akan tetapi mereka tetap bekerja secara alamiah dalam menyerap sari makanan dari dalam tanah agar keseluruhan tentang mawar itu tetap tumbuh. Akar-akarnya selalu bekerja di dalam sunyi, tanpa pamrih dan tak pernah cemburu ketika setiap makhluk hanya mengagumi keindahan kelopak bunganya saja. Selebihnya adalah berserah total kepada semesta, dengan membiarkan Ia menghidupi keseluruhan bunga mawar itu. Air, udara, tanah, dan sinar matahari adalah pendukung kehidupan yang tidak terpisahkan dari keutuhan hidup bunga mawar itu.

*

Hidup ini adalah tentang keseluruhan (pengalaman), sebab hanya dengan memahami keseluruhan itulah, batin dapat belajar tentang hakikat terdalam tentang (ke)hidup(an) itu sendiri. Hidup yang meditatif bukanlah hidup yang hanya memeluk keheningan saja, melainkan juga yang mau mendengarkan, dan mengamati dengan penuh kesadaran setiap hiruk-pikuk yang sedang berlangsung di dalam.

Batin yang segar tidak pernah tergantung pada keadaan "luar" yang menenangkan dan menyenangkan saja. Dimanapun berada ia dapat menggelar meditasi aktif didalam dirinya, bahkan di tengah-tengah konser rock yang menggelegar bukanlah suatu masalah baginya. Tidak harus dengan duduk bersila, mata tertutup, atau dengan posisi meditasi tertentu. Dengan menyanyi, menari, dan bergerak aktif ia akan selalu berada dalam keadaan meditatif. Sebab meditasi bukanlah tentang sesuatu yang ada diluar, melainkan sepenuhnya dengan kesadaran murni yang sedang mekar di dalam.

*

Hidup ini sejatinya adalah keseluruhan rangkaian peristiwa (meditatif), dimana kita sendiri tidak bisa terlepas dari pengalaman ini. Dengan kata lain, pengalaman meditatif itu dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu hidup adalah total tentang pengalaman spiritual dan bukan sekedar ritual dan tradisi. Ritual dan tradisi akan menjadi usang, monoton, dan membosankan yang cepat atau lambat akan ditinggalkan. Sedangkan pengalaman meditatif akan membuat batin selalu terlahir baru dan segar dalam menghadapi kehidupan yang berubah-ubah.

Batin yang meditatif tidak memihak hanya pada hal-hal yang dianggap indah saja, menggenggamnya erat-erat, kemudian menghakimi habis-habisan setiap pengalaman yang pernah tumbuh melalui suatu yang dianggap buruk (penderitaan). Ia tidak pernah bergantung pada sesuatu yang karena begitu keruhnya ego, ia menjadi takut kehilangan apa yang membuatnya nyaman.

Sebab itulah, batin yang segar tidak pernah berupaya untuk berada di tempat yang selalu nyaman. Ia bahkah tidak berupaya sekuat tenaga menggengam segala sesuatu agar tetap ada menurut kehendak ego belaka. Batin yang selalu baru, senantiasa membiarkan segalanya mengalir dan tumbuh secara alami dalam kesadaran. Dengan begitu ia akan mengetahui tentang seluruh keberadaannya di kehidupan yang tidak tetap ini. Sebab hanya itulah keabadian, yaitu perubahan itu sendiri.

Itulah sebabnya setiap pengalaman menjadi sangat spiritual manakala ia disadari. Pengalaman-pengalaman itu adalah suatu untaian utuh dan merupakan satu kesatuan yang menjadikan siapa Kita (secara spiritual) sampai pada detik ini. Dengan demikian batin yang sadar dan selalu baru tidak pernah lagi berupaya untuk memisahkan warna di dalam keseluruhan sebuah lukisan dan menganggap hanya warna tertentu saja yang indah sedangkan yang lain harus di singkirkan.

Batin yang segar tidak akan pernah larut dan tenggelam dalam kegalauan, demikian juga ia tidak terlena dalam kebahagiaan menurut versi ego belaka. Batin yang segar selalu bersiap sedia sebab ia telah sadar. Ia tidak akan panik terhadap segala macam kemungkinan. Ia selalu mengalir secara harmonis bersama kehidupan ini, walaupun segala sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi.

*

Dari tempat yang lebih tinggi, seseorang dapat saja mengatakan kepada temannya, "Lihatlah, laut itu begitu cantik, kawan. Airnya jernih sekali dan dikelilingi pulau-pulau yang mempesona. Mari kita pergi ke sana!". Mereka pun segera turun dari tempat itu. Berangkatlah mereka menuju impian mereka untuk menikmati keindahan laut itu. Di tengah perjalanan, mereka harus menginjak batu karang yang tajam. Kaki mereka terluka. Banyak ular berbisa yang sewaktu-waktu datang menerkam. Dan berkatalah satu diantara yang lain, "Kawan, aku menyesal berada ditempat ini. Aku tidak kuat lagi menuju ke sana. Aku ingin melupakan keindahan laut itu. "Aku ingin segera pulang.!"

Segala sesuatu yang kita anggap indah, bukanlah keindahan jika kita tidak menyadari bahwa setiap keindahan itu juga tersusun dari setiap elemen/peristiwa yang membentuk keseluruhan. Jika ingin mengagumi keindahan sebuah gunung dari kejauhan, maka kita juga harus sadar bahwa disana juga terdapat begitu banyak jurang, bebatuan terjal, hewan liar, tumbuhan beracun, dan sebagainya.

Keindahan akan menjadi keindahan yang sesungguhnya, apabila batin selalu dalam keadaan baru. Ia tidak lagi dipenuhi kecemasan, kegalauan, dan ketakutan. Ia dapat memilih mengalami keindahan gunung itu dengan pergi menemuinya dan berjalan ditepian jurang, mendaki bebatuan, terus mendaki sembari menghindari hewan buas dengan bijak, dan membiarkan setiap tumbuhan beracun yang ia lewati tetap tumbuh tanpa harus dimusnahkan. Pada suatu titik tertentu dalam pendakian itu, ia akan berkata, "Oh, semua tentang pengalaman (pendakian) ini sungguh indah. Sangat indah dari pada sekedar memandangnya dari kejauhan."

Akan tetapi batin yang segar tidak akan pernah terlena dengan semua perasaan yang ekstasi itu. Ia selalu sadar dan akan me-reset kembali. Ia selalu tahu, dan tidak akan mabuk oleh setiap kenikmatan pendakian itu. Ia sadar bahwa ia harus melepaskannya dan kembali berangkat turun.

Sejenak ia memang telah berada di dalam dan telah menyatu dengan keindahan gunung itu, namun ia ingat untuk turun, sebab perjalanan turun adalah bagian dari keseluruhan pengalaman itu. Perjalanan turun telah menjadi simbol kerendahan hati. Ia sadar dan kembali menapaki tepian setiap jurang yang pernah ia lalui. Ia menuruni setiap bebatuan sembari mendengarkan setiap alunan gesekan pepohonan yang menggugurkan daun dan ranting akibat hembusan angin pegunungan. Sesekali ia tersungkur dan bangkit kembali. Ia terus melanjutkan perjalanan turunnya dengan penuh ketenangan, dan ia sungguh-sungguh menikmatinya. Sehingga ia telah berada kembali pada kejauhan yang memisahkan dirinya dengan gunung itu.

Dari tempat itu, ia memandang puncak gunung itu. Dengan badannya yang remuk redam itu ia berucap, "Akhirnya selesailah sudah." Lalu, dengan setiap luka dan lebam ditubuhnya, ia membungkukkan badannya dihadapan gunung itu, seperti memberi hormat kepadanya dan ia kembali berucap di dalam dada, "Terima kasih kehidupan. Terima kasih atas luka dan lebam ini. Kau telah mengijinkan aku untuk mengalami dan mengalir bersama seluruh peristiwa ini. Bagiku, inilah keseluruhan dari Keindahan itu."

*

Menjalani kehidupan bukanlah semata-mata berusaha mati-matian agar terhindar dari segala yang buruk demi meraih piala, melainkan menyiapkan batin yang sadar agar tetap segar dalam menghadapi berbagai kemungkinan. Keseluruhan pengalaman ini adalah keindahan spiritual itu.

Karimawatn, 21-04-2018

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.