Header Ads

ads

Dear Otohku, Aro

Dear Otohku, Aro
Aro and Me
Nak, hari ini Minggu, 23 April 2017, yaitu minggu ke-2 Paskah dimana Gereja merayakan Hari Kerahiman Ilahi. Dan hari ini adalah tepat 4 hari setelah Pilkada Jakarta, dimana seorang pelayan di negeri ini telah ditumbangkan dengan cara tidak waras, yaitu dengan sengaja merajamnya secara bertubi-tubi dengan menggelar parade kebodohan yang sangat memalukan. Pelayan itu adalah seorang anak manusia yang akan menjadi legenda. Kelak Kamu akan berkenalan dengannya dalam setiap lembaran sejarah yang Kau baca.

Aku tahu, bahwa Kamu belum mengerti dengan apa yang aku tulis diawal surat ini. Sebab hal yang telah kusampaikan diatas hanyalah sedikit saja dari begitu banyaknya kode, simbol, cerita dan fenomena kehidupan yang nantinya dapat Kau terjemahkan secara mandiri melalui kesadaran pribadimu.

Tapi, tidak apa-apa. Aku tahu bahwa suatu saat Kamu akan belajar banyak hal di dalam samudera kehidupan ini, bukan hanya soal Kerahiman Ilahiah atau Legenda Sang Pelayan, tapi tentang segala hal yang mungkin akan Kau temui di setiap ruas perjalananmu. Teruslah bertanya kepada dirimu sendiri, Nak. Sebab ketahuilah, pertanyaan selalu lebih penting daripada sebuah jawaban yang mungkin Kau anggap sebagai satu-satunya kebenaran.

Satu hal penting, bahwa dari seluruh tema kehidupan manusia yang Kau coba fahami di dalam pengembaraanmu di Planet ini kelak, hanya akan ada satu kesimpulan, yaitu bahwa Kamu tak akan pernah kemana-mana. Kamu pada akhirnya akan selalu pulang kedalam rumahmu sendiri. Ia adalah rumah yang tidak akan pernah Kamu tinggalkan dalam setiap perayaan hidupmu. Ia adalah rumah yang hanya memiliki dua bilik saja, yaitu kepala dan dadamu. Keduanya tak akan pernah terpisahkan dan selalu menjadi satu kesatuan yang utuh sampai pengembaraan fisikmu selesai. Ia akan menjadi dasar bagimu untuk senantiasa mengakrabkan diri dengan rohmu sendiri dari hari ke hari di sepanjang usiamu. Itu sebabnya, sudah selayaknyalah bahwa Kamu akan merawat kedua bilik itu melalui setiap pemaknaan baru yang sangat mungkin selalu berubah selaras dengan perjalanan semesta dimana rohmu hidup dan berkembang bersamanya.

Nak, sekali lagi, hiasilah kedua bilik itu dengan setiap hela nafasmu. Sebab, tak ada satu diantara kedua bilik itu yang lebih baik atau buruk, lebih penting atau tidak penting. Sebab ketika kesadaranmu mampu menciptakan sebuah keseimbangan, maka yang akan tampak hanyalah satu bilik saja, dan itulah batinmu, yaitu batin yang semestinya baru setiap saat. Disitulah hakikatmu sebagai manusia itu sesungguhnya berada. Dan disitulah semesta ini mengalami dan merayakan kehidupan melalui dirimu sendiri.

Nak, aku bukanlah ayahmu, bukan pula ibumu. Bahkan aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya manusia yang sama sepertimu, yang diberi kesempatan dalam waktu yang sangat singkat ini, menjadi saksi kehadiranmu di dunia yang penuh dengan konflik ini. Hari ini, tepat 2 tahun usiamu. Dan sejak itu, ketika cinta menuntunmu keluar dari rahim semesta untuk mengalami sendiri kehidupanmu, aku selalu merasa diberkati.

Aku bersyukur telah berada diawal perjalanmu. Tentu saja pengalaman yang seperti ini bukanlah suatu kebetulan, bahwa Kau memang sengaja dihadirkan didalam keadaan(ku) yang seperti ini. Kehadiranmu telah mengajariku banyak hal. Melalui dirimulah aku menemukan dan mengumpulkan kembali memori anak manusia yang pernah hilang. Dan berawal dari hal itulah aku belajar kembali tentang apa dan siapa yang hidup di dalam tubuh ini. Sebab diusiamu seperti sekarang ini, aku yang dulu tidak pernah tahu sedikitpun tentang apa dan siapa itu Aku.

Ketahuilah Nak, bahwa sejalan dengan pertumbuhanmu, Kau telah membantu diriku menjawab begitu banyak pertanyaan penting yang selama ini muncul didalam benakku. Memang, Kamu tidak memberikan jawaban-jawaban itu langsung melalui perkataanmu. Sebab saat hal ini kutulis, Kamu baru saja belajar berbicara. Kamu baru saja membiasakan diri melatih bibirmu untuk mengucapkan bahasa manusia, yaitu suatu bahasa yang senantiasa memiliki keterbatasan dalam mengungkap rahasia perjalanan kita — bukan hanya sebagai daging melainkan juga sebagai roh.

Akan tetapi setiap aku menatap matamu, hal itu justru melahirkan pengajaran baru yang sebelumnya tidak pernah aku tahu. Sebab tak seorang pun pernah mengatakan makna-makna itu sebelumnya, tidak ada seorangpun yang menjelaskan makna simbol-simbol yang aku tangkap dari dirimu, tidak juga orang tuaku apalagi dunia ini. Itu sebabnya, apa yang bisa kuambil dari cerita antara Kamu dan aku adalah sesuatu yang sangat personal — hanya antara Kita berdua. Dan karena itulah aku menuliskan hal ini semua. Suatu saat, aku akan bercerita bahwa Kau dan Aku pernah tertawa dan menangis bersama.

Nak, Kau adalah semesta kecil yang saat ini menjelma dalam tubuh seorang balita. Dan Kamu akan terus bertumbuh. Namun satu hal, bahwa Kamu tak akan pernah lebih besar dari seluruh eksistensi semesta ini. Sama seperti diriku, Kita hanyalah debu yang hidup, yang mengalami kehidupan ini sendiri sejak awal mula kita dilahirkan. Semoga, suatu saat Kamu akan memahami hal ini sendiri.

Di hari-hari yang akan datang, dunia ini akan mengambil peran dominan dalam membentuk dirimu yang adalah egomu sendiri. Dunia ini akan menjadikan diri mereka seakan-akan hanya sebagai satu-satunya guru bagimu. Bahkan saat ini pun, seringkali aku tidak sadar dan lupa bahwa aku adalah bagian dari dunia itu. Akan tetapi Nak, aku yakin bahwa Kau memiliki jalanmu sendiri, yaitu suatu jalan yang tidak menuju kemanapun juga selain kedalam batinmu. Hanya itulah satu-satunya dunia yang akan Kau kenali setiap saat. Dan disitu jugalah, Kau akan memetik ranumnya hikmah kehidupan ini. Disitulah Kau akan bertemu dengan hakikatmu hanya sebagai manusia biasa. Semoga kelak Kamu merasakannya.

Mungkin saja suatu saat dalam perjalananmu itu, Kau akan bertemu dengan mereka yang berusaha menjelaskan kepadamu apa itu samudera, dan yang lain lagi akan mengajarimu tentang apa itu sebuah sungai. Lalu tiba-tiba Kamu merasa tercerahkan akan kedua hal itu. Namun ingatlah Nak, ada kalanya Kau hanya perlu banyak belajar tentang Air saja. Belajarlah dari setetes embun yang mampu memekarkan bunga dipagi hari. Dari situ Kau akan tahu bahwa satu-satunya Guru sekaligus murid yang paling jujur, hanyalah dirimu sendiri. Bukan mereka, dan bukan dunia ini. Hanya Kamu sendiri, Nak.

Selamat ulang tahun, Nak. Rayakanlah kehidupan ini. Jika semesta mengajakmu menari — menarilah. Sadarilah setiap alunan musiknya, rasakan dan biarkan ia merambat keseluruh sel tubuhmu. Dan jika semesta ini mengajakmu belajar melalui kesedihan — belajarlah sungguh-sungguh tentang hal itu. Namun tetaplah Kau sadar. Tak perlu Kau mengkhianati air matamu, walaupun Kau sendiri seorang lelaki. Semoga dikemudian hari Kau memahami makna dari semua ini.

Sehatlah, Berbahagialah, dan Panjanglah Usiamu. I LOVE YOU, NAK.

Leonians — Karimawatn, 23-04-2017

NB : Sebuah surat yang kutulis tahun lalu (2017) untuk memperingati 2 tahun usia keponakanku kala itu. Aku sengaja menyimpan surat ini dan baru bisa aku posting sekarang, tepat diusianya 3 tahun, tanggal 24 April 2018.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.