Header Ads

ads

Kebahagiaan

Kebahagiaan

Suatu kali aku bepergian dengan kereta api. Di dalam ruangan gerbongku tiga orang juga ada di sana. Mereka berbincang-bincang tentang seribu satu hal. Perjalanannya panjang dan mereka perlu kesibukan. Kemudian pembicaraan mereka beralih ke topik kebahagiaan.

Salah satu dari mereka adalah orang yang sangat kaya dan dia berkata: “Aku bahagia karena aku telah mencapai semua kekayaan yang aku butuhkan. Aku telah berhasil, aku sudah sampai.”

Aku melihat wajah pria itu – tidak ada tanda-tanda pencapaian, (hanya) semacam kegugupan. Sebenarnya, cara dia mengatakannya – dengan kepercayaan diri seperti itu – tidak lain tetapi untuk menyembunyikan kegugupan yang dalam. Dia gemetaran di dalam, aku bisa melihatnya, seperti daun di tengah angin kencang – tapi berpura-pura.

Dia berkata: “Aku telah mencapai kebahagiaan.” Tapi matanya seperti padang pasir, tidak ada kebahagiaan, tidak ada kehijauan. Dia hampir seperti orang mati – menyusut, terbuang.

Orang lainnya anggota dari satu partai politik dan dia berkata: “Aku juga senang karena partai membutuhkan aku. Tanpa aku, mereka tidak bisa memenangkan pemilihan yang akan datang. Aku dibutuhkan, itulah kebahagiaanku.”

Orang berpikir bahwa karena dia telah mengumpulkan banyak kekayaan, dia bahagia. Apa hubungan kekayaan dengan kebahagiaan? Kekayaan ada di luar; Kebahagiaan adalah mekar di dalam. Seorang pria miskin bisa bahagia; Itu tidak memiliki hubungan hakiki dengan kemiskinan atau kekayaan. Seorang pengemis seperti Buddha bisa bahagia. Dan seorang pria yang mengatakan bahwa dia bahagia karena dia telah mencapai banyak kekayaan hanya menipu dirinya sendiri, berpura-pura.

Pria satunya berkata: “Aku bahagia karena aku dibutuhkan.”

Sebuah arti tertentu datang kepadamu saat engkau dibutuhkan. Engkau pikir engkau penting bagi seseorang, bagi suatu organisasi politik, bagi suatu aliran agama. Tapi orang yang bahagia tidak tergantung pada orang lain. Karena jika partai politik bisa menemukan pria yang lebih baik daripada dirinya, atau orang yang lebih buruk daripada dirinya – yang sebetulnya sama saja di dalam politik – maka dia akan merasa frustrasi. Kebahagiaan tidak pernah merasa frustrasi. Jika itu terjadi, itu bukan kebahagiaan – itu menutupi kenyataan dengan gagasan palsu.

Lalu ada seorang wanita. Dia berkata dia juga bahagia. Dia memiliki lima anak, anak-anak yang tampan/cantik, semuanya tumbuh – harapannya terpenuhi di dalam mereka. Dan suaminya sangat mencintainya; suaminya selalu setia kepadanya. Wanita itu pasti cantik saat dia masih muda. Sekarang mendekati sekitar lima puluh, hanya kerangka, satu ingatan – ingatan masa lalu, mata mengerut, seluruh hidup sudah berlalu, kematian mendekat – dia berpegang erat-erat pada anak-anaknya; mereka akan memenuhi harapan wanita itu. Dia tidak bisa memenuhi harapannya sendiri, mereka yang akan memenuhi; Sekarang dia akan hidup melalui ambisi mereka.

Kebahagiaan tidak pernah hidup melalui orang lain. Itu tidak memerlukan siapa pun; itu sudah cukup untuk dirinya sendiri. Dan dia bersikeras bahwa suaminya selalu setia padanya, tapi aku bisa melihat bahwa apa pun yang dia katakan dia tidak mempercayainya – matanya menunjukkan sesuatu yang lain. Sebenarnya, setiap kali engkau mengatakan tentang ini – bahwa suamimu setia – engkau curiga. Atau engkau mengatakan bahwa istrimu setia – keraguan telah masuk, karena kepercayaan tidak mengenal keraguan. Jika kepercayaan adalah kepercayaan yang benar, maka engkau tidak mengetahuinya. Jika tidak, cacing dari keraguan ada di suatu tempat sedang menggerogotinya, jauh di dalam.

Lalu mereka semua menengok ke arahku. Mereka berkata: “Bagaimana denganmu?”

Aku mengatakan kepada mereka bahwa “Aku tidak pernah mencoba untuk menjadi bahagia dan aku bukan anggota organisasi, agama atau lainnya. Tidak ada seorang pun yang membutuhkan aku! Dan jika seseorang membutuhkan aku, itu mungkin masalah DIA – ini bukan masalahku. Aku tidak perlu untuk dibutuhkan; itu bukan kebutuhanku. Dan sejauh kesuksesan berjalan, aku gagal – tanganku benar-benar kosong. Dan aku tidak berpikir, bahasa itu sangat asing bagiku – dalam hal kepercayaan – karena berbicara tentang kepercayaan adalah untuk menyembunyikan keraguan. Sebenarnya, aku tidak pernah begitu tertarik pada kebahagiaan, karena aku sudah bahagia. Aku hanya senang – tidak ada penyebabnya!”

Jika di sana ada penyebab untuk kebahagiaan, engkau siap untuk merasa tidak bahagia kapan saja, engkau hanya di ambangnya/ujungnya – karena satu penyebab bisa menghilang, maka kebahagiaan akan hilang. Kecuali jika engkau hanya bahagia tanpa penyebab yang tidak kelihatan, tak terlihat, kecuali jika engkau hanya bahagia – tidak masuk akal, tidak rasional, tidak logis, gila – engkau tidak bahagia.

Dan orang yang bahagia tidak bisa serius. Orang yang tidak bahagia itu serius karena dia kehilangan sesuatu. Dia sedang mencari dan mengejar, selalu tegang, sedang bergerak, sedang pergi ke suatu tempat – menunggu Godot. Itulah sifat orang yang tidak bahagia.

Aku telah datang begitu dalam sehingga aku bahkan tidak merasakan kedatangannya. Sebenarnya aku belum pernah pergi. Aku tidak serius. Penampilan bisa menipu. Engkau mungkin tidak mendapati aku tertawa, tapi itu hanya karena saat engkau sangat serius maka engkau perlu tertawa juga. Bila engkau hanya bahagia, keseriusan lenyap, tawa muncul. Tawamu adalah obat. Engkau terlalu serius, engkau perlu tertawa…

Jika engkau benar-benar bahagia, tidak perlu tertawa dan tidak perlu menangis Keduanya akan hilang.

Aku tidak serius, aku hanya sedang merayakannya. Dan ketika aku berbicara dengan engkau, aku tidak memberimu sebuah idealogi, filosofi, agama – tidak. Aku hanya ingin berbagi perayaanku.

Bergeserlah dari kata-kata menuju keheningan. Jangan dengarkan kata-kataku; dengarkanlah aku. Di sana, tepatnya di sana, adalah pesannya.

OSHO ~ The True Sage, Chpt 2

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.