Header Ads

ads

Siluman Yang Terhormat

Siluman Yang Terhormat

Kalau menilai Ahok itu harus mengacu pada etika dan moral, maka mungkin saja sikap dan tindakannya sebagai Gubernur Jakarta selama ini dinilai oleh banyak orang tidak pantas dan tidak sesuai adat ketimuran. Terkesan kasar, ceplas-ceplos dan tidak sopan kalau ngomong. Kalau tak biasa atau belum siap lihat ada manusia semacam Ahok, maka jantung bisa rontok. Yang terasa cuma sesak didada. Ujung-ujungnya pengen nimpuk. Atau setidaknya sudah keluar kata anjing. Lagi-lagi binatang yang baik-baik yang jadi korban.

Namun dapat dimaklumi, kenapa banyak orang tak suka gaya Ahok. Sebab di negeri ini yang namanya sopan santun dan adat ketimuran masih disanjung, dijadikan rujukkan penilaian kepribadian. Pribadi seseorang itu bisa dikatakan baik sebagai orang apabila dari luar tampak punya etika dan sopan santun berikut dengan segala atribut moral lainnya. Walaupun  sebagai manusia belum tentu juga.

Akibat terlalu lama dijadikan dasar penilaian, maka banyak hal kemudian menjadi tidak seimbang. Segala hal menjadi wagu disana-sini. Justru faham mengenai hal ini semakin membuat masyarakat tertipu. Banyak yang kehilangan kesadaran. Seolah-olah selama ini semuanya baik-baik saja dan tidak perlu lagi membangun kritik. Yang penting sudah pakai Jas+Dasi+Peci, pakai Kebaya dan bla..bla..bla lengkap dengan atribut ini-itu, pastilah orangnya baik. Niatnya pasti baik pula. Mungkin begitu kira-kira penilaian umum yang ada di masyarakat saat ini.

Yang penting bungkusnya oke punya. Itu dulu yang dijadikan nomor satu. Untuk nomor berikutnya nanti saja, menunggu momen kaget untuk berucap "Oh My Ghost" (ternyata siluman). Tidak tahu kalau kelakuan dan berbagai kemungkaran yang dilakukan para oknum pejabat dan politisi yang diberi kepercayaan mengurus negara ternyata sudah sangat keterlaluan. Bahkan lebih parah dari kelakuan manusia tidak waras yang mondar-mandir di pasar atau di jalan-jalan tanpa busana.

Kalau sudah begini lalu mau apa? Diam saja? Atau mungkin masih bisa berkata, "Oh, dia itu orang hebat?" Pasti perlu waktu lama untuk bisa menyembuhkan keadaan. Oleh karena itu dibutuhkan manusia-manusia gila, yang kegilaannya bisa dianggap extra-ordinary. Manusia seperti Ahok harus muncul ke permukaan agar bisa membalik keadaan.

Tidak cukup 1 (satu) Ahok, sebab saat ini negara membutuhkan lebih banyak Ahok. Harus produksi banyak Ahok di dalam negeri, sebab yang begini tak bisa import. Walaupun masih banyak juga orang-orang bebal yang bilang Ahok itu made-in Tiongkok plus Kafir. Benar-benar aneh. Perlu diingat ini bukan soal Ahok berwajah Cina Kafir, tapi ini bicara soal Ahok sebagai simbolik.

Harus diketahui juga bahwa masyarakat yang masih suka menilai hanya berdasarkan bungkusnya saja adalah jenis manusia-manusia lama. Yang memang sejak dahulu sangat doyan makan etika, sopan santun dan ajaran moral. Bahkan masih banyak yang hidup dalam dunia feodal, yaitu dunia sembah-menyembah. Pelototin saja TV. Masih banyak yang doyan menayangkan hal-hal begituan. Lain dari itu, orang yang punya kuasa serta memiliki status sosial lebih tinggi dimasyarakat terkesan harus disembah, dihormati, dipuji, dielu-elukan dan diberi tepuk tangan. Makanya tidak heran kemudian ada istilah Dewan Yang Terhormat. Apalagi banyak juga dari kelompok ini yang rangkap profesi sebagai ulama.

Jangankan orangnya, gedungnya saja harus dihormati. Di gedung yang terhormat itu, orang luar tidak boleh sembarangan masuk. Apalagi kalau mau titip suara kebenaran. Sebab gedung tersebut memang didirikan hanya khusus untuk mereka yang terhormat saja. Dan hanya mereka yang boleh berbuat seenaknya di dalam.

Sudah tentu budaya sembah-menyembah, sujud-menyujud ini sudah ada sejak jaman bahuela. Bahkan mungkin sejak jaman Adam Hawa (kalau jamannya ada) diajarkan seperti itu. Maksudnya, makanannya itu-itu saja. Dan sampai sekarang fenomena yang seperti ini masih saja eksis. Sebab setiap orang dalam lapisan masyarakat menurut status sosialnya pasti ada saja, dan masih banyak yang suka disembah-sembah, gila kehormatan dan gila kesucian. Kalau bertemu dengan mereka harus selalu membengkokkan tulang punggung. Cuci tangan dulu sebelum salaman.

Golongan seperti mereka ini lebih suka kalau diberi sesajen. Bahkan kalau tidak ada aturan mainnya, mereka buat aturan sendiri dengan cara-cara manipulatif (menipu dengan cara yang elegan dan efektif). Atau kalau tidak, pakai cara ancam-mengancam, agar sesajen harus selalu tersedia dan diantarkan dengan cara langsung atau gaib. Kalau tidak, maka jangan marah sebab mereka bisa merampas apa saja. Apa lagi kalau bukan sebagai balas jasa?

Manusia-manusia yang seperti ini tidak boleh salah/disalahkan. Terkesan tidak boleh dan tidak sudi dikritik. Karena rata-rata dijidat mereka sudah ada stempel, bertuliskan Jaminan Mutu. Mereka sangat keranjingan, sambil jalan-jalan pamer stempel yang katanya buatan surga. Kalau ada yang berani kritik maka mampuslah si tukang kritik. Bisa dipidana karena pencemaran nama baik.

Dan akhirnya muncullah Ahok yang berani dan lantang menunjukkan bahwa faham mengenai sopan-santun penuh etika dan moral itu menjadi tidak relevan. Apalagi jika hal itu dipakai untuk mengurai benang kusut korupsi yang membelit negara sekian lama. Logikanya tidak nyambung. Kalau ada yang mengerti pikiran Ahok, tentu bisa difahami bahwa kemarahannya tersebut masih dalam konteks perlawanan terhadap korupsi. Artinya kalau sepakat perang dengan koruptor, kesampingkan dulu soal etika dan sopan santun. Karena kalau pedangnya pakai yang begituan tidak akan jalan. Lebih banyak makan hati, lalu tunjuk dada, sakitnya tuh di sini.

Ahok sepertinya juga ingin menunjukkan bahwa korupsi dalam penyelenggaraan negara itu adalah hal yang paling urgen dan harus dilawan saat ini juga. Bukan cuma narkoba saja yang membuat keadaan negara menjadi darurat, akan tetapi korupsi lebih dari itu. Untuk urusan narkoba itu prinsipnya sedikit lebih gampang. Sebab hal itu berkaitan dengan kedaulatan hukum suatu negara. Artinya, pemerintah tinggal tutup mata tutup telinga, tinggal dor. Matilah itu para gembong narkoba. Tak peduli apa dan bagaimana cuitan negara orang. Yang penting mekanismenya sudah jelas dan sesuai. Mau tunggu apa lagi?

Beda kalau soal korupsi. Tidak semudah itu. Pertanyaannya, apakah negara menjadi permisif jika koruptor berdaulat demi kepentingan mereka sendiri di negeri ini? Sampai kapan? Urusan korupsi dalam penyelenggaraan negara itu pelik. Sebab memerangi korupsi itu berarti sekaligus merobohkan sistem yang korup. Bob Marley bilang itu Babylon System.

Sistem yang korup biasanya sejiwa dengan politik kotor. Sistem inilah yang selama ini menjadikan para koruptor lenggang-kangkung. Masih bisa cipika-cipiki sana-sini. Bicara kesetiap penjuru mata angin dengan menggunakan bahasa etik dan moral agar terkesan seperti pahlawan surgawi yang sedang membela kepentingan rakyat. Inilah yang ingin dikritik Ahok. Penuh tipu daya.

Sebab entah kata apa lagi yang lebih cocok untuk menggambarkan hal semacam ini selain kata munafik. Ahok geram dengan malingisme yang selalu menjual bibir manis demi keuntungan pribadi dan kelompok. Dan entah kapan ada mekanisme hukum yang pas agar suatu saat pelatuk bisa ditarik biar koruptor-koruptor itu bisa di-dor dan senasib dengan gembong narkoba?

Sudah barang tentu apa yang dimunculkan Ahok mengusik ketenangan koruptor. Jangankan mereka, sebagian masyarakat juga banyak yang tidak suka dengan tindak-tanduk dan perangai Ahok. Alasannya itu tadi, Ahok tidak sopan. Urusan perang terhadap korupsi yang ditarik kepada persoalan etika, sopan santun dan moral itu menjadi bias. Bukan lagi bicara soal substansi melainkan sup basi.

Maklum mereka Yang Terhormat juga punya mekanisme sendiri untuk survive. Masa bisa kalah oleh Ahok seorang?. Begitu pikirnya. Maka apapun cara harus diambil, termasuk dengan membuang kemaluan. Boro-boro kalau mereka berani harakiri seperti orang Jepun. Mereka tidak sadar sudah banyak Ahok-Ahok lain yang ikut menggetarkan semesta saat ini. Ini baru permulaan. Tunggu saja kisah Siluman Yang Terhormat VS Ahok ini mau sampai kemana.

#‎SaveAhok‬

_/\_

Seruni, 080315

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.