Gara-Gara Kartono, Kartini Jadi Begini
Oh, baru tahu ternyata hari ini Kebaya Day. Seperti biasa Kartini bangun dari tidurnya. Setahun sekali, begini. Jadi, mau apa dengan peringatan Kebaya ini? Seremonial belaka? Seharusnya Kartini se tanah-air, tanah-api, tanah-angin Indonesia sudah tahu, bahwa berdasarkan fakta sejarah dan fakta kultural, satu dunia ini telah dibangun dengan konsep yang tidak fair. Barbarous!
Kartono sejak dahulu kala telah memaksakan kehendaknya diatas bumi ini untuk mengatur satu dunia dengan konsep maskulin. Itulah kenapa maskulinitas merajalela sampai ke tulang sunsum kehidupan. Begitu kejamnya Kartono, Tuhan pun harus di kasih stempel maskulin. Makanya Tuhan harus dipanggil sebagai Allah Bapa/Allah Papah, belum bisa dipanggil Allah Ibu/Allah Mamah. Kalaupun cuma dipanggil Allah tetap saja si Kartini harus disuruh duduk di belakang. Diam, dilarang bicara. Padahal selain masculinum, femininum, bisa jadi yang namanya Allah itu neutrum (shemale). Ini kerjaan Kartono sejak lama. Kartono mah gitu orangnya dari jaman baheula.
Oh, ternyata Kartini tidak dikasih tahu yang beginian, manggut-manggut dan diam saja. Biarlah, terserah Kartono mau bikin apa. Kartini ikut saja. Begitulah cara Kartono menguasai dunia, dari waktu ke waktu sampai hari ini. Sekali lagi, Kartini harus tahu ini biar tidak kena tipu lagi.
Bayangkan untuk urusan rumah tangga Kartono masih harus jadi raja, harus dipanggil sebagai kepala keluarga. Kartono buta, bahwa Kartini juga punya kepala. Mentang-mentang Kartono punya dua kepala, mau seenaknya saja. Dampaknya sungguh masive. Di negeri ini kepala Kartini masih sering diinjak-injak. Kegilaan Kartono ini membuat Kartini banyak juga yang ikut sakit jiwa.
Dan lagi-lagi pelampiasannya jatuh ke tunas-tunas bangsa. Baru bertunas, belum ngerti apa-apa, tapi dipaksa mengerti keadaan. Sampai begitu gilanya Kartini, bisa pukul anak-anak. Ada yang sampai mati juga. Ada yang buang anak kesana-kemari seperti buang ludah sembarangan. Kalau Kartini ditanya, jawabnya Kartono tak bertanggungjawab. Jadi gak ada bedanya dengan Kartono. So cruel!
Semua Kartini harus tahu, yang disebut masyarakat atau lingkungan sosial di negeri ini sudah pakai topeng Kartono sejak lama. Kalau mau ditarik lagi, salah satu sumbernya balik lagi ke paragraf diatas sana. Garis Kartono masih dominan berkuasa sana-sini. Bahkan telah dibuat garisnya sejak jaman nenek moyang a.k.a leluhur. Yang jantan yang perkasa, yang betina biar ngembek. Begitulah yang terjadi.
Lucunya, Kartini masih banyak suka yang jantan dan perkasa dengan seabrek-abrek asesoris yang melekat ditubuhnya. Termasuk yang paling baru berupa batu yang sudah jadi aki-aki. Satu jari harganya bisa buat beli sepuluh rumah untuk sepuluh Kartini. Memang, kalau lagi senang Kartini dibuai dengan kerlap-kerlip bintang di angkasa. Oh, Kartini mabuk kepayang, jadi lupa daratan. Kalau sudah bosan, Kartini babak belur. Seluruh tubuh biru semua. Ingatlah wahai Kartini bahwa kekejaman Kartono masih berkuasa dimana-mana bahkan dengan cara-cara yang paling halus. Awas, mawas!.
Jauh-jauh hari, R.A Kartini sudah kasih kode tentang ini untuk kaumnya. Tapi kini Ibu kita Kartini sudah tiada. Sudah jadi tanah. Tak cukup mengibarkan Kebaya dijalan-jalan. Kalau setiap tanggal 21 April cuma disuruh pakai kebaya sampai ke anak-anak PAUD, tapi tidak dijelaskan tipu muslihat Kartono yang telah membudaya, ya sama saja.
Kasihan Kartini-Kartini kecil itu. Kasihan juga Kartono-Kartono kecil yang tak tahu apa-apa, juga dipaksa jadi Kartono kejam ketika dewasa. Sebab faktanya Kartini jaman sekarang masih kalah score dengan Kartono. Bukannya tidak ada perlawanan dari Kartini, tapi karena Kartono-Kartono kecil telah tumbuh menjadi Kartono yang kejam, sejalan dengan perlawanan Kartini yang telah dilakukan selama ini.
Faktanya, walaupun sudah ada juga Kartini yang melek. Sudah banyak juga yang ngerti akal bulus Kartono. Tapi masih saja Kartini dianggap babu. Tak cukup membabu ditingkat nasional, banyak juga yang sudah internasional. Tapi apa mau dikatata. Ketika Kartini berangkat keluar negeri bawa Kebaya, eh Kartono malah ada yang suka main potong bebek angsa sambil nyanyi, serong ke kanan dan serong ke kiri.
Walaupun ada juga Kartini yang balas dendam dengan main potong bebek angsa dinegeri orang, tapi fakta lain sungguh mengenaskan. Kepala Kartini masih ada yang kena potong. Si Kartono disana sama gak pedulinya dengan Kartono disini. Nyanyi-nyanyi juga. Bisa serong ke kanan dan serong kekiri juga.
So, buat Kartono dan Kartini yang telah memiliki Kartono dan Kartini kecil. Katakan kepada mereka apa yang telah terjadi selama ini sejujur-jujurnya. Ini soal budaya yang harus diubah. Satu hal lagi, jika ada Kartono yang mengubah namanya menjadi Kartini namun tetap memilih berkepala dua, dan memakai kebaya, biarkan saja. Sama saja. Mungkin saja dia Allah. Tak perlu ada stigma yang keblinger lagi. Sekian dan terima kasih.
Salam Kartini. Merdekaaaaa!
_/\_
Seruni, 21-04-2015

Tidak ada komentar