Header Ads

ads

Hari-Hari, Kita Masih Di Bumi

Hari-Hari, Kita Masih Di Bumi

Sebuah pohon memang tidak bisa menyentuh batin manusia begitu dalam. Namun pernahkah kita sempat bertanya kepada sebuah pohon, apa tujuan pohon itu hidup?. Mungkin tidak. Kalaupun pernah, untuk apa? Karena sebuah pohon yang hidup puluhan bahkan ratusan tahun tak akan pernah memberi jawaban tentang itu. Tidak akan pernah!.

Lalu, pentingkah bertanya kepada sesuatu yang tak bisa menjawab? Kepada siapakah kita sungguhnya bertanya, kepada pohon itukah atau justru kepada diri sendiri. Pertanyaan menjadi reaksi batin yang melibatkan pikiran dan perasaan, dan seharusnya utuh. Namun satu-satunya mata yang jarang, atau bahkan sama sekali tak pernah dipakai adalah mata batin. Mata buta, dibutakan atau pura-pura buta.

Pikiran selalu menciptakan keinginan, kepentingan, maksud, dan tujuannya sendiri. Keinginanku/tujuanku lebih penting ketimbang sebuah pohon. Karena "aku" buta, tamatlah sebuah pohon yang hidup ratusan tahun itu. Aku menebangnya dengan enteng dan tumbang dalam sekejap demi memenuhi keinginanku, demi kepentinganku, demi keuntunganku, demi tujuan hidupku. Lalu aku menari-nari.

Ini baru soal satu pohon. Baru satu saja, belum satu rimba raya. Masih ada satu Boemi dengan segala isi luar dalamnya.

Selamat Hari Boemi.

_/\_

Seruni, 2201415

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.