Header Ads

ads

Ulang Tahun Kedelapan

(Sebuah Catatan Memorial Mengenang Angeline dan Arie Hanggara)

Ulang Tahun Ke Delapan

Diam-diam saya mengikuti pemberitaan tentang Angeline, anak mungil nan malang itu. Dan waktu pertama kali mengetahui berita mengenai penemuan jenasahnya, mata ini berkaca-kaca. Seperti ada dorongan, entah dari mana, membuat saya harus menerawang jauh ke belakang tentang kisah serupa yang pernah terjadi dimasa lalu. Lalu munculah sebuah nama dikepala, Arie Hanggara.

Kurang lebih 31 (tiga puluh satu) tahun lalu bocah kecil bernama Arie Hanggara terpaksa menemui ajal setelah mendapat perlakuan kasar bertubi-tubi dari orang tuanya. Tindak kekerasan yang diterimanya membuat ia tak kuat untuk bertahan lebih lama. Ia tak mampu melewati semua peristiwa yang menyakitkan itu dan terpaksa menyerahkan hidupnya pada kematian.

Walaupun media masih sangat terbatas pada TV (audio-visual hitam-putih), radio dan majalah seperti Tempo, namun nama Arie Hanggara sempat menjadi trending topic nasional pada era itu. Tempo sempat memuat judul yang cukup panjang dihalaman mukanya, "Arie namanya. Ia mati dihukum ayahnya. Mungkin anak kita tidak. Tapi benarkah kita tidak kejam?".

Belakangan saya baru tahu, ternyata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Nugroho Notosusanto, sempat berniat membuat patung Arie Hanggara sebagai peringatan agar kasus serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Akan tetapi niat itu batal dan tak pernah terealisasi sampai hari ini. Oh, andai saja saat itu Arie Hanggara bisa melewati semuanya dan selamat, maka hari ini ia akan melihat, bahwa anak-anak Indonesia masih banyak yang mengalami tindak kekerasan dari orang tua/dewasa, bahkan dari lingkungan tempat dimana mereka hidup.

Dulu saya tidak tahu persis bagaimana kisah yang sebenarnya mengenai Arie Hanggara ini. Sebab pada saat peristiwa kematiannya di tahun 1984, umur saya baru 5 tahun, masih kanak-kanak dan tentu saja belum ngeh tetang peristiwa semacam ini. Namun seiring perjalanan waktu, saya ingat nama Arie Hanggara memang sempat menjadi buah bibir banyak orang walaupun saya tetap tidak tahu siapa dia sebenarnya. Hanya namanya saja yang saya ingat, tapi saya tetap tidak mengerti kisah dibalik nama itu.

Saya juga tidak ingat kapan persisnya nama Arie Hanggara mulai tersimpan di kepala ini. Yang jelas sejak mendengar berita penemuan jenasah Angeline kemarin, seperti ada sesuatu yang membawa isi kepala ini ke masa lampau. Saya berusaha mengingat kembali cerita yang hilang tentang Arie Hanggara. Akhirnya untuk menuntaskan rasa penasaran, saya mencoba mengais kembali informasi mengenai peristiwa tragis 31 tahun lalu itu guna menggali lebih dalam apa saja yang saya ingat tentang nama Arie Hanggara.

Ternyata ada satu link berita yang menceritakan kembali kisah Arie Hanggara. Setelah membaca kisahnya, kembali mata ini menjadi berkaca-kaca. Saya diam sejenak, menarik nafas panjang sembari menerawang jauh ke belakang. Samar-samar otak ini mengumpulkan potongan-potongan kenangan yang masih tersisa tentang nama Arie Hanggara. Oh, ternyata saya masih ingat bahwa kisah Arie Hanggara ini pernah diangkat di dalam sandiwara radio.

Di jaman SD dulu, biasanya sehabis pulang sekolah, saya sering main ke rumah teman. Apalagi kalau pas musim permainan gambar, gelang karet, kelereng, layangan atau yang lainnya, kami sesama anak-anak sering bertemu, ngumpul dan bermain dirumahnya. Keluarga mereka memiliki halaman yang cukup luas sehingga anak-anak sangat leluasa memanfaatkan halaman tersebut untuk bermain dan bermain.

Di rumah itu ada sebuah radio. Dan seperti kita ketahui di era tahun 80an, radio adalah salah satu barang andalan selain TV (hitam-putih, seperti lemari) yang sangat berguna untuk mendengarkan berita dan hiburan. Radio di rumah teman itu adalah radio yang saya suka. Bukan karena radionya (karena di rumah juga ada radio merk National), melainkan karena kualitas audionya. Yang menarik, bunyi radio teman saya selalu terdengar lebih jernih ketimbang radio dirumah. Mungkin tangkapan frekwensinya yang pas kena sasaran.

Tapi karena masih SD, bagi saya tidak penting sibuk-sibuk nyetel frekwensi radio di rumah sendiri. Yang jelas kalau mau dengar sandiwara radio, maka rumah teman saya adalah tempat yang paling tepat saat itu. Sambil asyik bermain, kita bisa sekalian mendengarkan radio di halaman rumahnya, tentu dengan volume yang sengaja di besarkan. Maklum, dulu kita adalah pendengar setia sandiwara radio seperti; Tutur Tinular, Babat Tanah Leluhur, Mahkota Mayangkara, termasuk salah satu diantaranya adalah sandiwara yang mengangkat kisah nyata tentang Arie Hanggara. Itulah sedikit cerita masa kecil yang mungkin tidak lagi atau jarang sekali dialami oleh anak-anak generasi sekarang.

Dari sinilah memori tentang anak yang malang itu dimunculkan kembali. Sandiwara radio yang mengangkat nama Arie Hanggara ternyata masih nempel di dalam kepala ini setelah tertidur sekian lama. Dan peristiwa Angeline kemarin telah menjadi pemicu yang me-recall kenangan yang tersimpan dibalik nama Arie Hanggara. Dia yang telah pergi selamanya sejak 31 tahun lalu, terlipat oleh waktu menjadi sebuah catatan buram tentang kehidupan anak-anak Indonesia kala itu. Banyak orang terperangah dengan kejadian yang dialami Arie Hanggara. Kisahnya telah menjadi inspirasi bagi beberapa orang untuk mengangkat namanya, tidak hanya melalui majalah, radio atau televisi akan tetapi sampai ke layar lebar.

Sedangkan kisah pilu yang menimpa Angeline beberapa hari yang lalu, telah berubah menjadi sebuah pesan yang terpaksa disampaikan kembali melalui peritiwa kematian. Apa mau dikata, ternyata setelah 31 tahun kematian Arie Hanggara, kekerasan terhadap anak-anak di negeri ini belum juga sirna. Bahkan dalam rentang waktu 31 tahun itu, entah berapa banyak anak-anak mengalami nasib serupa. Ada yang terliput oleh media, namun banyak pula yang tenggelam begitu saja. Cerita tentang penderitaan dan kematian mereka menjadi peristiwa yang paling sunyi dan tak akan pernah terungkap.

Belum tuntas proses hukum mengenai kasus penelantaran anak oleh orang tuanya di komplek perumahan elit beberapa waktu yang lalu, hari ini kita mendengar kabar bahwa anak manis bernama Angeline, yang baru berusia 8 tahun itu telah ditemukan tak bernyawa.

Walaupun satu persatu latarbelakang kematiannya mulai diungkap ke publik, akan tetapi saya atau mungkin kebanyakan dari Anda tidak tahu persis apa yang dirasakan Angeline selama ini. Kita tidak tahu bagaimana Angeline melalui hari-hari yang dipenuhi dengan ketakutan. Angeline sendirilah yang paling tahu kondisi batinnya, sebab kita tidak pernah berada dalam situasi yang sama persis seperti yang dialami Angeline.

Gambar wajahnya yang dipenuhi dengan senyuman, dan telah bersliweran di berbagai media, seakan-akan menutupi setiap bulir penderitaan yang mungkin pernah membanjiri pelupuk matanya. Bulir-bulir derita, entah itu akibat kekerasan fisik maupun psikis telah menjadi misteri yang tetap harus diungkap secara jujur kepada publik, sampai benar-benar tuntas. Proses hukum harus diteruskan sampai selesai dan tentunya harus transparan.

Saya sendiri membayangkan, mungkin pernah ada saat-saat dimana Angeline hanya mampu berserah pada airmata sebagai satu-satunya cara yang dapat ia lakukan dalam mengungkapkan luka batinnya selama ini. Dan kita juga tidak tahu ketika ia mengadu entah kepada siapa mengenai jalan nestapa yang harus ia lalui. Kita tidak pernah mendengar setiap detik ratapan Angeline sampai pada hari terakhir ia ditanam di lubang penghinaan itu. Atau bisa jadi kepolosan Angeline sebagai anak-anak membuat ia tak pernah menduga bahwa nyawanya akan diselesaikan secepat ini melalui cara-cara kekerasan. Manakala sukacita sebagai anak-anak belum sempat purna, ia justru terjebak dalam kegilaan orang dewasa yang berada di sekitarnya.

Saat ini, saya dan juga Anda hanya disodorkan fakta bahwa anak manis itu sudah tiada. Ia telah berpulang untuk selamanya, sama seperti yang dialami Arie Hanggara 31 tahun lalu. Dan seperti kita tahu bahwa kisah yang dialami Angeline serupa dengan kisah Arie Hanggara. Setidaknya substansi masalahnya sama, yaitu sebagai akibat dari tindak kekerasan yang tak sanggup ia lawan dengan jiwa-raganya sebagai anak-anak. (Baca juga : "Goodbye" Itu Ikhlas)

Dari sisi pemberitaan, kisah Angeline juga kurang lebih sama seperti pemberitaan tentang Arie Hanggara, begitu gegap gempita dan sangat menyita perhatian publik. Apalagi kabar mengenai hilangnya Angeline beberapa minggu terkahir begitu gencar diberitakan oleh berbagai media yang jauh lebih ramai ketimbang era 80an.

Pemberitaan mengenai hilangnya Angeline, sampai pada penemuan jenasahnya tidak hanya dikabarkan melalui televisi, radio, atau surat kabar melainkan juga melalui threads di berbagai media online, forum dan jejaring sosial dimana pada era 80an hal semacam ini belum ada. Jadi wajar saja banyak masyarakat menjadi tahu. Bahkan tidak sedikit pula yang shock dengan kejadian ini. Bagaimana tidak, kisah Angeline yang ditunggu-tungu, dengan harapan anak itu segera ditemukan dengan selamat ternyata harus berakhir dengan unhappy ending.

Berbagai macam ekspresi kekecewaan, kesedihan, kemarahan yang berisi sumpah serapah kepada orang tua asuh dan siapa saja yang terlibat dalam kematian Angeline, termasuk ucapan bela sungkawa, terus berdatangan memenuhi kolom komentar di berbagai media. Akan tetapi semua itu seakan terlambat, sebab Angeline yang mungil itu tak akan pernah kembali lagi.

Seperti halnya Arie Hanggara, Angeline telah menjadi juru bicara. Seakan-akan Angeline sedang bicara tentang banyak anak-anak yang mengalami nasib serupa dengannya, akan tetapi hal itu harus ia sampaikan melalui kematiannya yang begitu senyap. Kematian Angeline telah menjadi pesan yang hidup dan menancap begitu dalam ingatan siapapun di negeri ini, bahwa violence against children masih kerap terjadi dan membuat kita seringkali kecolongan.
"Ayah, Ibu, Om, Tante, Oma, Opa, Kakak, lindungilah kami anak-anakmu ini. Jangan lagi perlakukan kami seperti ini. Ijinkan kami menikmati sukacita sebagai anak-anak bumi. Hiburlah kesedihan kami. Peluklah kami.

Biarkanlah kami bermain dengan gembira, sama seperti kalian yang pernah menjadi seorang anak, dan tetap akan sebagai anak, yaitu anak-anak kehidupan ini. Ijinkan kami "bertumbuh" bersama kalian.  

Mungkin saja dimasa kecil kalian pernah mengalami kekerasan demi kekerasan. Akan tetapi "please", berusahalah untuk tidak menjadikan kenangan itu sebagai alasan untuk melakukan "balas dendam" pada anak-anakmu, pada cucu-cumu, pada cicit-cicitmu dan pada generasi setelah cicit dari cicitmu.


Kami sebagai anak-anak mungkin tidak akan pernah tahu "kegilaan" apa yang telah merasuki kalian selama ini. Yang kami tahu bahwa pertanyaan akhir itu selalu muncul, mengapa kami harus menanggung "kepedihan" yang selalu kalian ciptakan terhadap kami?."   
Kematian Angeline suka tidak suka telah menjadi tanda peringatan untuk kesekian kalinya. Ia menjadi simbol penderitaan bagi anak-anak lain yang mengalami kisah serupa dengannya. Saya sendiri yakin bahwa di luar sana, masih banyak anak-anak yang mengaduh kesakitan akibat kekerasan yang dilakukan oleh orang yang lebih dewasa, apapun sebutannya. Di luar sana, masih banyak anak-anak yang hidup dalam ketakutan yang berkepanjangan. Di luar sana banyak anak-anak yang tak bisa menikmati dunia mereka sendiri yang seharusnya menyenangkan. Dan diluar sana, banyak anak-anak dibungkam dengan ancaman agar mereka tak mampu melawan.

Di luar sana, masih banyak para orang tua yang menyiksa anak-anak dan dengan mudah menuduh mereka sebagai anak nakal. Namun ketika para orang tua berbuat nakal, bahkan itu dilakukan secara diam-diam, anak-anak tidak boleh tahu. Anak-anak diwajibkan tutup mata dan telinga, dilarang protes dan selalu disemprot dengan doktrin tentang anak durhaka atau kualat. Pokoknya orang tua pasti selalu benar. Kalaupun salah dimata anak, maka peraturannya harus dikembalikan ke pasal 1. Anak-anak dituntut harus mengerti orang tua, dan orang tua tabu untuk mengerti anak-anak. (Baca juga : Lembaga Rasa Takut)

Mengapa superioritas orang tua/dewasa masih begitu kental terasa di dalam keluarga Indonesia? Sebab cara pandang, atau konsep yang dipakai untuk membesarkan anak seperti yang saya sebutkan di atas telah menjadi budaya dan diwariskan secara turun-temurun seperti itu. Bahkan kekerasan itu sendiri telah menjadi barang warisan. Seringkali kekerasan itu sendiri terlihat seperti penyakit menular dan sulit untuk disembuhkan. Arie Hanggara dan Angeline adalah bukti bahwa seringkali anak-anak yang tak tahu apa-apa harus terjebak dalam konflik dan kepentingan orang yang lebih dewasa.

Bagi Angeline, boneka di dalam liang penghinaan itu adalah satu-satunya sesuatu yang menjadi teman untuk terakhir kali. Ironis, seharusnya anak-anak seusia itu mendapatkan pelukan yang melimpah dari orang dewasa disekitarnya. Namun ia justru ditemukan meregang nyawa sambil memeluk boneka yang tak dapat bicara. Entahlah, walau belakangan tersiar kabar bahwa boneka itu merupakan bagian dari akting si antagonis. Akan tetapi agaknya kita bisa sedikit meraba, bahwa bagi Angeline tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa didekapnya guna mendapatkan perlindungan untuk melewati detik-detik paling menakutkan diakhir hidupnya.

Andai saja boneka itu bisa bicara, mungkin akan banyak keterangan yang paling jujur tentang apa yang terjadi pada Angeline pada detik-detik terakhir hidupnya. Sebab apa yang telah diusahakan untuk menyelamatkan hidup Angeline seakan tumpul dihadapan maut. Negara sekalipun melalui alat-alatnnya tak juga berdaya menunda kematian anak manis itu.

Sekarang yang tersisa hanyalah pusara Angeline yang kesepian. Mungkin pusara itu akan mengalami kisah yang sama seperti pusara Arie Hanggara yang konon kabarnya tak lagi terurus. Terbengkalai begitu saja seperti sampah. Jika saja Angeline bertemu dengan kakaknya Arie Hanggara saat ini, maka mungkin saja Arie Hanggara akan menjadi salah satu manusia dewasa di dimensi lain, yang akan memeluk dan memberi penghiburan kepada Angeline. Sebab bisa jadi bukan kebetulan, saat ajal menjemput, usia mereka berdua kurang lebih sama, 8 tahun.

Kisah Arie Hanggara dan Angeline, hanyalah secuil dari kenyataan di lapangan, bahwa anak-anak di dalam keluarga Indonesia masih banyak yang hidup dalam kondisi yang tidak aman. Entah kapan kejadian semacam ini akan berakhir? Atau setidaknya Indonesia menjadi salah satu negara yang bisa dikatakan relatif steril dari tindak kekerasan. Saya katakan relatif karena untuk mencapai keadaan nihil kekerasan terhadap anak itu agaknya cukup sulit. Nampaknya masih akan ada lagi peristiwa semacam ini terjadi ditengah-tengah kita. Wallahu A'lam.

Requeiscat In Pace, Angeline. Bersuka citalah bersama kakakmu Arie Hanggara. Wajahmu telah menjadi warisan semesta yang paling indah, dan akan senantiasa tertancap dalam ingatan kami. Seandainyapun negara ini tak mampu membuatkan patung peringatan untuk mengenang kepergianmu, biarlah kami jadikan kepala kami sendiri sebagai batu nisan, sebab kisahmu telah terukir sebagai catatan kehidupan. Dan di sanalah seharusnya kesadaran kami pergi berziarah di masa depan agar kemanusiaan itu menjadi lebih baik dari hari ini. Selamat jalan dan berbahagialah Dik.

_/\_

Seruni, 14-06-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.