Awas, Kena Sial !
Agaknya di hampir setiap daerah di Kalimantan, istilah Kepuhonan di salah satu daerah di Kalimantan Timur itu memang ada. Kepuhonan adalah suatu bentuk kepercayaan masyarakat adat (lokal) dimana seseorang akan mendapatkan sial/tulah jika menolak tawaran makan atau minum dari orang lain. Di Kalimantan Barat, khususnya bagi Suku Dayak, sub etnik Kanayatn, istilah Kepuhonan itu disebut Sumpanan. Maksudnya sama.
Ini adalah bagian budaya lokal saja. Ada belief system di dalamnya yang bekerja sampai ke alam bawah sadar masyarakat (lokal). Jika suatu budaya sudah mempengaruhi cara berpikir masyarakat dalam banyak hal (kejiwaan), maka masayarakat tersebut akan sangat melekat dengan apa yang ia percaya. Semakin ia mempercayai sesuatu di dalam budayanya (dalam hal ini Kepuhonan/Sumpanan), maka kemungkinan terjadi sial itu bisa saja. Vibrasi pikiran seolah-olah akan menarik sesuatu, dan terjadilah sesuatu itu.
Bahkan di sini, kesialan Kepuhonan/Sumpanan sangat dipercaya bisa terjadi kepada diri sendiri tanpa harus ada orang lain yang terlebih dahulu menawarkan makan/minum. Maksudnya, jika kita sendiri menolak/mengabaikan keinginan yang muncul seketika dari pikiran kita, maka kepuhonan/sumpanan itu bisa terjadi. Begitu kepercayaannya.
Misalnya saat saya mengendarai sepeda motor dalam sebuah perjalanan, lalu di tengah perjalanan itu pikiran menciptakan keinginan, ingin minum/makan. Lalu seketika itu juga pikiran menciptakan hal lain berupa pengabaian. "Ah, nanggung, ntar aja di rest area (atau apalah)". Nah, kalau sudah begini bakal kepuhonan/sumpanan. Katanya begitu.
Makanya disini ada nasehat, kalau kamu sedang berkendara, lalu ditengah jalan kepikiran untuk makan/minum, maka sebaiknya berhenti dulu. Penuhi segera keinginan tersebut. Lalu, gimana donk kalo pas ndak ada warung atau belum ingin berhenti?. Dulu alm nenekku sering ngingatin, "Cu, kalo kamu tak ingin kena sial, maka pada saat kamu sedang berkendara lalu di tengah jalan kepikiran untuk makan/minum tapi kamu belum hendak berhenti sampai tempat yang akan di tuju, maka jilatlah telapak tanganmu".
Lama juga mikirnya. Apa hubungannya dengan menjilat telapak tangan bisa terhindar dari kepuhonan/sumpanan? Belakangan baru tahu sendiri bahwa itu hanya simbolik saja. Boleh dilakukan boleh juga tidak. Menjilat telapak hanyalah salah satu trik sederhana untuk mengembalikan konsentrasi pada saat berkendara. Dengan menjilat telapak tangan, kita ingat lagi bahwa kita sedang membawa kendaraan. Dengan mengingatkan diri sendiri, kesadaran pun difokuskan kembali pada aktivitas berkendara tersebut. Jangan sampai konsentrasi menjadi "buyar" karena terus mikir mau makan/minum. Apalagi sambil clingak-clinguk nglirik warung gak nemu-nemu, eh malah nabrak truk parkir di depan.
smile emoticon
Lalu, bagaimana dengan menolak tawaran dari orang lain. Adakah syarat yang harus di penuhi? Tentu ada. Namanya juga budaya. Jika kamu ditawari makan/minum tapi kamu sedang tidak berkeinginan untuk makan/minum, maka kamu harus melakukan majopes/jopes/malopes (Dayak Kanayatn). Majopes adalah sebuah tindakan yang dilakukan dengan "meyentuh" makanan/minuman yang ditawarkan dengan tangan (setidaknya dengan jari) sambil mengatakan kalimat penolakan dengan cara yang pantas.
Misalnya saat kamu ditawari makan, tapi saat itu kamu sedang tidak ada selera atau sedang kekenyangan, maka sentuhlah nasi atau apa saja yang ditawarkan itu. Atau lebih baik lagi, ambil paling sedikit sebiji nasinya, lalu makanlah sambil mengucapkan kalimat penolakan yang pantas. Mau mengucapkan kalimat penolakan atau menyentuh terlebih dahulu tidaklah masalah. Yang penting keduanya harus dilakukan. Kalau tidak, maka bisa kepuhonan/sumpanan.
Jadi sekali lagi ini hanyalah masalah kepercayaan saja. Tentu hal ini domainnya pikiran. Sebab di banyak suku bangsa, khususnya Indonesia, ada kepercayaan yang kurang lebih mirip. Dan bagi masyarakat modern tentu tidak ada belief system seperti ini. Mungkin bagi masyarakat modern, kepercayaan seperti ini akan terkesan lucu dan gak nyambung. Ya tentu saja. Sebab masyarakat modern tak mengenal apa itu Kepuhonan/Sumpanan. Para bule Amrik misalnya, mana ngerti soal kepercayaan ini.
Namun bagi masyarakat adat (lokal) hal yang seperti ini masih sangat kental. Hampir setiap sendi kehidupan di dalam masyarakat adat selalu diatur menurut tradisi (leluhur). Ada nilai-nilai yang dipercaya sebagai bentuk kearifan. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang setengahnya lokal dan setengahnya lagi modern seperti kebanyakan orang Indonesia di kota-kota besar? Oh, tentu saja sangat tergantung pada individu masing-masing. Yang jelas dalam setiap budaya, terlebih yang melekat pada masyarakat adat (lokal) selalu tersimpan hal-hal bersifat simbolis yang nilai-nilainya bisa ditarik melalui kesadaran setiap individu.
Dah gitu aja. Terima setoran, ehh,. Terima kasih. Good Pagi :)
_/\_
Karimawatn, 21-08-2015
Ini adalah bagian budaya lokal saja. Ada belief system di dalamnya yang bekerja sampai ke alam bawah sadar masyarakat (lokal). Jika suatu budaya sudah mempengaruhi cara berpikir masyarakat dalam banyak hal (kejiwaan), maka masayarakat tersebut akan sangat melekat dengan apa yang ia percaya. Semakin ia mempercayai sesuatu di dalam budayanya (dalam hal ini Kepuhonan/Sumpanan), maka kemungkinan terjadi sial itu bisa saja. Vibrasi pikiran seolah-olah akan menarik sesuatu, dan terjadilah sesuatu itu.
Bahkan di sini, kesialan Kepuhonan/Sumpanan sangat dipercaya bisa terjadi kepada diri sendiri tanpa harus ada orang lain yang terlebih dahulu menawarkan makan/minum. Maksudnya, jika kita sendiri menolak/mengabaikan keinginan yang muncul seketika dari pikiran kita, maka kepuhonan/sumpanan itu bisa terjadi. Begitu kepercayaannya.
Misalnya saat saya mengendarai sepeda motor dalam sebuah perjalanan, lalu di tengah perjalanan itu pikiran menciptakan keinginan, ingin minum/makan. Lalu seketika itu juga pikiran menciptakan hal lain berupa pengabaian. "Ah, nanggung, ntar aja di rest area (atau apalah)". Nah, kalau sudah begini bakal kepuhonan/sumpanan. Katanya begitu.
Makanya disini ada nasehat, kalau kamu sedang berkendara, lalu ditengah jalan kepikiran untuk makan/minum, maka sebaiknya berhenti dulu. Penuhi segera keinginan tersebut. Lalu, gimana donk kalo pas ndak ada warung atau belum ingin berhenti?. Dulu alm nenekku sering ngingatin, "Cu, kalo kamu tak ingin kena sial, maka pada saat kamu sedang berkendara lalu di tengah jalan kepikiran untuk makan/minum tapi kamu belum hendak berhenti sampai tempat yang akan di tuju, maka jilatlah telapak tanganmu".
Lama juga mikirnya. Apa hubungannya dengan menjilat telapak tangan bisa terhindar dari kepuhonan/sumpanan? Belakangan baru tahu sendiri bahwa itu hanya simbolik saja. Boleh dilakukan boleh juga tidak. Menjilat telapak hanyalah salah satu trik sederhana untuk mengembalikan konsentrasi pada saat berkendara. Dengan menjilat telapak tangan, kita ingat lagi bahwa kita sedang membawa kendaraan. Dengan mengingatkan diri sendiri, kesadaran pun difokuskan kembali pada aktivitas berkendara tersebut. Jangan sampai konsentrasi menjadi "buyar" karena terus mikir mau makan/minum. Apalagi sambil clingak-clinguk nglirik warung gak nemu-nemu, eh malah nabrak truk parkir di depan.
smile emoticon
Lalu, bagaimana dengan menolak tawaran dari orang lain. Adakah syarat yang harus di penuhi? Tentu ada. Namanya juga budaya. Jika kamu ditawari makan/minum tapi kamu sedang tidak berkeinginan untuk makan/minum, maka kamu harus melakukan majopes/jopes/malopes (Dayak Kanayatn). Majopes adalah sebuah tindakan yang dilakukan dengan "meyentuh" makanan/minuman yang ditawarkan dengan tangan (setidaknya dengan jari) sambil mengatakan kalimat penolakan dengan cara yang pantas.
Misalnya saat kamu ditawari makan, tapi saat itu kamu sedang tidak ada selera atau sedang kekenyangan, maka sentuhlah nasi atau apa saja yang ditawarkan itu. Atau lebih baik lagi, ambil paling sedikit sebiji nasinya, lalu makanlah sambil mengucapkan kalimat penolakan yang pantas. Mau mengucapkan kalimat penolakan atau menyentuh terlebih dahulu tidaklah masalah. Yang penting keduanya harus dilakukan. Kalau tidak, maka bisa kepuhonan/sumpanan.
Jadi sekali lagi ini hanyalah masalah kepercayaan saja. Tentu hal ini domainnya pikiran. Sebab di banyak suku bangsa, khususnya Indonesia, ada kepercayaan yang kurang lebih mirip. Dan bagi masyarakat modern tentu tidak ada belief system seperti ini. Mungkin bagi masyarakat modern, kepercayaan seperti ini akan terkesan lucu dan gak nyambung. Ya tentu saja. Sebab masyarakat modern tak mengenal apa itu Kepuhonan/Sumpanan. Para bule Amrik misalnya, mana ngerti soal kepercayaan ini.
Namun bagi masyarakat adat (lokal) hal yang seperti ini masih sangat kental. Hampir setiap sendi kehidupan di dalam masyarakat adat selalu diatur menurut tradisi (leluhur). Ada nilai-nilai yang dipercaya sebagai bentuk kearifan. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang setengahnya lokal dan setengahnya lagi modern seperti kebanyakan orang Indonesia di kota-kota besar? Oh, tentu saja sangat tergantung pada individu masing-masing. Yang jelas dalam setiap budaya, terlebih yang melekat pada masyarakat adat (lokal) selalu tersimpan hal-hal bersifat simbolis yang nilai-nilainya bisa ditarik melalui kesadaran setiap individu.
Dah gitu aja. Terima setoran, ehh,. Terima kasih. Good Pagi :)
_/\_
Karimawatn, 21-08-2015

Tidak ada komentar