Header Ads

ads

Rayuan Pulau Kelapa

Rayuan Pulau Kelapa

Dari tadi duduk di sini, melihat keramaian. Manusia lalu lalang dijalan menyaksikan sedikit perlombaan bernama pesta rakyat. Mereka adalah kebanyakan manusia Indonesia yang tinggal di kampung-kampung. Setahun sekali Kecamatan ramai saat 17 itu biasa.

Dalam segelas kopi ini sebuah tanya muncul, sebenarnya apa yang ada di dalam batin mereka-mereka ini? Ibu-ibu yang rela menggendong anak-anak mereka dengan berteman terik matahari. Bapak-bapak yang memboyong keluarganya. Kakek-Nenek yang masih kuat menginjak aspal panas yang tak rata dan berpasir. Ada yang mulai mengadukan dahaga kepada segelas cendol dan beberapa cemilan dadakan 17. Mungkin kemerdekaan mulai lapar dan harus jaga stamina untuk kembali ke kampung. Ada juga yang membawa belanjaan. Shopping ala desa setiap 17 Agustus.

Macam-macam gaya. Macam-macam raut muka. Macam-macam ekspresi. Dan sejauh ini, itulah Indonesia yang kulihat. Apakah Kemerdekaan memiliki arti bagi mereka? Apakah mereka manusia merdeka? Entahlah. Tak ada hal lain yang kutangkap kecuali bahwa apa yang mereka rayakan adalah simple happiness versi mereka sendiri. Sebab definisi kemerdekaan apapun mungkin saja tidak akan relevan dengan kenyataan yang mereka hadapi.

Sesaat menulis ini, paman pun memutar radio kesayangannya. Seperti sebuah kebetulan. Terdengarlah backsound Rayuan Pulau Kelapa" dari Ismail Marzuki melalui RRI Pro1. Oh, sejak jaman "penjajahan" dulu radio memang telah menjadi simbol kesederhanaan sekaligus Kekuatan. When You're Happy, then You'll feel Free.
RAYUAN PULAU KELAPA
Ciptaan: Ismail Marzuki

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Reff:

Melambai lambai
Nyiur di pantai
Berbisik bisik
Raja Kelana

Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah Airku
Indonesia

#‎Salam70‬

_/\_

Karimawatn, 17-08-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.