Header Ads

ads

Evolusi Paru-Paru

Evolusi Paru-Paru

Andai saja kabut asap ini adalah senjata biologis, maka kami sudah mati sejak hari kemarin. Peristiwa ini akan tercatat sebagai sejarah kematian masal paling menyenangkan abad ini. Mengapa? Karena kematian ini tidak ribet. Tidak ada lagi siapapun yang merasa berduka, tak ada siapapun yang akan menggali kubur, siapa yang akan melakukan kremasi, siapa yang akan mendoakan arwah, siapa yang akan memperingati 7 hari kematian dan seterusnya. Sebab semuanya telah mati. Termasuk janin yang tak sempat menyapa Bumi. Setiap arwah pun menangis, tak sempat membawa persediaan masker di alam baka.

Lalu siapakah yang selamat? Tidak ada. Kecuali mereka yang sedikit punya waktu untuk menunda kematian. Merekalah yang sempat bersenandung sembari menyaksikan nyawa-nyawa tumbang tiba-tiba. Mereka ini tidak banyak. Hanya beberapa kepala saja. Bisa jadi, mereka inilah si pemilik senjata bilogis itu. Namun setelah kekenyangan mereka juga mati. Kematian mereka tak lagi fenomenal. Sebab Bumi telah sepi. Sunyi dari segala puja-puji. Saat mereka tiada, senjata-senjata pun berkemas. Bumilah yang menyembuhkan dirinya sendiri.

Tapi ternyata kami belum mati. Sembari menunggu hujan asli datang, sebaiknya mulai saat ini kami harus berevolusi menjadi makhluk yang bisa bernafas dengan gas yang lebih banyak mengandung CO2. Inilah yang mau tidak mau harus disyukuri. Dengan demikian, besok kami tak lagi canggung pindah ke planet lain yang tak memiliki O.

Karimawatn, 25-09-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.