Ada Saatnya, Bicaralah!
Beberapa waktu lalu saya kedatangan seorang kawan. Oh, kawan lama yang sudah long time no see, long time no ngobrol, dan long lime no ngopi. Time is too long. Namun seringkali terasa too short juga. Eh, tahu-tahunya ketemu lagi kita. Semesta memang punya caranya sendiri mempertemukan dua kepala dan dua jantung. Bahkan seringkali banyak kejadian dalam hidup ini seperti sebuah kebetulan. Tapi sebenarnya tak ada yang kebetulan.
Ternyata si kawan lama ini sudah lama kepikiran untuk bertemu. Makanya terakhir di BBM segera saya suruh mampir ke rumah. Tentu saja saya siap menyeduhkan kopi. Oh ya, kopi itu selalu cukup buat temannya rokok. Itu sebabnya ada istilah kopi darat yang artinya Let's Talk. Mari kita bicara dalam secangkir kopi. Dan jika memang ada yang harus 'dilepaskan' seperti kebulan asap rokok yang lenyap seketika, maka lepaskanlah. Ya, lepaskanlah.
Nyolong kata-kata David Lynch, "Even a bad of coffee is better than no coffee at all". Setuju dengan David Lynch atau tidak bukan masalah. Apalagi bagi Kamu yang anti kopi juga anti rokok. Silahkan saja, Kamu boleh ajak teman-teminmu ngeteh darat, ngejus darat, nyusu darat, atau mungkin alkodar alias alkohol darat Oh, istilah baru. Whatever lah.
Bahkan tak ada bedanya dengan Kamu yang suka mengajak atau diajak makan-makan. Sing penting Kamu enjoy dan tidak mengganggu ketertiban masyarakat. It's orapopo. Toh, pada akhirnya bukan soal apa yang masuk ke dalam mulut, melainkan apa yang bisa dikeluarkan dari dalam pikiran. Sebab kopi darat atau nasi darat itu cuma untuk membangkitkan momen. Syukur-syukur itu moment bisa membuahkan sesuatu.
Kopi darat itu kan artinya ketemuan bro?. I don't think so! Bertemu tapi tidak bicara itu buat apa, kecuali hanya sekedar praktek jadi patung. Kita ini bukan manekin. Memang, yang setiap hari kopi darat serumah bahkan setempat tidur saja belum tentu setiap saat saling bicara. Ndak percaya? Cobalah tanya pada rumput yang berdangdut.
Namun bicara di jaman ini tak selalu harus bertemu batang hidung. Ndak masalah batang hidung masing-masing entah ada dimana. Karena bicara di era jarnet ini sudah bisa dilakukan dengan saling bertemu huruf dilayar kompi/lepi atau di layar gadget. Atau bisa juga dengan nempelin gadget segede batu bata itu di telinga masing-masing. Agar terjadi pertukaran swara, yang hakikatnya adalah tukar-menukar pikiran juga.
Yang penting bicaralah. Keluarkan isi dalam kepala. Syaratnya cuma satu, tak perlu saling memaksa. Bicaralah, bisa dengan cara membunyikan pikiran melalui mulut atau dengan merangkai huruf-huruf agar bisa dibaca lawan bicara. Sebab ternyata saling bicara juga bisa diniatkan untuk memperoleh kesembuhan. Khususnya bagi yang merasa tertekan jantungnya. Cara ini gratis, ndak perlu bayar Psikiater.
Setelah memahami pentingnya bicara, maka suatu saat akan tahu bahwa ada saatnya diam saja. Mengamati saja. Diam disini bukan soal mulut berhenti membuyikan pikiran agar tidak lagi didengar orang lain. Bukan pula soal jari tangan yang mogok mijitin keypad merangkai pikiran melalui huruf agar bisa dibaca orang. Tapi Diam disini adalah sungguh-sungguh tentang Dirimu. Kamu yang bicara dengan Dirimu sendiri (self talk), tentang banyak hal ihwal kehidupan. Tak perlu komat-kamit, cukup mingkem saja, otak tetap akan bicara. Sambil buang hajat pun pikiran tetap bicara. Kamu sendirilah yang melepaskan setiap silent words itu keluar dari pikiranmu dan menyatu dengan Kamu yang sesungguhnya. Kalau sudah menyatu, maka Kamu akan tahu bahwa Semesta ini pun selalu bicara. Dahulu, Kini dan Sepanjang masa.
Ameen
_/\_
Karimawatn, 01-10-2015

Tidak ada komentar