Header Ads

ads

Intisari Tajok

Intisari Tajok
"Bukan kita yang cari arak, tapi arak yang cari kita. Kita marah dia, dia marah kita."
Itulah penggalan kalimat beraroma alkohol di malam kemarin. Serupa malam-malam yang lalu. Angin yang kering di Musim Api.

Apakah kebetulan ketika jiwa-jiwa itu datang menemui diri malam itu?. Sedangkan embun masih enggan memeluk asap ketika sebuah ironi jatuh dan pecah ke dalam dada?. Oh, ini adalah kisah yang biasa bagi dunia. Namun serupa badai bagi sebuah jiwa yang berharap keabadian.

Hanya dengan hikmat, pikiran mampu melenyapkan dorongan untuk jackpot. Gelas-gelas yang duduk dalam hening. Menyaksikan abu berlalu. Pergi meninggalkan bibir-bibir kering tanpa pesan apapun.

Tema kehidupan yang berat, sekaligus juga ringan. Ringan mengapung, sekaligus tenggelam ke dasar. Tawa yang bermuara pada jantung yang menangis. Dan airmata berubah menjadi tabib yang menyembuhkan.

Memang, kelenjar di kepala yang tak lagi dapat tertidur, telah membiakkan tema kehidupan. Tentang pentingnya intuisi, komunikasi empatik, juga tentang bagaimana meracik penawar bagi batin yang tak lagi utuh. Jalan paradoksal yang harus dijalani apa adanya. Terus-menerus. Sampai semuanya terkikis pelan-pelan dan kemudian tampak biasa-biasa saja. Ya, biasa-biasa saja.

Sebab, segalanya akan berlalu. Berubah menjadi baru. Demikianlah Roh, tak lagi terkurung dalam dunia 3 Dimensi.

_/\_

Karimawatn, 18-09-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.