Header Ads

ads

Spiritualitas Bukan Cuma Soal Tahta Suci

Spiritualitas Bukan Cuma Soal Tahta Suci, Santo Fransiskus Asisi

Pada suatu ketika seorang teman senior di fesbuk, sebut saja namanya Pak Domkoro, bercerita mengenai pengalaman spiritualnya yang sedikit berbeda dengan cara pandang yang kaku dengan salah satu anggota keluarganya. Dan kebetulan anggota keluarganya ini akan ditahbiskan menjadi seorang Pastor di Brasil.

Postingan di wall-nya kala itu spontan mendorong otakku untuk berkomentar. Apalagi pada bagian akhir postingan itu si bapak memberikan sebuah link renungan sufi tentang Santo Fransiskus dari Asisi. Berikut cuplikan tulisan Pak Domkoro yang diikuti oleh komentarku ;

Pak Domkoro :
Di setiap buku Anand Krishna selalu ada kejutan. Atau, bahkan, bisa seperti palu godam dan air keras yang menghantam ego dan kemapanan pengetahuan pembacanya. Para pemberani akan terus menyelam dan menyelam, dengan resiko egonya terus digerus. Coba selami Masnawi, Cakrawala Sufi (1,2,3), Sabda Pencerahan, 99 Nama Allah, Al-Fatiha, Kidung Salomo, Mawar Mistik, Isa Masiha, Bhagavad Gita, Yoga Sutra Patanjali, dan sebagainya -- I bet you will get angry or otherwise bow down with gratitude to the writer karena amat sesuatu bagi Anda.

Memang. ada yang berhenti, marah-marah, dan menghakimi. Ini terjadi pada sepupu kandung istri saya -- sebentar lagi ia akan diresmikan di Brasil untuk berkarier di gereja, sebagai pastor. Membaca tulisan di t-shirt yang saya pakai, dia bilang, "O, kakak pengagum Anand Krishna ya. Saya pernah baca buku-buku Anand Krishna. Tapi, saya kemudian mengumpulkan buku-buku, dan saya bilang demi Takhta Suci, saya bakar buku-buku ini".

Saya hanya tersenyum disuguhi lelucon yang demikian lucu ini. Tawa saya tidak jadi meledak karena saat itu  Oktober 2014 sedang dalam suasana berkabung dengan meninggalnya paman (Bapak Kecil) kandung istri saya dan sepupunya itu.

Renungan Sufi :

Komentarku :
Tidak peduli sehebat apapun pencapaian seorang manusia di dunia ini berikut dengan embel-embel yang melekat dengan dirinya. Entah itu pastor, ustad, bikhu, pendeta, teolog, cendikiawan, politisi, ilmuwan, pendidik, S1, S2, S3, S4, S5, S6, No S (tak sekolah), orang kaya, orang miskin, atau apapun juga, jika Dirinya belum siap membuka maka selama itu pula ia selalu menutup.

Bunga yang mekar akan senantiasa membuka kelopaknya sampai setiap proses itu selesai dan berubah kembali menurut Hukum Alam Semesta.

Dunia memang telah mengajari kita untuk melupakan semua ini. Melupakan kemanusian kita sendiri sebagai entitas semesta kecil yang menyatu dengan semesta besar. Dan adalah kenyataan bahwa kita "hidup" di dunia seperti ini.

Itulah sebabnya, setiap pejalan harus melangkah sendirian. Mengalami sendiri setiap pemahaman akan Dirinya. Tidak lagi larut dalam dikte siapapun entah itu dari orang lain maupun keluarga sekalipun.

Tentu saja bicara soal ini tidak menarik bagi sebagian orang. Seperti dua orang sahabat yang berjalan di tepi pantai dan salah seorang berkata, "Lihatlah sunset itu. Indah sekali". Namun karena yang seorang tidak mengalami keindahan sunset itu, maka ia tidak tertarik.

Jadi, semua ini adalah tentang mengalami segalanya sendiri bukan soal Takhta Suci.
_/\_

Karimawatn, 08-09-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.