Walaupun Anda Perokok, Jangan Lupa Ikhlas Dan Bersyukur
Ngomongin soal rokok itu tak ada habisnya. Selalu ada pro kontra soal kebiasaan menghisap tembakau ini. Oleh karena itu seringkali diskusi tentang tembakau dalam berbagai kesempatan tidak pernah bisa menghasilkan apa-apa kecuali perdebatan yang tak kunjung selesai.
Suatu waktu seorang teman pernah nge-share artikel soal rokok di Facebook, yaitu tentang sebuah film, Mereka Yang Melampaui Waktu besutan Darwin Nugraha. Darwin berusaha memunculkan presfektif lain tentang mereka yang tetap bugar dan berumur panjang walaupun mereka adalah seorang perokok dan pecandu kopi.
Tentu saja apa yang ingin diangkat oleh Darwin berbeda dengan sudut pandang mainstream dunia kesehatan yang mengharamkan rokok dalam bentuk apapun juga. Darwin mencoba menampilkan fakta bahwa banyak juga mereka yang lanjut usia tetap merokok dan tetap menikmati kopi. Mereka tidak terpengaruh oleh kampanye besar-besaran anti rokok yang dilakukan oleh institusi kesehatan.
"Kalau sakit, mereka berobat dengan apa yang telah disediakan alam. Setia dengan resep yang dipercaya turun-temurun dan menghayati kecerdasan lokal mereka," kata Darwin.
Setelah membaca artikel yang dibagikan teman ini, aku jadi ingat almarhum Mbahku dulu juga seorang perokok. Simbah meninggal dalam usia yang relatif panjang. Aku juga seringkali mendapati bahwa di desa-desa banyak ditemui mereka yang seperti ini, yaitu perokok lanjut usia namun masih terlihat bugar. Seringkali aku bertanya, kenapa mereka bisa berumur panjang?. Apa rahasianya? Mengapa kebiasaan merokok yang mereka lakukan itu tak segera "membunuh" usia mereka?.
Dalam kasus seperti ini, aku kemudian mengamati ada hal yang paling mendasar kenapa kemudian seorang perokok juga bisa mencapai umur panjang. Kuncinya terletak pada pikiran mereka sendiri.
Penguasaan dan pengendalian pikiran yang baik mampu membuat mereka menjadi sadar dengan realitas kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. Kesadaran seperti ini selalu berasal dari pikiran yang terlatih. Kenapa? Karena menurutku orang-orang seperti itu telah terbiasa hidup secara kontemplatif. Walaupun mereka adalah perokok, akan tetapi akitivitas mereka sehari-hari seperti bertani, mencangkul, berkebun, memulung, dsb, adalah aktifitas real yang mereka lakukan dengan penuh kesadaran. Mereka lebih banyak memberi waktu untuk lebih menghayati kehidupan mereka dengan apa adanya.
Semakin tua umur seseorang biasanya lebih cendrung berpikir sederhana, yaitu dengan tidak lagi mementingkan "keinginan" yang membabi buta. Mereka sadar bahwa penumpukkan keinginan/nafsu akan pencapaian hidup hanya berpotensi menyebabkan konflik batin yang sulit untuk disembuhkan. Dan itu biasanya berimbas pada menurunnya kondisi fisik.
Oleh karena itu menjalani masa tua dengan penuh kesadaran akan hidup sederhana dan apa adanya serta menerima segala sesuatu sebagai berkat dalam kehidupan mereka adalah sesuatu yang membuat mereka merasa hidup berkecukupan. Kesadaran berpikir seperti ini kemudian justru memberi mereka semangat/spirit untuk lebih bersyukur, ikhlas dan berserah diri.
Dan jika hal ini sudah terbentuk di dalam diri, maka sangat mungkin kecemasan/ketakutan yang ada dalam diri mereka semakin berkurang. Mereka cenderung tidak lagi memikirkan apa yang masuk kedalam tubuh mereka itu akan mengancam kesehatan mereka. Lebih hebat lagi, tingkat stress pun berkurang.
Jadi apapun yang mereka jalani dengan sisa hidup mereka adalah semata-mata sebagai refleksi kebahagiaan yang terpancar dari pikiran mereka sendiri. Inilah energi hidup yang membuat usia mereka relatif lebih panjang sekalipun mereka adalah perokok dan penikmat kopi.
_/\_
Seruni, 27-11-2015

Semua tergantung takdir ya....banyak juga yang tidak merokok umurnya pendek, dan perokok umurnya masih panjang,,,
BalasHapusSola takdir kita memang tidak bisa atur Mas..siap-siap dan ikhlas saja.:)
HapusWalaupun kampanye anti rokok sering didengung dengungkan tapi susah untuk menghilangkan 100% Gimana nggak wong yang jualan banyak
BalasHapusTergantung pada individu masing-masing aja Mas..:)
HapusSaya bukan perokok mas,,,dan saya bersyukur...
BalasHapusSalam kenal
Salam kenal Mas Wahab. Tulisan di atas memang bukan tentang "kampanye rokok". Sekedar menuangkan persfektif lain tentang rokok saja. Merokok atau tidak, tergantung pada plihan pribadi masing-masing saja.:)
Hapus