I Miss You Belanda
Bakalapm means pagi-pagi sekali, baru bangun tidur, sebuah ajakan mendatangiku untuk bergabung dalam kelompok menyanyi. Sungguh dunia yang sengaja telah kutinggalkan sejak 19 tahun yang lalu, dimana aku telah mengidiotkan waktu untuk bercumbu dengan not-not itu lagi.
Aku juga telah lama melumpuhkan pita swaraku, tidak lagi mendendangkan mazmur dan puja-puji itu dengan menjadikan diriku sendiri sebagai mazmur sunyi dalam setiap perjalananku, tanpa ada notasi, tanpa ketukan tempo, tanpa iringan piano, dan tanpa menginginkan sebuah apresiasi dari Allah maupun dari manusia yang berakting sebagai Allah.
Namun, ajakan pagi ini mengingatkanku pada sesuatu. Aku ingat ketika masih memegang kunci kapel itu. Bagaimana membuka pintu, mengunci setiap jendelanya dan mematikan lampunya di malam hari ketika mereka telah bergegas tidur. Aku juga ingat bagaimana bau kapel itu dalam setiap ketukan lagu yang dinyanyikan sebagai pelengkap ritual dan sebagai pengusir rasa bosan dan kantuk yang mematikan.
Ya, sebuah Kapel Seminari Belanda yang pada usianya kini lebih tepat disebut sebagai peninggalan sejarah. Sebuah kapel dibawah lembah Poteng yang selalu saja membisu. Sebuah kapel yang bukan hanya dijadikan tempat untuk merapal mantra kepada Allah agar segera diculik oleh para malaikat untuk menjadi penjala manusia, melainkan juga sebagai tempat untuk berpindah tidur lalu terbangun disaat komuni untuk mencelupkan hosti ke dalam anggur. Sebuah kapel yang bukan hanya dijadikan tempat untuk mendengarkan bacaan injil setiap pagi melainkan juga sebagai tempat untuk sejenak memenjarakan rasa lapar sembari menunggu bubur pagi yang terkadang asin kadang tawar, kadang kental kadang juga encer. Yup, aku juga masih ingat mana kualitas bubur terbaik kala itu.
Aku masih ingat bagaimana cuitan burung gereja yang bersarang dan bermain di atap kapel. Aku ingat kotorannya yang jatuh ke lantai dan menjadi penghias bangku kapel. Itulah mengapa seringkali Roh Kudus itu datang tidak lagi dalam rupa lidah api melainkan dalam bentuk kotoran burung gereja yang jatuh di kepala. Dan kini aku tahu bahwa kepala adalah segalanya tentang misteri perjalanan setiap pribadi manusia. Dan setiap pribadi itu harus menemukannya sendiran.
Aku ingat bagaimana warna Surya pagi yang datang dari sebelah timur jendela kapel. Aku ingat bagaimana hangatnya menjamah wajahku. Aku ingat cahayanya yang jatuh diantara bangku kapel lalu menyelinap di sela-sela jari kaki yang masih menggigil.
Dan pada saat-saat tertentu, setelah ritual pagi yang kadang membosankan itu, ia mengajakku untuk menemuinya secara langsung. Aku mencuri waktu beberapa menit, berdiri di tepian lapangan voli di sebelah kapel, menghadap ke timur, membiarkan tubuhku terpapar cahaya lalu berbicara kepada langit dan Matahari. Tidak setiap hari, tapi ini adalah ritual pribadi yang sengaja ku tagging dalam kepalaku sampai hari ini.
Sejarah adalah kenangan, dan kenangan adalah sejarah. Namun bagaimanapun juga Kapel dan komplek itu adalah bukti kebaikan bangsa Belanda yang peduli pada bangsa Indonesia saat itu. Mereka, bule-bule gospel yang selibat itu telah menjadikan tempat itu sebagai laboratorium kemanusiaan agar setiap mata di setiap kepala anak-anak kampung saat itu melek terhadap perubahan dunia.
Dan mereka yang kini mewarisi kenangan itu akan merayakannya kembali dalam sebuah pesta akbar perjalanan 100 tahun. Acara yang sudah pasti besar. Agenda besar, dengan undangan mulai dari orang besar dan kecil, orang terhormat dan tidak terhormat, punggawa gereja sampai umat rendahan, yang mengisi acara dan yang hanya menjadi audience, orang sukses dan orang apes, pejabat dan pejebet, pegawai dan pegawoi, yang di kota dan di kampung, diluar negeri dan dalam negeri, yang berkeluarga dan yang jomblo, yang jalan pakai roda dan berjalan kaki, yang gemuk dan kurus, yang tinggi dan rendah. Eperibodi is invaitid. Apakah semua akan datang? I don't know. Yang jelas bule-bule Belanda itu sudah tiada dan laboratorium kemanusiaan itu semuanya kini sudah di-nasionalisasi.
Dunia memang telah berubah dan selalu akan berubah. Bukan hanya undangan perayaan akbar yang bisa disebar masiv secara offline dan online, kini para orang tua bisa pergi sendiri untuk menghantarkan anak-anak mereka masuk ke dalam laboratorium besar itu. Tak seperti rahib-rahip Belanda dulu, dengan jenggot mirip pejuang ISIS lengkap dengan jubah coklat tua, mereka keluar masuk hutan dan kampung pedalaman, jalan kaki mencari anak-anak agar bisa mereka sekolahi secara gratis. Mereka sendirilah yang meminta kepada orang tua anak-anak itu untuk menjadikannya sebagai Manusia Indonesia. Oh, kini Belanda sudah lama pergi dan hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah.
Ajakan not-not pagi ini seperti mencubit hidungku untuk mencium kembali bau Gereja. Sebuah gereja baru dengan cerita dan tentunya gosip yang senantiasa baru. Mungkin saja dengan menyumbangkan nada bisa lebih sering memakai baju batik yang memang tidak pernah kuprogram dikepala demi melestariken budaya leluhur.
Aku ini hanyalah anak bawang yang pernah magang di sebuah Kapel Tua. Suaraku memang tidaklah merdu tapi aku merindukan Belanda.
Karimawatn, 05-02-2016
Aku juga telah lama melumpuhkan pita swaraku, tidak lagi mendendangkan mazmur dan puja-puji itu dengan menjadikan diriku sendiri sebagai mazmur sunyi dalam setiap perjalananku, tanpa ada notasi, tanpa ketukan tempo, tanpa iringan piano, dan tanpa menginginkan sebuah apresiasi dari Allah maupun dari manusia yang berakting sebagai Allah.
Namun, ajakan pagi ini mengingatkanku pada sesuatu. Aku ingat ketika masih memegang kunci kapel itu. Bagaimana membuka pintu, mengunci setiap jendelanya dan mematikan lampunya di malam hari ketika mereka telah bergegas tidur. Aku juga ingat bagaimana bau kapel itu dalam setiap ketukan lagu yang dinyanyikan sebagai pelengkap ritual dan sebagai pengusir rasa bosan dan kantuk yang mematikan.
Ya, sebuah Kapel Seminari Belanda yang pada usianya kini lebih tepat disebut sebagai peninggalan sejarah. Sebuah kapel dibawah lembah Poteng yang selalu saja membisu. Sebuah kapel yang bukan hanya dijadikan tempat untuk merapal mantra kepada Allah agar segera diculik oleh para malaikat untuk menjadi penjala manusia, melainkan juga sebagai tempat untuk berpindah tidur lalu terbangun disaat komuni untuk mencelupkan hosti ke dalam anggur. Sebuah kapel yang bukan hanya dijadikan tempat untuk mendengarkan bacaan injil setiap pagi melainkan juga sebagai tempat untuk sejenak memenjarakan rasa lapar sembari menunggu bubur pagi yang terkadang asin kadang tawar, kadang kental kadang juga encer. Yup, aku juga masih ingat mana kualitas bubur terbaik kala itu.
Aku masih ingat bagaimana cuitan burung gereja yang bersarang dan bermain di atap kapel. Aku ingat kotorannya yang jatuh ke lantai dan menjadi penghias bangku kapel. Itulah mengapa seringkali Roh Kudus itu datang tidak lagi dalam rupa lidah api melainkan dalam bentuk kotoran burung gereja yang jatuh di kepala. Dan kini aku tahu bahwa kepala adalah segalanya tentang misteri perjalanan setiap pribadi manusia. Dan setiap pribadi itu harus menemukannya sendiran.
Aku ingat bagaimana warna Surya pagi yang datang dari sebelah timur jendela kapel. Aku ingat bagaimana hangatnya menjamah wajahku. Aku ingat cahayanya yang jatuh diantara bangku kapel lalu menyelinap di sela-sela jari kaki yang masih menggigil.
Dan pada saat-saat tertentu, setelah ritual pagi yang kadang membosankan itu, ia mengajakku untuk menemuinya secara langsung. Aku mencuri waktu beberapa menit, berdiri di tepian lapangan voli di sebelah kapel, menghadap ke timur, membiarkan tubuhku terpapar cahaya lalu berbicara kepada langit dan Matahari. Tidak setiap hari, tapi ini adalah ritual pribadi yang sengaja ku tagging dalam kepalaku sampai hari ini.
Sejarah adalah kenangan, dan kenangan adalah sejarah. Namun bagaimanapun juga Kapel dan komplek itu adalah bukti kebaikan bangsa Belanda yang peduli pada bangsa Indonesia saat itu. Mereka, bule-bule gospel yang selibat itu telah menjadikan tempat itu sebagai laboratorium kemanusiaan agar setiap mata di setiap kepala anak-anak kampung saat itu melek terhadap perubahan dunia.
Dan mereka yang kini mewarisi kenangan itu akan merayakannya kembali dalam sebuah pesta akbar perjalanan 100 tahun. Acara yang sudah pasti besar. Agenda besar, dengan undangan mulai dari orang besar dan kecil, orang terhormat dan tidak terhormat, punggawa gereja sampai umat rendahan, yang mengisi acara dan yang hanya menjadi audience, orang sukses dan orang apes, pejabat dan pejebet, pegawai dan pegawoi, yang di kota dan di kampung, diluar negeri dan dalam negeri, yang berkeluarga dan yang jomblo, yang jalan pakai roda dan berjalan kaki, yang gemuk dan kurus, yang tinggi dan rendah. Eperibodi is invaitid. Apakah semua akan datang? I don't know. Yang jelas bule-bule Belanda itu sudah tiada dan laboratorium kemanusiaan itu semuanya kini sudah di-nasionalisasi.
Dunia memang telah berubah dan selalu akan berubah. Bukan hanya undangan perayaan akbar yang bisa disebar masiv secara offline dan online, kini para orang tua bisa pergi sendiri untuk menghantarkan anak-anak mereka masuk ke dalam laboratorium besar itu. Tak seperti rahib-rahip Belanda dulu, dengan jenggot mirip pejuang ISIS lengkap dengan jubah coklat tua, mereka keluar masuk hutan dan kampung pedalaman, jalan kaki mencari anak-anak agar bisa mereka sekolahi secara gratis. Mereka sendirilah yang meminta kepada orang tua anak-anak itu untuk menjadikannya sebagai Manusia Indonesia. Oh, kini Belanda sudah lama pergi dan hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah.
Ajakan not-not pagi ini seperti mencubit hidungku untuk mencium kembali bau Gereja. Sebuah gereja baru dengan cerita dan tentunya gosip yang senantiasa baru. Mungkin saja dengan menyumbangkan nada bisa lebih sering memakai baju batik yang memang tidak pernah kuprogram dikepala demi melestariken budaya leluhur.
Aku ini hanyalah anak bawang yang pernah magang di sebuah Kapel Tua. Suaraku memang tidaklah merdu tapi aku merindukan Belanda.
Karimawatn, 05-02-2016

Tidak ada komentar