Header Ads

ads

Kamulah Avatar

Kamulah Avatar

Awalnya para Avatar itu turun ke Bumi murni membawa kesadarannya sendiri, yaitu suatu bentuk kesadaran yang memang muncul dari dalam dirinya sendiri (otentik). Kesadarannya ini kemudian dibagikan secara gratis kepada sesama manusia yang ada pada saat itu secara spontan. Kesadaran murni ini merupakan bentuk kesadaran yang memang belum diutak-atik. Apa adanya ya begitu.

Avatar sendirilah yang bicara langsung kepada para pendengarnya. Ia tidak hanya berbicara pakai mulut saja melainkan lebih mengedepankan apa yang ada di dalam kepalanya. Tentu saja berbeda pengertiannya dengan keras kepala. Dan apa yang dilakukan oleh Avatar hanyalah semata-mata berbagi dan berbagi tanpa ada embel-embel pamrih. Oleh karena itu komunikasi yang dibangun adalah bentuk komunikasi empatik tanpa pemaksaan.
Setelah Avatar itu meninggalkan Bumi, munculah beberapa kepala manusia yang berusaha menyalin kembali setiap ucapan Avatar tersebut ke dalam berbagai teks. Seiring perjalan waktu kesadaran para Avatar ini pun kemudian oleh para pengikutnya (followers) disebut sebagai sebuah ajaran atau pedoman hidup.

Kata ajaran itu sendiri muncul dari kata dasar "ajar", karena selama hidupnya Avatar dianggap sebagai "Pengajar". Padahal seperti disebutkan di atas, Avatar tidak pernah mengajar melainkan hanya berbagi kesadarannya saja. Avatar sadar betul bahwa setiap manusia yang hidup di muka Bumi ini memiliki potensi yang sama dalam menemukan bentuk kesadarannya sendiri.

Tapi semuanya sudah terlanjur. Para pengikut selalu menganggap dirinya makhluk paling lemah, bodoh, dan tak sempurna sehingga tetap memilih membebek. Mereka berfikir kalau mau jalan, harus selalu pakai buku panduan. Harus pakai peta agar tidak tersesat. Padahal Avatar pada jamannya selalu jalan tidak pakai peta kecuali mengandalkan isi kepalanya yang memang encer dengan berani untuk tidak ikut budaya mainstream pada saat itu.

Kalaupun pada akhirnya ada yang berkata bahwa para Avatar itu kerasukan iblis sesat, maka hal itu adalah konsekwensi yang memang harus diterima tanpa sedikitpun menyurutkan kesadarannya untuk terus melangkah. Seharusnya setiap pengikut sudah tahu bahwa setiap buku panduan itu dibuat oleh manusia juga. Sebab memang tidak ada kertas yang jatuh dari langit, terjilid dalam bentuk buku tutorial tentang bagaimana menjadi manusia saleh tak berdosa di satu dunia.

Tentu saja usaha penyalinan dan pendokumentasian berbagai teks yang dilakukan sepeninggal Avatar ini memiliki tujuan tertentu. Salah satunya adalah untuk menjaga kawanan pengikut agar tetap solid. Jika tidak ingin kena tilang, maka tidak boleh ada satupun yang keluar jalur dari ajaran Avatar yang diikutinya. Jadi sebenarnya hal seperti ini sama saja seperti S.O.P (Standar Operasional Prosedur) di dalam dunia kerja, namun dibahasakan dengan kata syariat di ranah keyakinan (baca: iman).

Lalu mengapa harus dibuat syariat? Untuk apa syariat? Sederhana saja. Komunitas pengikut yang solid diharapkan dapat mempertahankan serta melestarikan ajaran para Avatar tersebut agar selalu langgeng di Bumi. Bila perlu bisa dipakai sampai ke luar Bumi. Segala sesuatu harus diusahakan sekuat tenaga untuk menjadikan ajaran tersebut tetap abadi.

Begitulah yang terjadi sampai hari ini. Konsep tentang keabadian ini muncul dan mengakar sangat dalam sampai ke tulang sunsum. Hal ini sebagai akibat dari lemahnya rasionalitas para pengikut ketika berhadapan dengan teks-teks tadi. Begitu banyak teks yang menawarkan iming-iming tentang keabadian. Diksi-diksi penghiburan untuk melarikan diri dari kegalauan batin. Sayangnya teks-teks ini hanya di telan begitu saja.
Lalu bagaimana dengan prakteknya? Kita sudah tahu bahwa usaha dalam mempertahankan ajaran ini selalu disusupi oleh banyak kepentingan. Tidak hanya kepentingan theologis, ideologis namun juga merambat pada tujuan politis dan ekonomis. Dan sejarah telah mencatat semua itu secara berulang-ulang. Bahkan sampai hari ini.

Harus diketahui juga bahwa usaha pelestarian tersebut, berikut dengan pernak-perniknya telah bertransformasi menjadi salah satu bagian dari budaya baru. Yang tentu saja membutuhkan ritual baku sebagai mesin penggerak di dalam komunitas. Sampai pada tahap ini, kemurnian ajaran para Avatar tadi perlahan-lahan terkikis oleh kepentingan segelintir manusia. Merekalah yang kemudian menguasai segala aturan yang ada dalam komunitasnya.

Merekalah yang berhak memberikan fatwa, mengubah syariat demi tujuan tertentu. Dengan demikian, siapapun yang ada dalam komunitas, kepalanya harus dipegang sedemikan rupa agar tidak bisa geleng-geleng kecuali angguk-angguk mengikuti S.O.P (Suara Orang Penting). Para pengikut dituntut untuk selalu bilang "Amin" terhadap apa yang mereka katakan.

Oleh karena itu, apa yang kemudian diterapkan dalam keseharian bukan lagi mengurai sendiri kesadaran dari Avatar melalui persfektif yang independen, guna menemukan esensi dari setiap pesannya. Melainkan sekedar memenuhi ritual yang seringkali tampak kaku, beku, baku, keras, formal serta bertele-tele. Para pengikut justru diam-diam ikut dalam permainan ini. Membandingkan berat-ringan dosa seseorang. Memisah-misahkan Cinta, orientasi seksual, warna kulit, status sosial, suku bangsa. Bersikap pamrih, berebut pahala, dlsb.
Apa yang disampaikan dengan sangat sederhana oleh Avatar justru tidak bisa dicerna sendiri oleh setiap pribadi secara bebas dan bertanggungjawab. Hal ini disebabkan tidak adanya ruang bagi pengikut untuk melakukan kontemplasi kritis. Bersikap kritis dan rasional adalah hal yang tabu didalam syariat.

Begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari bahwa mengucapkan kata "amin" lebih gampang ketimbang menemukan saripati dari ajaran-ajaran tersebut dengan cara yang merdeka. Hal ini telah menyebabkan para pengikut, entah itu secara tegas atau diam-diam hidup secara eksklusiv. Membuat termbok-tembok yang memisahkan kemanusiaan dari jaman ke jaman. Celakanya, negara juga ikut bermain dalam membiarkan tembok-tembok pemisah ini atas nama toleransi yang salah kaprah.

_/\_

Karimawatn, 14-02-2016

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.