Header Ads

ads

Biasa Saja

Biasa Saja

Seseorang bisa saja dengan mudah mengatakan; "Aku ini sudah pasti pengikut seorang Guru. Aku sungguh terpikat dengannya. Sampai mati aku akan bersaksi dan setia pada ajarannya". Pernyataan seperti ini hanyalah sekedar ungkapan biasa saja. Sudah umum. Sama saja ketika seseorang berkata; "Aku ini ngefans banget lho dengan Syahrini. Kalau kulihat dia di TV, jantungku selalu maju-mundur, maju-mundur. Cantiiiiik".

Ungkapan-ungkapan diatas, entah itu diucapkan pakai mulut atau tidak, hanyalah pernyataan yang semata-mata terjebak pada sosok/figur/citra saja. Hanya luar atau bungkusnya saja yang diperhatikan lalu menelan kesimpulan terhadap apa saja yang membuatnya terpesona tanpa harus mengunyah terlebih dahulu setiap informasi yang diterima oleh indera. Memang, sensasi itu selalu muncul kalau seseorang sedang ngefans dengan idola atau idolinya. Mau ngefans Si Ana, Si Ani, Si Anu, Si Ane, Si Ano atau Si Apa saja. Ndak masalah. Bebas saja.

Akan tetapi jika mau masuk  ke ranah spiritual, maka sudah semestinya mulai saat ini kita belajar mengamati segala sesuatu dari dalemannya juga. Bahwa setiap pesan atau ajaran dari siapapun itu semestinya bisa diurai kembali secara mandiri dengan kepala yang independen. Sebab sangat mungkin keterjebakan ego pada sosok/figur/citra atau apapun juga yang berkaitan dengan sosok tersebut akan menyebabkan pemahaman atas nilai-nilai yang disampaikan oleh Si Guru tadi menjadi kaku, keras, baku, bahkan bisa menyebabkan kekeliruan dalam penafsirannya.

Hal ini tentu saja disebabkan ego yang terlanjur ngefans (terkondisi), yang secara tidak sadar otaknya telah dibuat mandul untuk belajar. Nalar yang dipakai adalah nalar yang ada di kepala orang lain atau otoritas tertentu dan bukan nalar yang berasal dari dirinya sendiri yang muncul melalui proses ovservasi, penyelidikan, dan pengujian berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai manusia.

Katakanlah misalnya, ada seorang yang di dalam masyarakat dianggap bijak dan saleh. Setiap saat dalam berbagai kesempatan ia  selalu berbicara kepada banyak orang tentang perikehidupan yang berlandaskan moral. Dan Kamu adalah salah satu penggemarnya. Hanya karena Kamu sudah terlanjur kagum pada pribadinya (baca; kharisma), maka Kamu akan percaya saja setiap perkataan yang ia ucapkan dan mengganggap apa yang ia katakan itu pastilah suatu "kebenaran". Jika sudah begini, maka bagaimanapun juga, apa yang Kamu sebut sebagai kebenaran adalah sesuatu yang tidak berasal dari dalam Dirimu yang bebas melainkan kebenaran itu masih berada di luar.

Jika demikian, pentingkah apabila kita melakukan eksperimen mengenai seberapa mandul otak kita selama ini dalam memahami kebenaran secara mandiri? Maukah kita belajar mengurai apapun juga yang datang dari luar itu melalui persfektif baru yang lebih independen tanpa harus mengikuti berbagai otoritas yang selama ini menguasai kita?

Jawaban atas pertanyan-pertanyaan ini mungkin saja relatif. Tergantung seberapa parah ego itu melekat pada sesuatu yang ia yakini selama bertahun-tahun. Dan biasanya sesuatu yang melekat sangat kuat itu otomatis menjadi identitas (baca; pakaian) yang sangat sulit untuk dilepaskan. Di sepanjang hidup seseorang, tanpa sadar ia telah mengenakan begitu banyak identitas "abstrak" seperti misalnya; kesukuan, agama, status sosial, politik, orientasi seksual, dlsb.

Untuk menjawab pertanyaan sederhana diatas tentu saja membutuhkan keterbukaan terhadap diri sendiri. Mempraktekkan sikap ikhlas untuk melepaskan setiap lapisan yang menjadi penutup kesadaran rasional kita adalah pintu masuk untuk mengenal gerak-gerik pikiran yang menciptakan ego.

Namun perlu diperhatikan, apa yang tertulis disini  bukanlah tutorial yang harus diamini. Tidak ada cara-cara yang dapat dipercaya paling ampuh dapat menjadikan setiap pribadi menjadi sepenuhnya sadar sebagai manusia yang menghuni Bumi ini. Kalaupun ada buku panduan yang disucikan itu, atau ada pribadi lain yang menjelaskan kepadamu mengenai cara menjadi "manusia"--hendaknya hal itu tetap "diuji" sendiri.

Dan suatu ajaran akan tetap hidup dalam diri manusia, jika ia (manusia itu sendiri) dapat menemukan nilai-nilai yang senantiasa mengedepankan kesadaran berfikir yang bebas, rasional, bertanggungjawab (sendiri) dan universal tanpa sekat. Akan tetapi, dalam hal ini berfikir logic saja sebenarnya tidak cukup. Apalagi landasan berpikir itu berangkat dari pemahaman (intelektualitas) yang hanya berdasarkan mazhab/dalil/teori sebuah ajaran yang diikuti.

Oleh karena itu mazhab/dalil/teori apapun yang dianut oleh ego tertentu tidak akan melahirkan kesadaran murni. Ia hanya menjadi pembungkus saja dan sangat rentan menciptakan konflik internal maupun konflik antar ego yang menganut ajaran berbeda. Inilah yang kemudian melahirkan fanatisme.

Kesadaran murni adalah bentuk pikiran atau persfektif (sipiritual) yang membebaskan ego dari belenggu otoritas. Kesadaran ini muncul secara mandiri dari dalam setiap pribadi. Ia tidak lagi bergantung pada sosok atau landasan teori/dalil manapun juga. Kesadaran seperti ini senantiasa akan memunculkan spontanitas yang pada akhirnya sejalan dengan aturan main alam semesta ini.

Jika setiap ego sudah sampai pada tahap ini, maka ia tak akan lagi sibuk berkonflik dengan dirinya sendiri soal pamrih atau upah seperti apakah yang akan diterimanya nanti apabila ia mengamini setiap ajaran Si Guru yang ia ikuti itu. Atau ganjaran apakah yang akan dijatuhkan kepadanya apabila ia tidak menuruti ajaran yang telah diterimanya selama bertahun-tahun sejak masih kanak-kanak. Sebab mitos tentang upah atau ganjaran itu, entah di dunia ini atau di dunia lain setelah kehidupan ini selesai, pada akhirnya akan gugur juga secara alami.

Jadi, sebenarnya ini adalah tentang bagaimana setiap pribadi atau ego tadi tersambung dengan ajaran-ajaran tersebut yang secara simbolis selalu kita dapati keterhubungannya dalam kehidupan saat ini sebagai manusia yang hidup.

Namun keterhubungan yang dimaksud disini bukan lagi dimaknai sebagai suatu proses Aminisasi konyol. Yang mana pada prakteknya di lapangan seringkali terlihat jenaka. Kekonyolan itu tanpa sadar dilakukan secara terus-menerus, dari waktu ke waktu dengan cara menihilkan rasionalitas dengan sekuat tenaga menolak mentah-mentah nilai-nilai universal.

Boleh jadi pada perjalanannya setiap ego itu sendiri akan bertemu pada sekian banyak kontradikisi. Ada begitu banyak distorsi pandangan dalam setiap ruas jalan yang dilalui. Namun hal ini bukanlah masalah. Ego harus terus jalan. Karena memang seperti itu rute yang harus ditempuh. Akan tetapi ada saatnya si ego akan memunguti banyak sekali "Huruf O" di jalan yang ia lalui. "O, begini tho. O, begitu tho". Dan masih banyak O-O lainya. Semakin sering, maka ego akan semakin spontan. Kalau sudah spontan, pastilah uhuy.!

Ego yang uhuy akan terbiasa memandang dengan jelas/terang segala sesuatu yang tersirat atau tersurat dalam setiap pesan/ajaran itu. Masih cocok apa tidak untuk SAAT INI. Kalau cocok, pakai sendiri. Kalau tidak, ya buang sendiri tanpa perlu memaksakan diri untuk melakukan cocoklogi. Apalagi sampai harus memaksakan hal tersebut kepada ego yang lain. Dan soal cocok atau tidak cocok ini seharusnya tidak melulu berkaitan dengan bagaimana logika berfikir bekerja melainkan juga ditentukan oleh membuka atau tidaknya intuisi. Karena intuisi tak membutuhkan landasan intelektualitas, kutipan-kutipan bersayap, alasan-alasan atau fakta-fakta.

Lain daripada itu ego akan menjadi lebih fleksibel dalam merespon apa yang sedang terjadi. Jadi ini bukan soal bunuh-bunuhan ego. Karena suatu saat ia akan mati dengan sendirinya. Ini adalah soal mengamati ego dengan sadar disaat masih bisa bernafas.

Membiasakan diri untuk melakukan monolog secara sadar adalah hal praktis yang dapat dilakukan oleh siapapun tanpa harus mengikuti Guru atau ajaran manapun juga. Bicaralah dan tanyakan saja pada diri sendiri tentang segala hal atau tentang apa saja yang ingin dketahuii guna mengurai misteri kehidupan (diri) ini.
Ribet? Ya, karena mungkin saja ego secara mekanis terjebak pada kata Kehidupan itu sendiri. Ego berpikir terlalu besar, padahal itu tentang diri sendiri. Yang penting tak perlu memaksa. Biarkan mengalir saja. Pelan-pelan saja, ikuti gerak pikiran akan sampai dimanakah ujungnya akan terlihat.

Jika sudah bertemu pada ujung pikiran. Stop dulu sebentar. Breaklah sejenak. Udud-udut dulu. Ngopi dulu. Atau leyeh-leyeh dulu. Tak perlu buru-buru membuat kesimpulan dengan mengatakan, "Yes! Inilah jawaban yang Aku inginkan".

Kenapa harus pakai break segala, kan jawababnya udah ketemu? Yup, karena monolog itu juga pakai energi. Namun satu hal yang harus digaris bawahi, bahwa dalam semesta ini tidak ada Keabadian. Tidak satu hal pun yang permanen. Lupakan dulu berbagai macam konsep tentang Keabadian itu. Dengan demikian Kamu akan melihat, bahwa segalanya berubah, berubah dan berubah dari waktu kewaktu.

Semua ini adalah soal mengalami secara pribadi. Manusia adalah Guru sekaligus Murid bagi dirinya sendiri. Dan satu hal, tak perlu juga mempercayai catatan ini. Percayalah pada mata batinmu yang ada dikepala itu. Pada akhirnya semua akan terlihat biasa saja. Ya, biasa saja.

_/\_

Karimawatn, 30-03-2016

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.