Anakmu Bukanlah Anakmu
Saat membaca sebuah artikel yang berjudul "An Elementary School Has Kids Meditate Instead Of Punishing Them and the Results are Profound", saya jadi teringat kisah masa kecil sampai remaja saya waktu masih bersekolah dulu. Ketika dulu saya SD, bahkan sampai SMA, hukuman fisik itu masih di anggap sangat penting di sekolah/asrama sini. Mulai dari jemur di lapangan, disiram air pakai ember, sampai dipukul pakai bambu hingga leher berdarah pernah saya alami. Bahkan dari beberapa kasus, saya tidak pernah tahu apa salah saya.
Kalau dipikir-pikir sekarang, sederhana saja, sebagai anak-anak dan remaja waktu itu mungkin kami dianggap nakal dan tidak tahu aturan, sehingga satu-satunya cara agar patuh adalah dengan menerapkan kekerasan demi kekerasan. Bukan hanya fisik tapi juga verbal yang seringkali menikam jantung. Ada yang bilang seperti metode Jepang.
Saya heran saja, paradigma pola asuh dan pendidikan dengan kekerasan ini masih ada juga yang menganggapnya penting dan harus dibangkitkan lagi. Terlebih banyak orang tua/dewasa bahkan para pendidik jaman sekarang mengganggap anak-anak usia sekolah semakin hancur kelakuannya. Tapi begitulah, kecendrungan orang dewasa lebih mudah mengganggap anak-anak lah salah. Sebagai orang yang sudah makan asam garam, mereka berfikir tahu segalanya. Mereka merasa punya kontrol, tanpa mau belajar melihat ke dalam.
Masyarakat kita ini adalah masyarakat yang sakit. Parah banget. Bahkan sistem pendidikan pun sengaja dibuat sakit. Aduahai, njlimet minta ampun. Kurikulum ganti-ganti terus dari menteri ke menteri. Bukannya makin sederhana, efektif dan riang gembira, tetapi semakin menakutkan dan membuat galau sana-sini. Ndak jelas.
Jadi, tidak fair juga jika hanya menganggap anak-anak terus yang kurang ajar. Apa iya, orang dewasa itu merasa dirinya "lebih ajar" terus? Tekanan luar biasa dari sana-sini yang anak-anak alami sejak dini, hanya membenihkan berbagai kemarahan di dalam bawah sadar. Di satu sisi, orang dewasa pada umumnya lupa, lupa bahwa mereka pernah berada pada posisi sebagai anak-anak. Mereka lebih suka menjadikan diri mereka sebagai Tuhan. Seolah-olah mereka faham akan semua rumus dalam menciptakan manusia menjadi robot pintar sekaligus malaikat berhati berlian.
Anak-anak itu adalah peniru ulung. Mereka punya recorder sendiri di dalam kepala mereka. Dikotbahi ini-itu mereka akan tunduk. Bahkan mereka manut aja kalo harus dicocok hidungnya. Ikut kesana kemari menuruti kemauan orang dewasa. Ancaman adalah mantra sakti para orang dewasa. Masih ada kultur, bahwa anak-anak tabu mengoreksi orang tua/dewasa. Diancam kualat dan masuk neraka jahanam kalo sampai ndak sopan. Padahal kelakuan orang tua mereka memang ndak bener. Sehingga, saban hari para orang tua/dewasa menjadi seenaknya mengobrak-abrik batin sang anak. Jadi, apapun yang terjadi di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat sedikit banyak akan memberi pengaruh pada perkembangan mental mereka ke depan sebagai manusia.
Jika beruntung, anak-anak akan tumbuh dan menyembuhkan setiap residu pengalaman pahit kekerasan yang mereka warisi dengan kesadaran mereka sendiri kelak. Namun jika tidak, mereka akan sama seperti orang dewasa sebagai manusia masa lalu. Jadi plis, ndak perlu lebay dengan ajaran Kasih yang sering diperdengarkan itu. Lihatlah kenyataan. Telusuri ke dalam diri masing-masing. Termasuk saya juga.
Lalu, ini PR siapa? Anak?
_/\_
Karimawatn, 21-09-2016

Tidak ada komentar