Header Ads

ads

Hantu Teriak Hantu


Isu PKI yang digembar-gemborkan oleh kelompok tertentu itu hanyalah omong kosong belaka. Lucu, terlalu mengada-ada dan ngisin-ngisini. Semakin kelompok ini direspon dengan berbagai komentar baik pro dan kontra, maka semakin panjang pula cerita soal omong kosong ini. Ndak kelar-kelar. Hilang sebentar lalu muncul lagi. Begitu seterusnya. Sesuai kebutuhan "musim". Tapi ya begitulah, isu PKI ini ibarat satu-satunya senjata terakhir yang bisa dipakai buat meyakinkan umat bahwa merekalah pahlawan pembela kebenaran dan keadilan. Padahal semua tahu, sebagai senjata terakhir ia sudah tidak berkhodam lagi. Sudah tidak sakti mandra guna.

Sudah seharusnya negara dengan berbagai instrumen yang dimilikinya mulai berani mengambil sikap tegas, cepat, profesional, tidak tarik-ulur, tidak mencla-mencle, efektif dan efisien, untuk segera mengambil sikap terhadap kelompok-kelompok yang memang hobi jualan isu PKI ini. Mereka ini cuma bikin ribut saja. Anti ketertiban umum.

Toh, masyarakat sudah tidak dungu lagi, bahwa komunisme itu sudah mati. Setidaknya secara ideologis itu barang sudah sangat lemah dan sulit sekali untuk berkembang biak. Bahkan sebenarnya masyarakat tidak terlalu peduli soal PKI. Yang penting aman mencari makan, itu sudah jauh lebih penting ketimbang memikirkan ideologi yang sudah jauh hanyut kelaut. Pelajaran sejarah soal komunisme dan PKI sudah jelas-jelas berisi "angka merah", terkesan dipaksakan demi menutupi aib penguasa saat itu. Manipulatif dan sangat politis untuk melindungi langgengnya kekuasaan yang ternyata memang tidak langgeng.

Dimanapun di dunia ini, sekomunis-komunisnya seseorang atau negara sekalipun pada akhirnya tetap kapitalis juga. Cina yang berideologi komunis pun corak pembangunannya sudah kapitalis. Korut masih komunis, gaya hidup pemimpinnya pun kapitalis, tak peduli rakyat menderita dan selalu was-was. Dan yang lain-lain sudah lama tumbang.

Zaman memang telah membuat manusia berlomba-lomba untuk bicara dengan menggunakan "modal" dan bukan lagi hanya pakai lidah dipenuhi dalil. Kekuatan modal adalah salah satu parameter yang menentukan "kasta" sebuah negara. Dengan kata lain komunisme yang sedari awal bertujuan meredam kapitalisme itu sudah mengibarkan bendera putih, tak berdaya akibat hantaman para kapitalis. Suka tidak suka, pada akhirnya para pemilik modal juga lah yang menguasai dunia saat ini.

Lalu, mengapa di negeri ini isu PKI itu gampang banget dimainkan? Sepak terjang PKI (komunisme) di Indonesia itu merupakan catatan traumatis masa lalu yang pernah mewarnai perjalanan bangsa ini. Komunisme dianggap sebagai "Hantu Ideologis" yang konon dianggap masih bergentayangan di dalam bawah sadar masyarakat. Sejarah menggambarkan bahwa Hantu Ideologis ini sangat menyeramkan dan berbahaya karena dapat menyebabkan "neraka" bisa menjadi lebih rame ketimbang "surga". Itu sebabnya, senjata pamungkas untuk memberangus faham komunisme ini adalah dengan menurunkan "Tuhan Ideologis" lengkap dengan agenda politisnya.

Mereka percaya bahwa dengan memantik bawah sadar masyarakat yang mungkin menurut mereka masih menyisakan residu traumatik akibat pengaruh komunisme masa lalu, mereka dapat menguasai negara bahkan dunia ini. Tapi hal ini adalah mimpi belaka. Terbukti, zaman telah membuat masyarakat siuman dan tidak ambil pusing dengan hantu masa lalu ini, kecuali dijadikan sebagai bahan lucu-lucuan belaka, sebab kelompok mereka ini pada dasarnya memang lucu abis.

Jadi isu PKI yang mereka hembuskan itu prinsipnya sederhana saja. Persis seperti judi sabung ayam. Mereka berspekulasi dengan berusaha menyabung Hantu dengan Tuhan demi hepeng dan tujuan politik tertentu. Kalau sudah di cap Komunis pastilah dianggap tidak bertuhan, makanya harus dikasih Tuhan. Tuhan versi mereka ini tidak boleh kalah dengan awan berbentuk palu-arit. Dan dari dulu isunya cuma muter-muter disitu doang. Apapun simbol yang menyerupai palu arit dianggap sebagai bentuk kehadiran Hantu Ideologis bernama Syaiton. Mereka ini adalah kelompok paranoid, baperan, caper, suka cocologi, penyebar hoax, penganut bumi datar yang selalu pengen menang sendiri.

Mereka ini tidak sadar, bahwa mereka juga sedang berada dalam pusaran kapitalisme. Kalo ngga ada yang ngasih modal, mana bisa bibib naik mobil mahal?. Mereka juga lupa, bahwa bertuhan atau tidak bertuhan, membawa palu atau hanya membawa arit, masyarakat cuma pengen cari duit dengan aman sentosa. Itu sebabnya Peruri selalu mendesain ulang model duit baru dari waktu ke waktu. Dan itu pun masih dibilang sebagai duitnya PKI. Hadeeuuhh.

Mereka ini seperti sedang mengigau, tidak tahu bahwa pemerintah saat ini tidak mau ambil pusing dengan ancaman isu PKI. Mereka seperti tutup mata bahwa pemerintah saat ini sudah mulai ada niat baik menegakkan "Amar ma'ruf nahi mungkar" sejak dari dalam kepala dan bukan sekedar pandai mengucapkan "Katakan tidak pada korupsi" dan berdoa di Twitter.

Mereka tidak faham, bahwa dengan cara yang lebih bermartabat, pemerintah sedang berjuang melalui lobi-lobi kapital dengan negara lain untuk mewujudkan pemerataan pembangunan ke seluruh negeri dengan cara yang lebih adil dan beradab demi anak-cucu mereka juga. Sebab, mana mungkin bangsa yang besar ini bisa maju dan makmur hanya dengan berjualan tapir, dalil dan stempel halal?

Coba deh dicermati baek-baek. Lucu koq, tanpa mereka sadari, mereka ini berakting seolah-olah mau memberangus kapitalisme dengan gaya syariah? Duh, yang berperan jadi Hantu sebenarnya siapa sih? Mereka tidak faham, bahwa cara-cara norak berbungkus agama yang mereka lakukan selama ini bakal tergulung zaman. Semakin norak, semakin cepat tenggelam. Lihat saja.! Apalagi tempat yang mereka pakai untuk praktek, salah. Bukan disini!. Nanti diakhirat saja.!

Karimawatn, 26-01-2017

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.