Header Ads

ads

Mengenal Sumber Kemunafikan


Di hadapan majelis Facebook yang terbuka ini, saya ingin mengatakan bahwa saya bukanlah orang religius. Saya pernah merasa sebagai religius, namun fase itu, romantisme itu sudah saya lewati sejak beberapa tahun silam. Sudah lama sekali.

Namun demikian, saya tidak anti kepada mereka yang memandang kehidupan religius itu sangat penting dan lebih utama dari segala hal. Saya juga bukan orang yang anti terhadap agama atau apapun pilihan spiritual yang orang lain tekuni.

Sekalipun orang tersebut tidak percaya lagi kepada Tuhan dengan melabeli dirinya sebagai atheis, agnostik, freethinker, penganut aliran kepercayaan, atau apapun juga sebutannya, bagi saya oke-oke saja. Tidak masalah. Di Bumi ini setiap pribadi memiliki kehendak bebas untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa harus saling memaksakan klaim kebenaran menurut egonya masing-masing.

Sebagai seseorang yang masih memegang KTP dengan kolom agama terisi, saya tidak perlu merasa alergi masuk ke tempat ibadah, walaupun tidak setiap saat saya bisa melakukan itu. Saya tidak anti dan tidak alergi masuk Gereja. Sekarang justru segalanya mulai tampak biasa saja, santai saja, dan nikmati saja. Saya tahu, bahwa di dalam Gereja (Katolik) juga banyak masalah. Dan masalah-masalah itu bukanlah diciptakan oleh Allah atau Iblis melainkan oleh manusia-manusianya sendiri.

Dengan demikian, yang disebut sebagai orang Katolik itu sama saja seperti manusia lainnya, tidaklah "bebas" dari berbagai permasalahan. Orang Katolik, mulai dari tingkat elit Gereja sampai pada level kaum papa selalu saja diliputi dengan berbagai konflik yang tak kunjung usai. Omong leon saja, sebagai manusia kalau tidak berkonflik (di dalam).

Adalah hal yang aneh, ketika di dalam kehidupan rohaniah, kita diajari untuk tidak menjadi manusia munafik. Dan kita selalu mendengar berbagai nasehat/ajaran yang mengatakan hal itu. Namun, semakin kita yakin dan merasa kualitas ibadah kita luar biasa hebat, semakin kita merasa unggul dihadapan Altar, kita justru lebih gampang mengatakan orang lain munafik. Kita lebih selow mengatakan orang lain berdosa, tidak hanya mengatakannya dengan mulut saja, akan tetapi sejak dari dalam pikiran kita sudah berkata seperti itu karena ego harus merasa nomor satu diantara pribadi lain.

Sadar atau tidak Kita ini sebenarnya telah lama dibentuk menjadi makhluk bernama munafik. Sejak kecil pikiran kita diarahkan untuk seperti itu melalui apapun yang pernah kita serap ke dalam otak Kita di sepanjang hidup ini, entah itu melalui pendidikan, pengajaran, nasehat, doktrin, konsep-konsep tentang hidup, dlsb. Dan sejak bayi, ego kita sudah mulai dibentuk sedemikian rupa tanpa bisa kita kendalikan. Hal ini terjadi sejalan dengan perkembangan otak, sehingga ketika dewasa, egolah yang membentuk siapa kita tanpa pernah kita sadari.

Ada saatnya, ketika Kita berhadapan dengan begitu banyak kontradiksi di dalam kehidupan ini, Kita tak berani mengakui dan menerima Diri sendiri sebagai manusia apa adanya. Kita menjadi tidak inklusif, tidak luwes dalam mengekspresikan bahasa jiwa kita yang seringkali memang sulit sekali difahami melalui sudut pandang mainstream yang selalu dibebanpengaruhi oleh berbagai keterkondisian. Dan disepanjang hidup ini Kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat banyak orang terkesan. Kita selalu saja ingin menjadi seorang pelari yang haus piala dan tepuk tangan penonton, tanpa mau belajar duduk, melihat dan mendengar tanpa mengharapkan apa-apa, bahkan surga sekalipun.

Tentu saja pemahaman tentang munafik seperti ini tidak ada di dalam kamus yang selama ini mengacu pada ajaran moral dalam tradisi religi. Sebab satu-satunya kamus hanyalah pikiran manusia itu sendiri. Munafik hanyalah topeng yang seringkali tanpa kita sadari menempel begitu saja di wajah ego ini. Ia adalah ego untuk menyesuaikan siapa kita dengan segala dorongan (keinginan) yang ada di dalam.

Tak peduli apakah ia adalah orang yang taat beribadah atau tidak, beragama atau tidak, ego tetap saja ego, tentu dengan berbagai keterkondisiannya, keinginannya, cara pandangnya, konsep yang dibangunnya, mimpi-mimpinya, dll. Jadi sebenarnya, kita cukup sadari saja bahwa semakin tipis topeng yang kita pakai, maka setiap langkah yang kita ayun didalam menapaki kehidupan ini akan terasa semakin ringan. Sebaliknya, semakin tebal topeng kita kenakan, akan semakin berat, maka semakin menderitalah kita.

Namun, Kita tidak perlu bertanya-tanya kepada siapapun juga, bagaimana caranya melepas topeng?. Apakah dengan mematri keimanan kita, kita pasti tidak munafik? Atau, adakah pedoman yang paling manjur agar saya bisa tidak lagi memakai topeng sama sekali sepanjang hidup saya? Pertanyaan seperti ini akan sia-sia apabila kita sekaligus tidak mau belajar "menyelam" sedalam-dalamnya ke dalam diri. Sebab disanalah sumber dari setiap bentuk topeng yang menempel secara otomatis di "wajah" kita ini. Tidak perlu bermimpi, bahwa dengan berdoa atau beribadah setiap saat atau dengan melepaskan diri dari kurungan dogmatis sekalipun, akan serta-merta menjadikan topeng ini hancur berkeping-keping, lalu dengan gampang kita berkata ; "Tu(h)an, terima kasih karena Kau telah melepaskan topengku. Dan kini Aku telah bersih karenamu. Segampang itukah untuk "membedah" ego ini? Yakin?

Perlu diingat kembali bahwa tidak ada hubungannya sama sekali antara pedoman/ritual moral yang dianut dengan sikap munafik seseorang. Tidak ada jaminan bahwa semakin religius (beriman), semakin spiritual atau semakin tak berdogma seseorang, ia pasti tidak akan menjadi manusia munafik. Dengan kata lain, menjadi munafik atau tidak, hal itu bukan lagi tergantung seberapa hebat kualitas kehidupan moral seseorang, atau seberapa yakin ia memegang teguh iman yang dijadikannya sebagai ego religius, akan tetapi seberapa jauh ia mau menelaah lapisan kesadarannya (layer by layer) dan menyadari dirinya sendiri hanya sebagai manusia biasa. Toh, semua faham, apa sih yang dibela manusia dalam kehidupan ini selain untuk memenuhi keinginannya sendiri? Apapun juga keinginan itu tetaplah keinginan, termasuk keinginan agar setelah kematian kita bisa menikmati kerajaan surga.

Pikiran kita mungkin mulai berkata, bahwa seakan-akan catatan ini ingin mengatakan, "Jadilah manusia Munafik!". Tidak, bukan begitu. Mau munafik atau tidak itu urusan pribadi. Memilih sikap munafik atau tidak, tidak tergantung pada perintah orang lain. Toh, semuanya berangkat dari sumbernya yang paling dalam, yaitu di dalam diri sendiri. Efek samping tentu saja ditanggung sendiri. Hanya Diri sendirilah yang bisa mengatakan hal itu kepada Dirinya sendiri. Sudah sejauh mana ego ini mempermainkan saya sampai detik ini, sehingga saya lupa bahwa egolah yang menguasai seluruh kehidupan saya?.

Kita ini hidup dalam lingkungan masyarakat yang penuh dengan kemunafikan. Mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga keagamaan (apapun juga), lembaga pemerintahan, institusi politik, hukum bahkan negara sekalipun, selalu saja di dalamnya "bersemayam" benih-benih kemunafikan. Akui saja ini sebagai fakta bahwa Anda dan saya itu ada dan hidup dalam kubangan yang sama. Hanya saja kita tidak perlu lebay mengatakan bahwa tuntunan moral yang selama ini kita ikuti telah bekerja 1000% ampuh dalam menangkal segala bentuk kemunafikan yang ada di dalam diri kita ini. Jika mau mengakui ini saja, maka "pelajaran" baru saja dimulai.

Bagaimana pun juga, panduan moral itu adalah segala sesuatu yang ada di luar Diri dan bukanlah sesuatu yang "asli" muncul dari dalam. Kita percaya begitu saja secara buta dan tuli pada setiap tuntunan yang bukan kita "tulis" sendiri. Kita percaya begitu saja pada nasehat-nasehat moral hanya karena orang yang mengatakan hal itu adalah pribadi yang dianggap terhormat di dalam keluarga atau didalam masyarakat. Kita percaya pada ritual ini dan itu, aturan ini dan itu, padahal belum tentu setiap aturan tersebut sesuai dengan apa yang kita pikirkan secara sadar. Belum tentu semua itu juga relevan dengan kehidupan kita saat ini. Sekali lagi, ini hanyalah tentang cara berfikir secara sadar dan bukan kepercayaan yang membabi buta. Walaupun sampai hari ini saya sendiri belum pernah lihat ada babi yang buta matanya.

Kita selalu tunduk kepala ketika ada yang mengatakan, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu sebab setiap tindakan yang akan kita ambil menurut kebutuhan jiwa kita akan berbenturan dengan konsep yang dibangun oleh masyarakat (mainstream) dan akan selalu dianggap salah. Kita selalu diam karena takut melukai perasaan orang lain, padahal batin kita sudah begitu lama lumpuh dalam kemarahan. Kita selalu menahan airmata agar dianggap tegar dan hebat, padahal batin sudah begitu lapuk dan tenggelam dalam kepedihan yang sangat menyakitkan. Kita selalu memoles kepribadian kita demi menarik perhatian orang lain, padahal ada saatnya jiwa ini hanya mau menikmati dan mencintai dirinya sendiri dengan apa adanya tanpa membutuhkan penilaian apapun dari luar.

Dan disaat kita mulai menyadari hal ini, maka disitulah awal dari segala macam bentuk "Pengingkaran Diri". Di situlah awal mula kita menjadi manusia munafik. Dan disitu jugalah awal mula pembelajaran tentang Diri bermula jika kita mau terbuka. Sayangnya hal ini tidak diajarkan dalam pelajaran agama bahkan tidak dijadikan tema utama dalam setiap homili.

_/\_

Karimawatn, 21-02-2017

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.