Header Ads

ads

Akhirnya Tuhan Mendekap Setan

Akhirnya Tuhan Mendekap Setan

TUHAN, kadang Aku harus berkali-kali berkata kepada Rohku sendiri bahwa Aku benar-benar tinggal di negeri yang lucu. Sangat lucu! Tidakkah Kau menyadarinya Tuhan, bahwa Setan tak sekejam mereka-mereka itu?

Adakalanya Aku ingin mengajak-Mu tertawa bersama, terbahak-bahak di atas singasana-Mu itu. Tapi Tuhan, Kau pun ternyata telah renta. Tak kulihat lagi raut sedih dan senangmu. Entah yang manakah Dirimu saat ini?.

Sedangkan mereka tak pernah puasa dan selalu berkata kepada banyak orang, bahwa setan adalah satu-satunya makhluk yang paling Kau kutuk. Mereka terlalu sibuk, sampai mereka sendiri lupa memberi-Mu makan dan minum di dalam pikiran mereka sendiri.

Mereka membuat-Mu menjadi Tua kerempeng dan berbau. Kau menderita bersama jaman yang lusuh. Disaat mereka berpesta dengan pakaian yang suci itu, Engkau mereka tinggalkan sendirian. Kau hanya berteman dengan seekor cecak yang iba melihat-Mu sekarat.

Betapa ibanya cecak itu, sampai ia tak pernah beranjak, tetap diatas langit-langit kamar-Mu yang bocor, Oh Tuhan. Airmata dan kotorannya berkali-kali jatuh tepat di dahi-Mu. Namun Kau tetap terdiam kaku tak berdaya. Tak sanggup Kau berkata apa-apa pada sahabat-Mu yang setia itu. Kau begitu senja. Sangat senja.

Tuhan lihatlah, satu-satu persatu pengagum-Mu pergi meninggalkan Dirimu yang sekarat. Lihatlah juga, mereka telah menitipkan sepucuk surat di meja kecil dekat pembaringan-Mu itu. Sudahkah Kau membacanya, Tuhan?

"Tuhan, maafkan aku, sebab aku harus pergi meninggalkan-Mu. Percayalah, Aku akan baik-baik saja. Aku tak kuat lagi melihat busa yang keluar dari mulut mereka ketika mereka berteriak menjual nama-Mu demi memenuhi keinginan mereka sendiri. Aku pergi Tuhan. Beristihatlah Engkau dalam Damai,Tuan".

Masih ada sebagian pelayan dan pengikut-Mu yang mencoba tetap setia menemani-Mu. Namun seringkali mereka tertidur dan terbuai oleh mimpi-mimpi mereka sendiri. Mereka memegang tangan-Mu yang mulai dingin sembari menumpuk kegalauan mereka sendiri di dalam dada. Kegalauan yang begitu dalam dan tak terungkap. Mereka takut bercerita kepada-Mu, sebab Engkau mungkin akan membenci dan mengusir mereka tanpa medapatkan warisan apapun juga, seperti yang Kau pernah janjikan.

Ketika mata-Mu menerawang tanpa isyarat, dan para pelayanmu tertidur pulas, saat itulah aku melihat Setan mendekati-Mu. Satu kakinya terikat rantai, dan diam-diam Ia meneteskan ibanya tepat di dada-Mu, mengecup kening-Mu lalu menyeka airmata-Mu yang membasahi seluruh kehenigan.

Ia memberi-Mu minum walau ia haus, dan menyuapi Engkau makan dengan sisa-sisa kehidupan kendati ia lapar. Sembari mengganti pakaian-Mu yang berbau itu, lirih ia berkata, "Tuan, jika tiba saatnya, ijinkan aku mati bersama-Mu.".

Seketika itu juga, pikiranku melukis tentang dunia asing yang baru, sebab Setan itu telah mendapatkan Tuannya kembali, yaitu Tuan yang yatim piatu sepanjang jaman. Akhirnya Tuhan pun pergi sembari memeluknya dengan keheningan yang paling intim.

Sedangkan diluar sana, mereka gaduh berpesta, penuh dengan jargon-jargon binal surgawi. Yang lain lagi, pergi merumput ke padang pikiran mereka sendiri yang jauh. Sebagian lagi, masih meratapi kegalaun yang tak berujung, melipat kenangan tentang Tuhan.

Karimawatn, 09-05-2017

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.