Bukan Lagi Soal "Ahok"
Apa yang harus dipetik dari sejarah? Tidak ada hal lain kecuali Hikmah. Ia adalah intisari pengetahuan yang sesungguhnya, yang hanya bisa dimaknai secara mandiri oleh setiap pribadi di dalam setiap ruas perjalanan sejarah itu sendiri.
Dan Hikmah dari sebuah tragedi kemanusiaan adalah bangkitnya kesadaran cahaya dalam setiap insan yang mau terbuka, yang tidak hanya mengandalkan nalar sempit dalam memaknai kehidupan ini melainkan juga mengedepankan pengalaman intuitif untuk menjelmakan kebenaran yang selaras dengan perjalanan semesta ini.
Jangan terlalu percaya pada kualitas otak yang berbungkus kain sutera sebab hal itu bisa saja menyesatkan setiap kekaguman yang mungkin muncul. Jaman telah mengubah manusia tentang bagaimana seharusnya ia memandang sesuatu didalam kehidupan ini. Setiap manusia yang mau terbuka tak perlu terlalu banyak "makan kertas dan pulpen" untuk dapat memetik nilai kebenaran yang memang bisa muncul dari pikiran mereka sendiri ketika sedang berhadapan dengan berbagai fenomena yang ada.
Setiap manusia boleh saja berusaha semaksimal mungkin memenuhi otaknya dengan beragam warna pendidikan. Namun pendidikan yang diperoleh tidak cukup jika hanya menjadikan dirinya pintar saja. Tidak cukup pula level pendidikan itu hanya berkutat pada titel akademis saja. Fakta membuktikan dijaman ini, banyak orang pintar yang justru pikirannya masih sangat primitiv, lebih primitiv dari otak kadal. Ketika otak sudah terkontaminasi dogma iman yang begitu parah, maka hal itu akan menjadikan dirinya tampak bodoh, sekalipun ia bergelar profesor. Namun sebaliknya, banyak juga kalangan manusia-manusia sederhana, berpendidikan seadanya justru mampu memicingkan mata dalam melihat kebenaran.
Sudah saatnya, kita semua mempertimbangkan untuk menghapus mata pelajaran agama, terutama di sekolah-sekolah negeri. Kembalikan agama ke dalam ruang privat. Agama tidak cocok dijadikan mata pelajaran di sekolah, sebab ia memiliki muatan yang tidak netral. Tidak ada satupun dogma yang dapat "merusak" alam bawah sadar manusia didalam pelajaran matematika, fisika, biologi, sosiologi, antropologi, sejarah, sastra, seni, budaya, dlsb. Silahkan Anda cek! .
Dan Hikmah dari sebuah tragedi kemanusiaan adalah bangkitnya kesadaran cahaya dalam setiap insan yang mau terbuka, yang tidak hanya mengandalkan nalar sempit dalam memaknai kehidupan ini melainkan juga mengedepankan pengalaman intuitif untuk menjelmakan kebenaran yang selaras dengan perjalanan semesta ini.
Jangan terlalu percaya pada kualitas otak yang berbungkus kain sutera sebab hal itu bisa saja menyesatkan setiap kekaguman yang mungkin muncul. Jaman telah mengubah manusia tentang bagaimana seharusnya ia memandang sesuatu didalam kehidupan ini. Setiap manusia yang mau terbuka tak perlu terlalu banyak "makan kertas dan pulpen" untuk dapat memetik nilai kebenaran yang memang bisa muncul dari pikiran mereka sendiri ketika sedang berhadapan dengan berbagai fenomena yang ada.
Setiap manusia boleh saja berusaha semaksimal mungkin memenuhi otaknya dengan beragam warna pendidikan. Namun pendidikan yang diperoleh tidak cukup jika hanya menjadikan dirinya pintar saja. Tidak cukup pula level pendidikan itu hanya berkutat pada titel akademis saja. Fakta membuktikan dijaman ini, banyak orang pintar yang justru pikirannya masih sangat primitiv, lebih primitiv dari otak kadal. Ketika otak sudah terkontaminasi dogma iman yang begitu parah, maka hal itu akan menjadikan dirinya tampak bodoh, sekalipun ia bergelar profesor. Namun sebaliknya, banyak juga kalangan manusia-manusia sederhana, berpendidikan seadanya justru mampu memicingkan mata dalam melihat kebenaran.
Sudah saatnya, kita semua mempertimbangkan untuk menghapus mata pelajaran agama, terutama di sekolah-sekolah negeri. Kembalikan agama ke dalam ruang privat. Agama tidak cocok dijadikan mata pelajaran di sekolah, sebab ia memiliki muatan yang tidak netral. Tidak ada satupun dogma yang dapat "merusak" alam bawah sadar manusia didalam pelajaran matematika, fisika, biologi, sosiologi, antropologi, sejarah, sastra, seni, budaya, dlsb. Silahkan Anda cek! .
Baca juga : Siliman Yang Terhormat
Akan tetapi berbeda dengan bidang studi agama yang selama ini dipaksakan hadir diberbagai sekolah (negeri), selain murid dibebani untuk mencapai nilai tertinggi tentang pemahaman agamanya, selama proses itu pula mereka tanpa sadar dicekoki dengan faham-faham eksklusif yang kemudian hari menjadikan mereka seperti zombie fanatis. Pelajaran agama justru sangat lemah dan sangat mudah disusupi faham radikal yang sangat berbahaya. Selain itu, menguasai agama berdasarkan disiplin akademis bukanlah jaminan bagi setiap generasi ke depan untuk tidak bersikap brutal dan korup. Sudah terlalu banyak contoh di negeri ini. Sampai kapan ini harus terjadi?
Sekali lagi, biarlah agama dipulangkan ke ranah privat saja. Cukup dari rumah, perlihatkan kepada anak-anak anda tentang nilai-nilai yang bisa dipetik dari ajaran agama yang lebih mengedepankan dan tidak melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal. Dan tak perlu takut mengatakan, bahwa apapun tentang ajaran-ajaran itu terutama yang tidak lagi relevan untuk kehidupan saat ini, buang saja dari dalam pikiran.
Tentu saja hal tersebut diatas masih bisa dilakukan, ketika setiap pribadi masih memandang agama itu sebagai sesuatu yang penting. Sedangkan sekolah, seharusnya sudah mulai me-replace pelajaran agama dengan pendidikan budi pekerti yang tidak harus mengedepankan rapor sebagai hasil utama, akan tetapi ia adalah proses terus-menerus yang bisa dilakukan sejak dini dengan cara berbagi tentang nilai-nilai kehidupan yang menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan yang universal. Membiasakan anak-anak disekolah untuk mengalami sendiri momen kontemplatif, juga akan sangat membantu pertumbuhan jiwa raga mereka ke depan. Dan jika hal ini bisa dilakukan, maka hikmah sejarah yang baru saja kita lewati ini akan jauh lebih berguna untuk masa depan umat manusia di negeri ini.
Jadi, pelajaran apakah yang bisa dipetik dari fenomena Ahok? Singkat saja, Ahok bukan lagi soal sosok daging yang bisa mati, melainkan telah menjadi pembuka ladang agar setiap ragam bunga dapat tumbuh dan mekar di dalam pikiran setiap orang yang mencintai bahkan membenci dirinya sekalipun.
Ahok bukan lagi soal pribadi yang minor, bukan pula tentang berbagai identitas palsu yang melekat pada manusia dan kerap dijadikan alasan untuk saling menghancurkan satu sama lain. Ahok adalah percikan energi baru di jaman ini yang tanpa sadar telah merasuki sebagian generasi dalam memperjuangkan kesetaraan nilai antar sesama makhluk yang disebut manusia di masa depan. Tidak banyak manusia seperti Ahok, saya dan Anda belum tentu mampu memainkan peran seperti yang dia lakukan selama ini.
Rasa sedih, malu, kecewa dan marah sesaat mungkin akan mengkristal di dalam penjara. Itu wajar. Namun terlalu larut didalam emosi yang seperti itu tak akan banyak membantu menyembuhkan keadaan. Alih-alih berjuang atas nama keadilan, tanpa sadar ego justru memunculkan penyakit primitiv lainnya akibat kontaminasi pandangan primordial yang memang sejak dari dulu dijejalkan dikepala kita.
Setiap orang yang melek bisa tahu dengan sangat jelas sekarang, bahwa Agama dan Politik itu adalah sahabat karib sejak dari dulu kala, yang ketika mereka bersatu, akan membuat tatanan kehidupan ini menjadi berantakan. Tapi percayalah, pasti akan muncul Pelangi dibalik mendung Sejarah yang sedang terjadi saat ini. Mari kita lihat.
Karimawatn, 10-05-2017

Tidak ada komentar