Buku
Orang bijak berkata, "Jika ingin pintar, maka bacalah buku sebanyak-banyaknya. Dengan membuka buku, Kau membuka jendela Kehidupan".
Itulah sebabnya sejak sebelum dilahirkan telah diwariskan kepadamu begitu banyak buku; Quran, Alkitab/Injil, Tripitaka, Weda, Tanakh/Talmud/Kaballah, Avesta, Wu Jing/Shi Shu/Xiao Jing, dll. Selain itu kau juga membaca pikiran Aristoteles, Socrates, Plato, Nietzsche, Karl Max, Soekarno, Tan Malaka, Pramoedya, Sapardi D.D, Krishnamurti, Osho, Neale, Coelho, Chopra, Gibran, Rumi, Tagore, dan masih banyak lagi.
Bahkan sejak kecil dan atas nama pengetahuan Kau telah berhadapan dengan buku-buku yang menumpuk dimejamu. Tak pernah kau ingat berapa jumlah halaman yang telah kau lumat dengan otakmu. Sampai suatu ketika Kau pernah kelelahan berhadapan dengan setiap ujian demi meraih prestasi dan prestise, dan semua itu hanya karena buku.
Ya, sebagian buku dan catatan kehidupan manusia bisa jadi merupakan sumber pengetahuan, kebijaksanaan, inspirasi, dan penuh dengan romansa. Namun, sebagian lagi telah dan masih menjadi sumber bencana bagi kemanusiaan yang tiada akhir. Manusia berperang karena buku, dan kemanusiaan tercerai-berai hanya karena "benda mati" berbentuk buku. Manusia mencintai dan sekaligus saling membenci hanya karena perbedaan isi buku.
Hanya karena kesaktian sebuah buku, manusia telah memisahkan diri dari manusia lainnya dan selalu beranggapan bahwa ia berbeda dengan yang lain. Pikiran manusia akan buku telah menjadikan diri mereka hidup dalam tembok-tembok yang berbeda, label yang berbeda, dan terpisah satu sama lain sejak ribuan tahun lalu. Buku warisan yang dianggap sebagai peninggalan peradaban paling mulia dimuka bumi ini telah mengkristalisasi ego salah satu spesies di planet ini menjadi makhluk superior sekaligus inferior.
Buku-buku itu, catatan-catatan itu bagaimanapun juga adalah produk masa lalu. Ia adalah pikiran dan pengalaman orang lain. Seseorang mungkin boleh berkata bahwa ia sedang belajar tentang cinta melalui buku yang ia anggap sebagai sumber kebenaran dan keselamatan. Namun tanpa sadar pemahaman akan cinta yang ia dapatkan hanyalah sebuah tipuan dan ilusi belaka. Sebab apapun yang disebut sebagai Cinta didalam buku itu tak lebih dari untaian kata yang penuh dengan distorsi. Si pembaca mungkin saja merasa penuh dengan cinta, namun disisi lain ketidaksadarannya sedang menidurkan kebencian dan ketakutan yang sewaktu-waktu bangun tanpa harus sengaja dibangunkan.
Bukankah memang sebagian besar tragedi kemanusiaan yang masih terjadi hari ini adalah disebabkan oleh keyakinan buta pada sebuah teori kehidupan yang telah dituliskan pada buku-buku itu? Lantas, bagaimana mungkin kita harus berbohong pada diri sendiri, bahwa apapun yang kita anggap sebagai sumber kebenaran yang mana hal itu berasal dari catatan usang masa lalu masih bisa dijadikan jaminan bahwa kehidupan manusia di planet biru ini akan damai tentram dan saling berpelukan hanya dengan "mengamini" setiap kata yang tersusun rapi dalam setiap lembar buku-buku itu?
Sungguh sangat mustahil, bahwa berpegang teguh pada kata-kata usang bahkan ketika hal itu dianggap sebagai catatan suci serta-merta akan menjadikan bumi ini menjadi tempat paling menyenangkan untuk ditinggali. Toleransi dan anti diskriminasi yang senantiasa digembar-gemborkan demi menciptakan kehidupan yang berprikemanusiaan hanyalah kepalsuan yang senantiasa terbungkus didalam ego yang pura-pura. Bagaimanapun juga, pada akhirnya manusia selalu berfikir bahwa mereka berbeda satu-sama lain.
Lalu pentingkah sebuah buku? Semua itu kembali kepada setiap pribadi. Bagaimanapun juga, akan lahir buku-buku baru yang akan mencatat pergeseran kesadaran umat manusia menurut level dan kesesuaian jaman. Demi membela ego yang buta kita sudah tidak bisa lagi hanya sekedar membaca, mendengar, mengutip, menghafal catatan masa lalu yang sebetulnya memang sudah usang, penuh kontradiksi dan tidak relevan bagi peradaban kemanusiaan saat ini.
Jadi, silahkan saja untuk memiliki banyak buku selain yang dianggap kudus itu. Akan tetapi lumatlah setiap lembar catatan yang memungkinkan jiwa semakin berkembang — bukan sekedar membangga-banggakan sebuah warisan masa lalu dalam bentuk buku sebagai benda mati. Sebab sebuah pengetahuan yang muncul hendaknya selaras dengan tingkat kesadaran yang selalu baru, sebab kebenaran itu bukanlah sekedar apa yang telah tertulis (text book).
Boleh saja mengkoleksi berbagai catatan pengetahuan serta memenuhi isi kepalamu dengan beragam genre buku, mulai dari kitab yang paling suci sampai catatan para pujangga. Namun dari sekian banyak buku itu, ada satu buku yang mungkin kau sering lupakan, yaitu dirimu sendiri. Kamu adalah satu-satunya buku yang tidak pernah kau baca selama ini. Bacalah.
_/\_
Karimawatn, 04-09-2017

Tidak ada komentar