Ikan Sapu-Sapu
Ketika ada orang lain dengan sengaja mengambil tubuh dan pikiranmu keluar dari habitat aslimu untuk dijadikan sebagai ikan hias demi menyenangkan setiap pasang mata yang akan memandangmu, maka wajar saja jika Kamu punya satu harapan — semoga saja sang pemilik aquarium itu rajin mengganti air tempat Kamu berenang.
Akan tetapi, jika orang tersebut tidak berkehendak baik merawat dan secara berkala mengganti air aquarium tempat Kamu bermain, maka lama-lama matilah Kamu. Sebab bagaimana pun juga air yang awalnya jernih dengan sendirinya akan berubah menjadi keruh, berbau dan beracun.
Itu sebabnya, dalam hidup seringkali jauh lebih baik memilih menjadi diri sendiri saja. Jika kamu adalah Ikan Sapu-Sapu, maka bersyukurlah atas kenyataan bahwa sejatinya Kamu memang Sapu-Sapu, dan jangan pernah berfikir bahwa Kamu bisa berubah menjadi Ikan Arwana apalagi Lumba-Lumba. Walaupun dimata mereka Kamu jelek, kulitmu kasar dan suka berenang dikali kotor, Kamu tetap bisa bertahan hidup tanpa harus mengharapkan keterpukauan orang lain. Jadilah Sapu-Sapu yang penuh sukacita tanpa harus ribet memikirkan apakah mereka akan memberikan applause yang meriah atau tidak terhadap hidupmu.
Sekalipun ada yang mengambil dan memasukkanmu kedalam aquarium, mereka tetap tidak akan peduli dengan apa yang Kamu lakukan. Apalagi dengan rupamu yang mereka anggap jelek, berkulit kasar dan tebal itu, siapa yang akan peduli? Siapa yang akan terkagum-kagum memandangmu yang diam di akuarium itu? Siapa yang akan dengan jujur mengakui bahwa Kamu juga adalah bagian dari keindahan semesta ini? Mungkin tidak ada, dan sama sekali tidak ada jaminan untuk hal yang seperti itu.
Mereka hanya terpukau pada ikan-ikan yang bertingkah-rupa menawan saja. Mereka hanya senang pada yang jinak-jinak saja, yang mudah diatur dan dikendalikan tanpa berani komplain, sebab mata dan kepala mereka hanya butuh penghiburan akan hal-hal yang mereka anggap indah, yang menyenangkan hati mereka, dan yang mereka anggap normal menurut kacamata parsial mereka sendiri.
Sedangkan Kamu, Kamu dimata mereka hanyalah makhluk pembersih lumut. Tidak menarik, dan tetap jelek. Sebab sebagus apapun kamu bersikap, mereka tetap membuta. Bagi mereka Kamu tetap dinilai tidak lincah menari di air dan hanya diam saja seperti batu yang tenggelam. Padahal, secara natural memang seperti itulah karaktermu sebagai Sapu-Sapu.
Tentu saja, hal ini bukan perkara Kamu tidak boleh bermimpi untuk menjadi versi Sapu-Sapu yang lebih baik, akan tetapi jauh lebih baik lagi jika tidak menghabiskan energi jiwamu, sepenuhnya hanya berpura-pura demi menyenangkan orang lain, demi menarik simpati orang lain, sedangkan jiwamu sendiri Kau biarkan keropos dan menjadi rapuh.
Sadarlah, bahwa dalam masyarakat kita setiap hubungan pada umumnya dibangun dengan konsep "Ada Apanya" dan bukan "Apa Adanya". Mulai dari urusan rumah tuhan sampai pada urusan rumah tangga, gejalanya hampir sama. Hanya saja Kita tak mau terbuka dan jujur mengakui hal yang seperti itu ada dan benar-benar terjadi didepan mata Kita sendiri.
Kita selalu mencari wilayah aman dengan senantiasa bersembunyi dibalik opini orang lain, tradisi, dan berbagai konsep yang dibangun masyarakat. Sehingga ketika Kita berani dengan tegas mengambil sikap dengan membuat batasan demi memperbaiki kembali jiwa Kita yang keropos, menyirami kembali batin Kita yang layu akibat terlalu lama terpenjara, maka Kita akan dianggap tidak normal, dianggap bertentangan dengan norma kehidupan, dan bahkan akan dianggap gila.
Akan tetapi ketahuilah, bahwa sebagai Sapu-Sapu setidaknya keadaanmu yang apa adanya seperti itu sudah lebih dari cukup, dan Kamu selalu dapat berada dalam wilayah solitermu tanpa harus mencemaskan hal-hal lain diluar dirimu yang tidak perlu.
Cukupkanlah pikiranmu bahwa sebagai Sapu-Sapu adalah sangat mustahil bagimu untuk menjadi Ikan Koi atau Arwana. Dengan begitu Kamu sungguh-sungguh menerima seluruh keberadaanmu yang utuh menyatu dengan jiwamu. Itulah kesejatian, yaitu kesejatian yang apa adanya dan tidak dapat dibandingkan dengan yang lain.
Tapi seperti itulah realita hidup. Seperti itulah yang terjadi di masyarakat. Orang lain akan dengan mudah menilai sisi buruk hidupmu, karena hal itu memang sangat gampang dilakukan. Namun pada saat yang bersamaan mereka kesulitan untuk belajar "mengamati" sisi lain dari dirimu sebagai manusia yang sebenarnya sama saja seperti mereka.
Mengeksploitasi kekurangan (kelemahan) seseorang itu memang sangat gampang, sedangkan melihat hal-hal kecil dan sederhana yang ada pada seseorang seringkali terabaikan. Ketika mereka berkuasa terhadap aquarium, mereka bisa berbuat seenaknya menurut kehendak mereka sendiri tanpa pernah mau rendah hati untuk belajar mendengarkan derita ikan-ikan yang mulai keracunan.
Mereka tidak pernah mau duduk setara sebagai manusia biasa karena mereka sangat kesulitan melepaskan status, jabatan, umur, cara pandang, ditambah ego yang sulit sekali untuk rendah hati. Yang ada hanyalah sikap yang pamer, "I am better than You, and You are nothing". Akan tetapi, Kamu tidak perlu ikut dalam permainan manusia seperti itu. Menjauhlah dari permainan yang sering membanding-bandingkan kemanusiaan seperti itu, karena memang tidak ada gunanya.
Sekali lagi, Kamu bebas memilih untuk menjadi Sapu-Sapu. Tidak ada yang salah. Mungkin saja menurut takaran umum nilai jualmu menjadi sangat rendah, tapi perlu diingat bahwa hidup didunia ini bukan untuk menggadaikan seluruhnya jiwamu kepada pemilik aquarium yang tidak bertanggung jawab dan seenaknya saja.
Tak perlu lagi menipu diri dan berpura-pura. Dan yang lebih penting adalah bahwa tugasmu dalam hidup ini bukan untuk menyenangkan semua orang seperti seorang aktor dalam sebuah film. Ada saatnya Kamu tidak perlu memainkan script yang ditulis masyarakat, apalagi jika script tersebut tidak cocok dan tidak sehat bagi jiwamu sendiri.
Mulai hari ini, biarlah Kamu sendiri yang memilih dan menilai dengan jujur siapa Kamu sebenarnya, yaitu Kamu yang sedang melangkah di jalan setapak kehidupan ini. Kamu berhak menerima bahkan melepaskan apapun juga yang sekiranya itu tidak lagi bisa membuat jiwamu mekar.
Ubah cara pandangmu, dan lihatlah hidupmu secara menyeluruh, yaitu semua hal tentang yang baik atau buruk yang telah dan sedang Kamu alami. Pandanglah semua itu sebagai satu-satunya siluet pengalaman yang utuh dan indah hanya bagi jiwamu sendiri, dan bukan menurut opini orang lain.
Jiwamu yang murni tidak membutuhkan sepasang sayap untuk terbang, dan dia bisa pergi kemanapun dia suka tanpa sayap rasa takut. Dan jiwamu yang unik itu adalah sesuatu yang tak terbandingkan. Seperti halnya bintang di angkasa yang memiliki cahaya dan kecerahannya sendiri. Tidak ada satu bintang pun yang hidup dalam kecemburuan karena perbedaan terang mereka. Mereka berani, dan tetap bersinar.
Tarik napas, melangkah saja dengan rasa damai di dada. Jadikan setiap gerak hidupmu sendiri sebagai irama syukur dan sukacita. Percayalah pada jiwamu, karena memang tidak ada yang perlu dicemaskan. Satu hal perlu diingat, bahwa kesadaran untuk menyeimbangkan batin yang di dalam jauh lebih penting daripada hal apapun yang dapat Kamu raih dalam kehidupan ini.
Namun, jika kamu terus meletakan opini orang lain kedalam pikiranmu tentang hidupmu, maka sebenarnya Kamu sedang melakukan kekerasan terhadap jiwa sendiri. Seharusnya jiwamu mekar seperti bunga, namun Kamu sendiri yang membuatnya menjadi layu.
Tak perlu galau, alami segala sesuatu yang datang dan pergi dalam kehidupanmu ini. Segalanya pasti berubah dan tidak akan pernah selalu berada pada titik dan keadaan yang tetap. Tak perlu lagi menyalahkan diri sendiri atas apa adanya dirimu SAAT INI.
Memang, seringkali kehidupan ini membuat batinmu jatuh berantakan dan Kamu merasa lelah dengan sesuatu yang bukan Kamu. Untuk itu, ada kalanya Kamu harus belajar untuk berkata "TIDAK" tanpa membawa perasaan bersalah. Membuat batasan itu sehat. Kamu hanya perlu belajar untuk lebih menghormati dan merawat jiwamu sendiri, bukan orang lain.
_/\_
Karimawatn, 15-09-2017

Tidak ada komentar