Header Ads

ads

Ali

Ali

Di sebuah kampung, ada seorang pemuda yatim-piatu sederhana yang hobi memancing. Ali namanya. Jika sedang tidak musim berladang, maka hampir setiap hari tak ada pekerjaan yang lebih ia senangi selain memancing, memancing dan memancing.

Pagi itu seperti biasanya Ali pergi menuju sebuah sungai kecil yang ada di kampungnya. Tidak lupa ia mengajak sahabatnya, Tibu, seekor anjing kampung berwarna coklat yang setia menemaninya kemanapun ia pergi. Tak lupa ia membawa joran andalannya dari bambu dan umpan yang telah ia siapkan sebelumnya. Dengan santai Ali berjalan sambil bersenandung menyusuri jalan setapak menuju ke arah sungai yang memang tidak terlalu jauh dari gubuk tempat tinggalnya.

Tidak lama kemudian sampailah ia di sungai itu. Disitu ia mulai melirik kesana-kemari mencari tempat yang kira-kira ada banyak ikannya. Sebenarnya Ali sudah mengenal daerah aliran sungai tersebut karena ia sering berada di situ menghabiskan waktu ditemani joran pancing, Tibu dan kicauan burung di sepanjang tepian sungai itu. Akan tetapi kali ini matanya tertuju pada sebuah jembatan kayu yang ada disitu.

“Sepertinya menyenangkan jika aku duduk dan menjatuhkan kail dari jembatan itu. Aku bisa sambil bersantai sembari menunggu Ikan-ikan menghampiri pancingku.”

Segera Ali menyusul Tibu yang sudah lebih dulu berada di atas jembatan. Sepertinya anjing kampung itu tahu kalau tuannya akan memilih tempat itu untuk memancing. Tak lama Ali sudah berada di jembatan itu dan meletakan beberapa bawaannya. Kemudian tanpa berlama-lama ia segera memasang umpan lalu menjatuhkan kail itu ke dalam sungai. Duduklah ia di jembatan kayu itu menunggu ikan-ikan datang memakan umpan.

“Bu, sungai ini kelihatan lebih deras dari biasanya. Aku tidak begitu yakin banyak ikan yang akan memakan umpanku hari ini. Tapi tak apa, santai saja.”, kata Ali kepada anjingnya. Tibu hanya mengibas-ngibaskan ekornya.

Waktu terus berjalan. Sudah berjam-jam ia berada di situ dan tak seekor ikan yang ia dapatkan. Walau belum mendapatkan ikan, ia kelihatan begitu tenang dan sangat menikmati berada di jembatan itu. Mungkin karena suara burung-burung yang berada di pepohonan di tepian sungai ikut menemaninya dengan kicauan mereka yang sangat bersemangat.

Dan waktu semakin tinggi. Namun masih belum ada seekor ikan yang ia dapatkan. Tanpa ia sadari umpan yang ia bawa dari rumah sudah hampir habis. Ia tetap duduk di jembatan itu sambil mengayun-ayunkan kakinya. Ali tampaknya tidak menghiraukan apakah ia akan pulang membawa ikan atau tidak. Ia kelihatan begitu menikmati kesendiriannya di atas jembatan tua itu.

Dan melintaslah seseorang pemuda di jembatan itu. Ternyata itu Imam, sahabat Ali. Tidak lama kemudian mereka pun terlibat dalam sebuah percakapan.

“Hei Li, sudah berapa banyak ikan yang kamu dapat hari ini?”, sapa Imam.

“Eh, Kamu Mam. Belum ada nih. Dari tadi pagi aku disini tapi belum ada ikan yang kudapat."

Sambil memegang joran dan mengayun-ayunkan kakinya, Ali balik bertanya,

“Kamu dari mana Mam, Kamu kelihatan letih?”.

“Kamu tidak tahu Li, setiap hari aku keluar kampung untuk mencari pekerjaan di luar sana. Tidak seperti kamu yang bisanya cuma memancing saja!”.

Mendengar perkataan temannya itu Ali diam saja.

“Li, aku ingin hidup sukses. Aku tidak ingin berada di kampung ini terus. Aku ingin tinggal di kota dan hidup bahagia disana. Itu sebabnya aku berusaha mencari kerja. Aku tidak mau lagi jadi orang susah. Aku harus jadi orang kaya. Kenapa kamu tidak berpikiran seperti itu Li?”

Ali masih saja mengatup bibirnya sementara Imam melanjutkan nasehatnya kepada sahabatnya itu.

“Li, aku ada ide untukmu. Cobalah kamu membuat sebuah jaring. Atau jika kamu ada uang, Kamu boleh membelinya ke pasar. Kamu tidak perlu susah dan berlama-lama menunggu ikan memakan umpanmu. Cukup kamu tebarkan saja jaring itu ke sungai, pasti banyak ikan yang akan Kau dapat.”

“Untuk apa?”, tanya Ali

“Ya, kamu tidak perlu capek duduk di situ seharian tanpa seekor ikan pun yang Kau bawa pulang ke rumah. Itu pekerjaan sia-sia Li, buang-buang waktu dan tenaga.!”

Ali tersenyum sambil memandangi aliran sungai yang jernih itu. Ia mengangkat pancingnya dan hendak memasang umpan lagi.

“Imam, apa bedanya jika aku memancing dengan cara seperti ini bila dibanding dengan menggunakan jaring?”

Sambil memegang pundak Ali, Imam menjelaskan apa maksudnya kepada Ali, 

“Oalaahh Li, pantas saja kamu kelihatan begitu bodoh. Jika kamu punya jaring, tidak hanya satu ikan yang bisa kau dapat. Kamu bisa mendapat banyak ikan. Bisa lima, sepuluh, lima puluh ekor sekali tangkap, bahkan lebih. Yang jelas Kamu bisa membawa pulang lebih banyak ikan dari biasanya.”

“Untuk apa ikan sebanyak itu Imam?”, tanya Ali lagi.

“Li, kalau Kau punya banyak ikan, maka ikan-ikan itu bisa kau jual ke pasar. Lumayan kan, beberapa ekor bisa untuk lauk dirumah dan sisanya bisa Kau jadikan uang”.

“Untuk apa uang itu Imam?”

Ali mulai gesit bertanya sambil matanya menatap ujung jorannya. Kali ini Imam merasa agak aneh dengan pertanyaan Ali.

“Li, kamu ini benar-benar bodoh ya! Dengan uang yang banyak kamu bisa beli perahu dan kamu bisa mencari ikan dengan jaringmu ke laut. Ikan yang akan kau dapatkan bisa lebih banyak lagi!”

Imam berusaha menembus pikiran Ali. Namun ia tetap tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Ali saat itu. Yang jelas Imam tampak mulai jengkel dengan sahabatnya itu.

“Jika aku ke laut dan mendapatkan ikan yang lebih banyak, untuk apa semua itu Imam?”.

Imam tampak semakin gondok menjelaskan maksudnya kepada Ali.

“Li, tidakkah kamu sadar hidupmu sudah seperti ini sejak lama. Sejak kedua orang tuamu tidak ada, hidupmu seperti itu terus dari dulu. Di kampung ini Kita sudah terlalu lama hidup susah Li, dan kerjamu hanya memancing. Kalaupun tidak memancing, kau hanya pergi berladang. Itu pun hasilnya cuma buat sehari-hari. Tidak cukup, Li! Apakah kau tidak ingin menjadi orang kaya seperti orang-orang diluar sana Li?"

Nasehat Imam kepada sahabatnya itu, seperti hujan deras yang datang tiba-tiba.

"Semakin banyak ikan yang kau dapatkan, maka uang yang akan kau miliki pun akan semakin banyak Li. Kau bisa menabung dan bisa memiliki apa saja. Kalau Kau mau, Kau boleh membeli sebuah kapal yang besar dan mempekerjakan banyak ABK yang akan membantumu bekerja di kapal."

"Kapanpun Kau mau, Kau dapat mengarungi samudera sambil menjaring ikan dengan jaring raksasa. Dan kelak kau bisa memiliki rumah yang besar seperti istana. Saat hal itu bisa Kau wujudkan banyak orang akan mengagumimu karena Kau telah menjadi seorang penangkap ikan yang paling sukses di dunia ini. Percayalah padaku Li!"

Sesaat suasana hening. Ali tetap setia dengan jorannya. Sesekali ia menatap wajah Imam yang sedang menerawang masa depan.

“Untuk apa semua yang kau sebutkan itu Imam?”

“Huh, susah bicara dengan orang dungu sepertimu Li. Semua itu agar kau BAHAGIA!”. Masakan Kamu tidak ingin hidup bahagia Li? Itu sebabnya Aku sekarang seperti ini. Setiap hari aku keluar kampung, mencari pekerjaan di luar sana. Jika aku ingin bahagia, maka aku harus mencari semua yang kuinginkan. Mendapatkan pekerjaan, mendapatkan upah yang besar, mengumpulkan banyak uang, dan menjadi orang sukses yang sesungguhnya. Hanya dengan jalan seperti itu aku akan BAHAGIA, Li. Aku tidak akan cemas lagi dengan masa depanku kelak. Ayolah Li, buang saja pancingmu itu. Tidak berguna. Sebaiknya Kau ikut denganku, Kita adu nasib keluar dari Kampung ini."

Ali masih terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia tetap setia memegang jorannya sembari menikmati aliran sungai yang jernih di bawah jembatan itu. Sepoi angin yang membelai pepohonan di sepanjang tepian sungai kecil itu membuat ia hanyut dalam nikmat yang tak kan dimengerti Imam. Sedangkan Tibu, anjing coklat itu, seolah tidak menghiraukan apapun yang sedang mereka bicarakan. Ia tertidur pulas didekat Ali, tuannya.

“Imam, sahabatku. Aku senang bertemu denganmu hari ini. Terima kasih telah meluangkan waktu bersamaku di jembatan ini. Sepertinya burung-burung di pepohonan itu juga penasaran, apa yang sebenarnya yang kita bicarakan disini. Mereka tetap riuh berkicau, sedangkan Tibu, sahabatku ini mungkin sudah larut dalam mimpinya sendiri.", Ali mengusap-usap tubuh Tibu sahabatnya. 

"Tahukah kau Imam, sudah lama aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku rindu, ketika dulu kita sering bersama menunggu ladang disaat panen hampir tiba. Kala itu, tak sedikitpun kulihat raut kecemasan diwajahmu. Kau dan aku bergantian menghalau pipit-pipit itu agar menyisakan secukupnya padi-padi itu untuk Kita."

Sambil melemparkan kailnya ke sungai, Ali melanjutkan kata-katanya.

"Dan satu hal yang paling aku rindu darimu Imam, bunyi serulingmu. Ya, sudah lama tak kulihat lagi bibir dan jari-jemarimu memainkan nada kegembiraan Kita waktu itu. Sampai hari ini pun aku masih belum bisa meniup seruling sepertimu. Itulah mengapa seperti ada banyak yang hilang di pondok ladang kita."

"Guk,.. guk,..guk!", tiba-tiba Tibu terbagun dan menggonggong, seperti melihat sesuatu di seberang sungai.

Imam yang tadinya hanya berdiri, kini duduk disamping Ali. Ia menerawang ke hulu sungai dan sesekali menundukkan kepala.

"Imam, beberapa kali aku bertandang kerumahmu tapi kau tidak pernah ada. Belakangan aku tahu, Pak Soleh tetangga sebelah rumahmu pernah mengatakan kepadaku bahwa Kamu sekarang sibuk mengadu nasib ke luar kampung. Sejak saat itu, aku berhenti mencarimu Mam. Aku menghormati pilihan hidupmu. Tidak ada alasan bagiku untuk menahanmu agar tidak keluar dari kampung ini. Kau satu-satunya sahabatku dari sejak kecil dikampung ini. Sejak kecil, sahabat kita Uram, sudah pergi meninggalkan Kita selamanya. Kudai juga sudah tidak pernah berkabar sejak keluar dari kampung ini. Bahkan ia tidak pernah pamit kepada Kita. Dan setahun yang lalu, Kita kehilangan Jajak. Ia pergi seketika setelah tetimpa pohon di ladang itu."

"Maafkan aku Li. Soal Jajak, aku benar-benar merasa bersalah. Aku teledor. Aku tidak tahu kalo Jajak waktu itu ada disebelah pohon yang aku tebang itu. Aku benar-benar tidak tahu pohon itu akan tumbang ke arah Jajak."

Penyesalan yang tak tertahan, kedua mata Imam mulai basah mengenang sahabat mereka Jajak. Ali pun terdiam. Suasana berubah menjadi hening. Imam mengangkat kepalanya ke langit dan membiarkan air matanya terpapar matahari.

"Jak, andai Kau mendengarku saat ini, maafkan Aku Jak. Maafkan.!"

"Sudahlah Mam. Semua sudah terjadi. Biarkan Jajak damai di perjalanannya saat ini."

Ali mengemaskan jorannya. Lalu mengambil rantang kecil yang ia bawa dari rumah.

"Mam, mari makan. Aku cuma ada nasi dan dua potong ikan asin. Kita bagi berdua."

"Sudah Li, terima kasih. Untuk kamu saja."

Ali tak menghiraukan Imam. Ia membagi nasinya ke dalam tutup rantang dan meletakkan sepotong ikan asin diatasnya.

"Ini, ambilah Imam. Ayo makanlah. Sudah lama Kita tidak makan bersama seperti ini."

Imam mengambil bagiannya dan mulai makan.

"Buu,.. Buuu,.. Tibuuu.....!"

Tibu datang menghampiri Ali. Kemudian Ali menyisihkan sebagian nasinya dan membagi setengah ikan asin miliknya untuk anjing kesayangannya, Tibu.

Sambil menikmati makan siang itu, mereka berdua melanjutkan obrolan mereka tentang nasib.

"Mam, Kamu sepertinya sudah sangat sibuk dengan pencarianmu di luar sana. Tapi sekali lagi, sebagai sahabat aku tidak bisa mengatakan apapun soal pilihanmu. Aku minta maaf, saat ini aku tidak bisa ikut denganmu keluar sana. Kamu pergilah, ambil jalan hidupmu sendiri. Biarlah aku disini saja. Masih ada Tibu disini yang menemaniku pergi ke ladang."

"Ya, Ali. Rasanya aku harus memilih jalanku. Walaupun aku tahu, masih ada sedikit keraguan dalam hati."

Sejenak mereka berdua menyantap bulir-bulir nasi dan ikan asin itu. Tak ada kata apapun yang terucap selain melahap makan siang yang sangat nikmat itu.

"Imam, tadi Kau berkata bahwa aku harus berbahagia. Apakah menurutmu sekarang aku tidak bahagia? Bagaimana kamu tahu semua tentang hal itu?

Imam berhenti mengunyah dan berkata kepada sahabatnya,

"Entahlah, Li. Aku merasa bahwa rasa derita ini harus aku ubah. Aku harus mencari kebahagian yang aku inginkan. Dan sepertinya kebahagiaan itu tidak ada di kampung ini. Aku harus keluar dari sini."

"Jika memang itu yang Kau inginkan, maka aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi kepadamu, Imam. Aku tidak akan menghalangimu. Aku pun tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu saat ini. Satu hal saja, Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu, SAAT INI dan DI SINI, di atas jembatan ini AKU sedang BERBAHAGIA. Aku bahagia dengan semua ini. Dan aku sedang merayakannya. Terima kasih, Imam. Terima kasih karena Kau telah sudi ngobrol sebentar disini. Rindu akan sahabat kecilku sudah terbayar hari ini."

Kebahagiaan itu aneh; ia datang saat Anda tidak mencarinya. Biala Anda tidak berusaha untuk bahagia, maka secara tak terduga, secara misterius, kebahagiaan ada di sana, terlahir dari kemurnian, sebuah keindahan. ~ Jiddu Khrisnamurti

Leonians - KhunThien, 00-00-000 (Entah Tahun Berapa, Lupa Tanggal)

**

NB: Nama didalam cerita ini adalah fiksi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.