Header Ads

ads

Pak Ratman

Pak Ratman
Prosesi pemakaman Pak Ratman, Pemakaman Katolik Singkawang
Saat itu di kelas 1 B SMA St. Paulus Nyarumkop sedang digelar mata pelajaran Geograpi. Entah kenapa staminaku kala itu kacau-balau. Padahal pada pelajaran Geograpi sebelum-sebelumnya aku tak serapuh ini dan aku masih PeDe menunggu jam pulang sekolah untuk merayakan makan siang — nanti di asrama. Hari itu, mataku digebuk habis-habisan oleh rasa kantuk yang luar biasa.

Memang, kantuk dan lapar adalah musuh yang selalu bergantian menghantam jiwa ragaku saat itu. Apalagi jika sedang mengikuti jam pelajaran terakhir. Maklumlah, anak asrama — lonceng/bel adalah satu-satunya penguasa kehidupan. Sabar dan tak sabar adalah soal kapan lonceng/bel berbunyi.

Hari itu, seperti biasa aku duduk di bangku mepet dinding sebelah kiri (menghadap papan tulis). Aku berjuang mati-matian agar tidak terhempas kedalam lelap yang akan menyisakan jejak air liur di atas meja.

Berbagai upaya dan gaya sudah aku coba agar tetap stabil dan tidak goyah demi mendengarkan Pak Ratman yang sedang menjelaskan di depan kelas. Tapi aku terlampau tak berdaya. Aku memikirkan sebuah siasat. Ku ambil sebuah buku tulis, lalu kuputar-putarkan menggunakan jariku. Oh, teknik Spinning ini adalah trik terakhir yang aku pakai untuk membunuh kantuk yang hampir saja membuat aku K.O di atas bangku saat itu.

Ternyata Pak Ratman, Pak Guru yang everyday selalu berpenampilan klimis itu melihat gelagatku yang memang mulai aneh. Dengan nada yang agak tinggi dari biasanya bapak menegurku,

"Hei kamu!", sambil menunjuk ke arahku. 

Aku menatap ke arah bapak. Yup, benar saja. Walaupun beliau berkacamata tapi tatapan Pak Ratman ampuh merobohkan permainan anehku. Aku pun mengkerut seperti anak kucing yang baru saja nyemplung diselokan. Aku berpura-pura serius.

"Iya kamu! Masa kecilmu kurang bahagia ya? Kalau mau main-main, kamu keluar saja sana. Main di halaman sana. Jangan ikut pelajaran saya.!"

Suasana mendadak hening dan aku pun membatu — diam tanpa kata. Seakan-akan buku yang aku putar-putar tadi pun ikut mentertawakan kebodohanku.

**

Itulah teguran paling klimis dari Pak Ratman yang tak akan pernah aku lupakan. Selama 23 tahun, ingatan itu masih aku simpan rapi dalam almari kenangan di kepalaku.

Hari ini, 31 Mei 2018, Pak Guru yang baik itu telah berpulang. Ia berpulang dengan meninggalkan kesan baik dalam setiap lipatan memori. Senyum dan keramahan adalah sisi lain dibalik ketegasan beliau saat mengajar. Terima kasih Pak Ratman.

Terima kasih pula untuk kebaikan Semesta karena telah menghadirkan bapak didalam secarik perjalanan hidup kami sewaktu masih menjadi anak putih abu-abu di SMA St. Paulus — di lembah Bukit Poteng yang selalu membisu itu.

Selamat jalan Pak Suratman. Bapak pasti berbahagia dalam perjalanan pulang ini, sebab bapak kembali ke rumah Sang Maha Kasih, yaitu Dia yang akan mendekap bapak dengan penuh Cinta selamanya.

Sekali lagi, selamat jalan bapak. Terima kasih,..Terima kasih,..Terima kasih.

AD PERPETUAM REI MEMORIAM. REQUIESCAT IN PACE.

Karimawatn, 31-05-2018

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.