Belasungkawa
1. Keluarga Polisi yang ditinggalkan
Wafat dalam tugas adalah satu kosekwensi yang memang mungkin saja terjadi, bahkan untuk profesi apapun. Tidak ada kematian yang pernah datang dengan permisi.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, kini saatnya melepaskan jiwa-jiwa Garuda itu dengan Cinta. Perlahan, walaupun begitu berat teruslah sembuhkan kesedihan ini dengan lebih banyak menggelar keikhlasan. Semakin ikhlas, semakin lapang juga jalan mereka. Semakin ikhlas, semakin cepat proses penyembuhan luka bagi yang masih hidup.
Sesuai sumpah, mereka telah menepati janji, siap melayani keluarga, bangsa dan negara. Itu sebabnya kepergian mereka adalah kepergian yang terhormat. Untuk keluarga dan para istri, tetaplah besarkan hati anak-anakmu. Terus hidupi mereka dengan cinta dan bukan dendam. Pupuk jiwa mereka dengan welas asih. Dan pastikan bahwa mereka kelak tidak terpenjara oleh pengalaman traumatik ini.
Daging boleh berpisah, namun jiwa-jiwa penuh cinta selalu dapat bersama dalam pengalaman rohaniah. Semoga kepergian ayah mereka — orang-orang tercinta itu, selalu mengispirasi agar anak-anak, istri dan keluarga yang ditinggalkan untuk tetap hidup di dalam Cinta.
Hanya CINTA yang dapat menyembuhkan dunia yang penuh luka ini — bukan agama, bukan label kepercayaan apapun, bukan ideologi, bukan politik dan bukan apapun yang didalamnya penuh dengan kebencian. Hanya Cinta saja.
Biarlah jiwa-jiwa Garuda itu bersemayam di dalam anak-anak yang ditinggalkan. Kelak anak-anakmu akan memetik pelajaran paling berharga dari pengalaman ini.
2. Keluarga Teroris yang ditinggalkan
Adakah seeorang bayi yang terlahir pernah tahu bahwa kelak jalan mereka akan berakhir dengan label teroris? Apakah ibu yang melahirkannya pernah bermimpi agar suatu saat anaknya itu mati dengan cara jihad yang memalukan ini?
Bagaimanapun juga, satu anak manusia telah mati dengan pilihannya sendiri. Akan tetapi saya sangat yakin pasti ada anggota keluarga yang bersedih, baik itu sedih diam-diam maupun terbuka.
Turut berduka bagi anggota keluarga yang masih waras. Seharusnya ini tak perlu terjadi. Namun betapapun ini adalah pengalaman yang mengerikan, tetap ada kedukaan bagi sebagian keluarga yang ditinggalkan. Duka itu adalah, rasa penyesalan, rasa malu, rasa bersalah dan rasa khawatir suatu saat akan dikucilkan oleh masyarakat.
Untuk keluarga teroris, saya yakin tidak semua Anda berada pada jalan yang sama dengan salah satu anggota keluarga Anda yang mati itu. Bagi banyak orang, kematiannya adalah jihad. Namun banyak juga yang mengatakan kematiannya adalah kesia-siaan. Yang lain lagi pecah dada mereka karena letupan amarah.
Bagaimanapun juga, dia telah mati. Dan tak ada seorangpun yang dapat mengubah kematian. Sia-sia atau tidak, ini menjadi tanggung jawab Anda semua dalam memulihkan setiap rasa duka itu. Kematian anggota keluarga Anda yang dilabeli teroris ini hendaknya mampu memantik kesadaran Anda semua sebagai keluarga besar.
Selamatkan jiwa-jiwa yang masih tersisa. Periksa setiap anggota keluarga Anda — anak-anak Anda apakah mereka telah menyimpang ke faham radikal. Panggil mereka pulang ke dalam cinta. Ciptakan lingkungan yang dipenuhi sukacita dan bukan mengucilkan mereka dalam kesepian, sehingga dengan mudah mereka dimanfaatkan oleh para vampir berkedok agama yang haus darah. Dan yang paling penting, lihatlah mata anak-anakmu yang masih sangat belia itu. Sembuhkan duka ini, dengan menyuburkan kehidupan mereka, lagi-lagi hanya dengan Cinta.
Jika Anda menganggap agama adalah sesuatu yang sangat penting bagi Anak-anakmu, maka tunjukkan mereka cara beragama dengan lebih manusiawi dan lebih beradap. Kita perlu malu kepada binatang — tidak beriman namun seringkali mereka jauh lebih beradab ketimbang manusia-manusia beragama. Jika Anda mengharapkan anak-anak Anda berjihad, maka tunjukkanlah jihad yang selaras dengan kehidupan semesta ini — berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan yang penuh cinta.
Sehebat apapun ajaran agama jika didalamnya berisi kebencian, tidak toleran, eksklusif, kaku, merasa paling benar, maka sudah pasti agama itu cepat atau lambat akan ditinggalkan. Tentu saja ini berlaku untuk semua agama yang ada di dunia ini.
Lunasi hutang duka Anda, dengan tetap mengawasi para ulama gila yang berusaha meracuni kepala Anda dan anak-anak Anda dengan faham surga yang menyesatkan. Jika perlu, segera laporkan kepada yang berwenang agar segera diproses. Atau segera tinggalkan ulama yang seperti itu.
Jika Anda sungguh mencintai keluarga dan anak-anak Anda, maka kematian satu teroris ini adalah pelajaran bagi Anda semua untuk kembali memastikan apakah seluruh anggota keluarga Anda sehat secara jasmani dan rohani. Keselamatan jiwa anak-anak Anda bukan ditangan ulama gila, melainkan tanggungjawab Anda sebagai Ibu dan Ayah mereka.
Dunia ini sudah terlalu indah, jangan anda lagi pertumpahan darah atas nama agama, ideologi, afiliasi politik dan sebagainya.
3. Bangsa dan Negara
Ya, kita semua patut berduka. Sebab bagaimanapun juga kita telah kecolongan lagi. Semua patut mengawasi anggota masyarakat, terutama dari keluarga kecil, jangan sampai ada yang masuk perangkap dan teracuni oleh faham-faham radikal.
Dorong dan biarkan negara dengan perangkatnya memainkan peranannya dalam mengatasi kejadian ini menurut undang-undang yang berlaku. Satu hal saja, dan ini kode berat buat institusi penegak hukum, "Berhati-hatilah, jangan terlalu diperalat oleh HAM!".
Akhir kata, percuma mengutuk habis-habisan kejadian ini jika ternyata seorang teroris itu justru teman tidur Anda sendiri selama ini. Atau bisa jadi ia adalah teman ngopi Anda.
Sekali lagi, cukup sudah darah ini. Balut, jangan biarkan mengalir kemana-mana!.
Gods don't hate people. People with Gods hate people. ~ Unknown
Karimawatn, 10-05-2018

Tidak ada komentar