Header Ads

ads

Moralitas Cabe-Cabean (Part 2)

Moralitas Cabe-Cabean (Part 2)

Oke deh, balik lagi ke laptop. Telah disebutkan bahwa moralitas itu hanyalah salah satu turunan, maka jelas, ia selalu diturunkan dari isi kepala manusia. Dan semua orang hidup dengan kepalanya masing-masing — dengan segala konsep yang dia bangun dikepalanya. Katanya syarat makhluk hidup berakhlak mulia itu harus punya kepala. Tidak ada kepala, ya ndak hidup donk. Emangnya hantu, tanpa kepala? Apa iya ada hantu yang bisa ngasih kuliah tentang moral(itas) dan selalu diselingi iklan, lalu disambut dengan riuh tepuk-tangan kayak di TV-TV itu? Ato jangan-jangan mereka itu hantu? Au ahh, Hiiii.

Hanya kepala manusia itu sendiri yang berpotensi membuat hidup lebih hidup dalam memandang seluruh aspek kehidupan ini. Mengapa kepala? Karena di dalam situ ada barang yang bisa dipakai buat mikir. Bukan rokok lho ya, walaupun saya perokok. Kalo saya bilang rokok bikin hidup lebih hidup, nanti malah dituduh menistakan paru-paru anak bangsa, dianggap tidak bermoral karena berniat menjerumuskan kesehatan putra-putri nusantara ke lembah penyakitan. Ujung-ujungnya debat lagi, ngerokok itu baik apa buruk?. Haram apa tidak? Apalagi masih banyak yang ngotot, menghubungkannya dengan panduan moral yang diimani. Aduhai, tambah ambyar. Itu baru soal rokok, belum lagi soal konsumsi daging-dagingan.

Jadi, apapun yang mau diturunkan sebenarnya tergantung si empunya kepala, yaitu gimana dia (baca; kesadarannya) dalam melihat seluruh isi yang ada di dalamnya — mau ngapain dengan itu isi. Pada dasarnya setiap orang bebas koq mengolah isi kepalanya. Mau dibuat apa aja juga silahken. Kuncinya cuma satu, itu pikiran sungguh disadari atau tidak?.

Lagian, masih banyak juga yang berfikir bahwa singkong yang dia tanam di kebunnya adalah singkong dengan kualitas terbaik. Namun setelah ia mengolahnya menjadi keripik dan kemudian menjualnya, toh tidak semua orang akan membelinya. Mungkin saja dia merasa akan selalu untung besar dengan berjualan kripik singkong. Tapi fakta berkata lain. Ternyata tidak semua orang suka makan olahan singkong bernama kripik.

Baca juga :

Katakanlah dia tetap untung. Tapi tidak semua orang mau beli. Ada yang hanya membeli mentahnya saja, lalu membawanya pulang ke rumah dan mengolahnya sendiri menjadi tapai singkong, kue singkong, singkong rebus/goreng, ato singkong krispi. Kalo ada yang sedang rindu djaman doeloe, tidak masalah juga kalo mau di buat tiwul. Bahkan jika ada yang mau menjadikannya sebagai bahan baku untuk membuat tuak juga ndak masalah. Tidak dilarang. Tentu saja efek samping seharusnya memang ditanggung sendiri (secara sadar).

Jadi, isi kepala manusia itu ibarat singkong, mau diolah jadi apa juga terserah. Terserah deh, Yu mau jadiin kek mana hidup Yu. Apa yang Yu pikir, Yu buat and Yu rasa, semua efek batiniahnya Yu yang tanggung sendiri. Tidak perlu memaksa yang lain ikut Yu punya jalan, atau gimana caranya melangkah di jalan Yu. Ndak perlu juga treak-treak bilang ke orang, "Hey, nih ya Ai kasi tau ama Yu. Ai punya jalan paling oke punya. Rugi kalo Yu ndak ikut Ai di jalan ini macam, coz Ai punya jalan adalah jalan kebahagiaan dan kebenaran." Oh, maca cih??

Lha, kalo orang lain udah punya jalannya sendiri dan dia betah untuk melangkah disitu walaupun dia tau bahwa setiap saat kakinya mungkin saja akan menginjak onak berduri, atau dalam perjalanannya ia bahkan bisa ketemu ular beludak yang sedang berkencan dan dia tenang-tenang saja, apa ya harus dipaksa pindah jalan juga.?

Mungkin saja Yu befikir Yu dapat menyelamatkan hidupnya. Tapi kan harus di kroscek juga, bisa jadi kita yang tidak tahu, bahwa dia sudah nyadar penuh untuk ambil resiko, dan itu dia punya jalan sudah diberi nama oleh dia sendiri sebagai Via Dolorosa. Jadi, hanya dia yang bisa memberi interpretasi terhadap jalannya sendiri, bukan kita.

Itu sebabnya, ada kalanya kita tidak perlu merasa seolah-olah sangat faham rumus hidup orang lain. Atau merasa sombong ingin mengubah orang lain menurut apa yang kita mau. Katakanlah pikiran seperti tiba-tiba menyelinap dikepala, segera buanglah. Pada level tertentu kita seharusnya mengerti bahwa realitas kita tidak mungkin sama. Dan setiap pribadi bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Dengan begitu Kita tidak perlu memaksa orang lain untuk ikut di jalan kita.

Jadi, tentang jalan (moral) boleh saja berbeda. Tidak masalah. Namun selalu ada kemungkinannya, bahwa pada satu titik tertentu dalam hidup ini kita akan saling berpapasan pada suatu persimpangan. Syukur-syukur kalo kita bisa berhenti sejenak, berbagi air minum dan camilan, membuat bivak, bakar api unggun, lalu ngobrol (sharing), becanda sambil mengeja bintang di langit sampai lupa waktu karena kita begitu menikmati momen yang seperti itu.

Kita juga tidak perlu pusing lagi dengan apapun topik yang kita obrolin itu akan bermuara kemana. Sebab keterhubungan Kita saat itu pada dasarnya bukan lagi soal persetujuan (agreement) melainkan saling mengerti (understanding). Bukan soal Yu harus setuju ama Ai, ato Ai harus manut dengan Yu punya kata-kata. Bukan soal jalan moral mana yang paling baik dan harus dipilih. Tapi betul-betul saling mengerti bahwa di planet ini kita adalah pengembara yang memiliki kehendak bebas. Namun untuk benar-benar memahami hal ini, setiap pribadi yang bertemu sudah harus tahu (baca; sadar) dari awal. Kalo tidak, ya ujung-ujungnya bisa korslet juga. Perang lagi dah. Berebut kebenaran dan saling klaim moral lagi. Apa ndak bosan?

Lalu, apa itu kebebasan? Mungkin ada yang bawel, "Bebas donk Ai ngancurin Yu punya lapak, coz dagangan Ai omsetnya jadi makin turun." Atau ada lagi yang bilang, "Bebas donk ana kawin tiga? Kan standar moral di tempat Ai menjamin hal itu". Eh, ada lagi yang mau pamer, "Bebas donk Ai buat kebijakan semau Ai. Kan Ai yang punya kuasa menentukan tujuan yang baik menurut Ai". Ada lagi, "Bebas donk Ai ceramah tentang kebencian, kan Ai udah dibayar mahal untuk itu. Lagi pula, semua ada dalilnya." Dan masih banyak lagi ekspresi kebebasan yang bisa saja keluar dari otak manusia.

Sekali lagi, betul Yu bebas koq. Bebas-bebas aja. Tapi sadarlah dari awal, bahwa yang lain juga punya ekspresi kebebasannya sendiri. "Bebas donk Ai protes ama Yu, karena Ai tidak sepakat dengan Yu punya sikap dan kelakuan". Dan, Yu bebas koq buang tulisan ini ke tong sampah kalo Yu tidak suka. Tidak masalah.

Jadi Kita ini tidak perlu lah baku paksa. Jangankan memaksa orang lain untuk melakukan yang jahat, memaksa orang untuk berbuat baik saja harus pikir ulang, apa ya gitu ego yang bener-bener dewasa, masih aja suka maksa-maksa?

Jangankan memaksa orang lain untuk melakukan yang jahat,memaksa orang untuk berbuat baik saja harus pikir ulang.Apa ya gitu ego yang bener-bener dewasa,masih aja suka maksa-maksa.~ Leonians

Tapi ya ngunu lah, kita seringkali terpuruk pada polarisasi nilai-nilai. Kita tidak mampu melihat fakta, bahwa ada kalanya pemaksaan adalah tetap saja pemaksaan apapun alasannya. Kita lebih suka bermain-main, kalo bukan B ya S. Masih tidak berubah dari sejak SD, kuisnya itu-itu mulu — Benar atau Salah. Kenapa sih Kita ngga mau sesekali belajar pilih yang tengah aja — Atau?.

Tambah bingung?

Oh, Alhamdulillah.

Karimawatn, 04-05-2018

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.