Dimusim Ini
Dimusim ini dan pada hari-hari yang akan datang, Kamu akan berjalan dibawah awan merah. Sekujur tubuhmu seperti dilemparkan kedalam perapian dan disaat itu pula mereka menari kegirangan.
Dan karena perbuatan iblis itu, Aku menangkap amarah mondar-mandir di setiap beranda rumahmu. Berhati-hatilah. Mereka sedang berusaha membakar dadamu dan menghancurkan jantungmu berkeping-keping. Mereka tertawa disaat tangan dan mulut mereka penuh dengan darah.
Aku melihat mereka datang dalam rupa manusia berwajah bangkai. Tubuh mereka telah lama membusuk dalam setiap tarikan nafas. Dan daging mereka berbau maut dan lebih haram dari semua jenis binatang di muka bumi ini.
Jiwa-jiwa mereka yang hampa senantiasa berteriak ke langit, menyebut satu Nama yang sesungguhnya tak pernah mereka kenal dengan purna. Mereka, iblis-iblis itu akan terus berteriak sesaat sebelum bersulang dengan kematian.
Dimusim ini dan pada hari-hari yang akan datang, Kamu akan berjalan dibawah hujan berbau amis. Iblis-iblis itu memanggil guntur tuk menjadikan Kamu remuk redam dalam setiap kutukan yang Kau lantunkan.
Aku melihat mereka datang dan menyelinap disetiap rongga kepalamu. Iblis-iblis itu bergegas mencabut kedamaian hatimu, menggantinya dengan benih-benih kegelisahan. Mereka menjadikan setiap kelupaanmu sebagai santapan paling nikmat.
Iblis-iblis itu tidak akan pernah berkemas pulang. Tidak, mereka tidak akan pergi sebelum nyawanya dan nyawamu tercerabut dari kehidupan. Dan Aku telah melihat satu anak tangga, dan sebagian iblis itu berlomba menuju kesana. Diatas anak tangga itu, sebuah pintu akan mereka buka. Di balik pintu itu sebuah singasana kerajaan berdiri. Mereka sedang bermimpi untuk menguasai kehidupan dari tempat itu. Tapi apa yang telah terjadi di duniamu bukanlah mimpi, sebab merekalah pelakunya — iblis-iblis itu.
Dimusim ini dan pada hari-hari yang akan datang, Kamu seringkali akan menepuk-nepuk dada dan membasuh kesedihan dengan air mata. Sekali lagi, Iblis-iblis itu tidak akan pernah ramah pada Kehidupan. Senyuman mereka adalah maut yang diam-diam, dan bibir mereka adalah racun yang sangat berbisa. Seringkali Kamu melihat dan mendengarkan mereka mendaraskan ayat-ayat kematian.
Aku telah melihat mereka, iblis-iblis itu, mengobrak-abrik kemanusiaanmu. Meluluhlantakkan ikatan persaudaraanmu. Sesungguhnya, jiwa-jiwa mereka adalah padang yang sangat gersang, dan tak satu pun kehidupan dapat tumbuh disana. Iblis-iblis ini telah dilahirkan di dalam dimensi yang paling hina dari kehidupan seekor katak.
Aku berkata kepadamu, bahwa dimusim ini dan pada hari-hari yang akan datang, di antara Kamu telah berlangsung sebuah perlombaan demi memenangkan piala. Aku telah melihatmu berada didalam pusaran bara yang senantiasa berperang melalui kata-kata. Aura diantara Kamu adalah aura pertikaian.
Berhati-hatilah. Apabila Kamu tidak terjaga, dan membiarkan hatimu berada didalam kemarau, maka jangan salahkan jika iblis-iblis itu datang menghampiri. Sebab Kamu sendiri telah menciptakan kediaman yang nyaman bagi mereka, yaitu sebuah rumah bernuansa perpecahan.
Berjaga-jagalah sebab mereka tidak datang disiang hari begitu pula dimalam hari. Iblis-iblis haus darah selalu datang di dalam setiap kelupaanmu.
Di musim ini dan pada hari-hari yang akan datang, adalah kesempatan bagi Kamu untuk mengirim iblis-iblis itu ke surga mereka. Sebab telah diberikan kepadamu otak — sebagai satu-satunya senjata yang paling ampuh untuk menyembuhkan duniamu saat ini. Demikian juga ia menjadi titik lemah paling mematikan yang sewaktu-waktu akan membuatmu menjelma iblis.
Aku telah melihat bahwa peradabanmu sebagai manusia akan selalu memainkan koin yang sama ini. Sebab itu, pilihlah jalan hidupmu. Beranikan diri, bersihkan isi kepalamu. Buang jauh-jauh bunyi-bunyi surga yang menyesatkan itu. Tinggalkan mereka yang merayumu dengan bait-bait nikmat akhirat.
Percuma saja Kamu dan saudara-saudaramu bermandi keringat dan airmata mengumpulkan pundi-pundi lalu mengundang mereka bercerita tentang surga namun yang Kau dengar hanyalah kata-kata sampah yang membenci kehidupan. Ingatlah bahwa iblis akan senantiasa mendapatkan makanannya, dan Kamu hanyalah budak yang bodoh. Cepat atau lambat otakmu menjadi kerdil dan Kau pun berubah mejadi pelayan iblis yang berperan sebagai pencabut nyawa.
Kamu adalah manusia, sebab itu berdzikirlah dengan segenap kesadaranmu sebagai manusia — bukan iblis. Jangan biarkan bibir-bibir biadap itu mencumbui otakmu yang mulia itu sehingga Kamu jatuh ke dalam samudera kedunguan. Sebab sekali Kau jatuh, tak ada seorangpun yang akan menyelamatkanmu, selain Kamu sendiri yang memilih menghancurkan hidupmu di dalam permainan iblis yang paling laknat.
Sekali lagi, bangun dan berdirilah gagah dan keluarlah dari permainan berdarah ini. Hanya dengan cara ini, keberanian itu dapat ditegakkan. Suatu keberanian yang lahir dari bersihnya pikiran. Dan keberanian inilah yang pada akhirnya akan memutus lingkaran iblis.
Biarlah tentang satu Nama itu Kau temukan sendiri di tempat ibadahmu yang hidup, yakni di dalam dirimu sendiri — bukan didalam setiap kuburan baru yang Kau ciptakan. Dan ketika semua itu Kau temukan didalam jernihnya pikiranmu, Kamu akan tahu bahwa Kamu hanya akan mencintai Kehidupan ini dan bukan menghancurkannya.
Dimusim ini dan pada hari-hari yang akan datang, adalah kesempatan bagimu untuk segera berbenah. Berpeganglah erat hanya pada kewarasanmu, hai anak manusia!.
Karimawatn, 13-05-2018
#SegeraTerbitkanPerppuAntiTeroris
#SaveNKRI

Tidak ada komentar