Header Ads

ads

Singara : Pa' Ali-Ali

Singara : Pa' Ali-Ali

Musim parujatn, pas ai' dalapm, Pa' Ali-ali nang pamalas koa dibininya nyuruh ngago' ikatn ka sunge make bubu. Saga'nya ari koa parasanya sidi takar ampusa' ka sunge. Tapi karana bininya curebet, ia pun ampus nurutti' kamao'an bininya koa.

Malam ari, ia pun masang bubunya. Alapm arinya ia ngawahi' bubunya. Pas nya ngangkat ina' barang seko' ikatn nang nya namu. Ia pun ngincakng bubunya koa pulakng ka rumah lalu bapadah ka bininya. We' Ali-Ali bera sidi ka lakinya koa, lalu bakata ;

"Batol sidi baga kao koa Pa' Ali-Ali a, pidara seko' Saluakng buta' pun kao na' namu?. Dah, ampus agi' kao!. Gago' agi' ikatn koa ka sunge!"

Pa' Ali-Ali pun di bininya ngukum — ina' dibare' makatn. Sidi kasal parasanya nangar bininya ngatai', "seko' saluakng buta' pun kao na' namu". Au' lempahea', Pa' Ali-Ali pun ampus ka sunge masang' bubunya agi'.

Antah ahe rajakinya. Ari koa Pa' Ali-Ali namu ikatn sidi manyak. Barinsi' bubunya diikatn namai'. Palahan-palahan ia ngamasatnni' ikatn nang nya namu koa, tapi seko' Saluakng buta' pun ina' ada nang nya nele' ka dalapm bubunya. Pa' Ali-Ali kasal, rapot sigana ikatn Saluakng man ikatn nang lain ia ngalapasatn' agi' ka sunge.

Ia pulakng ka rumah, bapadah ka bininya kade' ikatn nang nya namu dah abis nya ngalapasatn' agi' ka sunge, karana seko' pun ina' ada ia nele' ikatn saluakng buta' nang tama' ka bubunya.

Terjemahan :

Cerita Rakyat : Pak Ali-Ali

Dimusim hujan ketika air sedang pasang, Pak ali-ali yang pemalas disuruh istrinya mencari ikan dengan menggunakan bubu. Awalnya Dia merasa enggan, tapi karena istrinya sering merengek-rengek akhirnya Pak Ali-Ali mengikuti keinginan istrinya.

Malam hari ia mulai memasang bubu. Pagi harinya ketika diangkat, tak satupun ikan yang ia peroleh. Ia pun membawa bubunya kerumah dan melaporkannya ke pada istrinya. Istrinya marah-marah dan berkata :

“Dasar bodoh kau Pak ali-ali, satu ekor Seluang buta saja kau tidak dapat?. Sudah, pergi sana! Cari lagi ikan itu di sungai!".

Pak Ali-ali pun dihukum istrinya dan ia tidak diberi makan. Merasa terpukul oleh kata-kata istrinya “satu ekor Seluang buta saja tidak kau dapat” akhirnya ia pun pergi memasang bubunya lagi.

Kali ini ia mendapatkan ikan penuh satu bubu. Tapi begitu dicek satu persatu tidak satu seluang pun yang buta. Akhirnya semua ikan seluang dan ikan yang lain dilepaskannya lagi ke sungai.

Ia pulang ke rumah dan melaporkan bahwa ikan yang didapatnya sudah dibuang ke’ sungai semua, karena tidak ada yang buta”.

**

Singara (cerita rakyat) diatas saya dapatkan di Internet dalam bahasa Indonesia. Saya edit sedikit, kemudian saya coba terjemahkan ke dalam Bahasa (Dayak) Ahe. (Bagi teman-teman berbahasa Ahe, mohon koreksi terjemahannya).

Dari singara Pak Ali-Ali tersebut sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa Bahasa Dayak Kanayatn (Ahe) itu relatif gampang untuk dipelajari/dituturkan ketimbang bahasa Dayak dari Sub-Etnik yang lain. Siapapun dapat belajar. Silahkan bagi yang mau belajar.

Berdasarkan pengalaman/pengamatan pribadi, memang ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang agak sulit untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Ahe, atau sebaliknya

Prihatin saja, bahwa jumlah penutur bahasa daerah ini nampaknya akan semakin berkurang. Sangat mungkin suatu saat, cepat atau lambat kekayaan bahasa daerah yang ada di nusantara ini akan lenyap ditelan waktu. Dan tentu semua bahasa daerah yang ada sekarang memiliki gejala ancaman yang sama, bahwa semakin hari masyarakat modern akan meninggalkan bahasa daerah ini. Salah satu faktor penyebabnya adalah kebanyakan para orang tua jaman now ketika mereka punya anak, langsung latah dan menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Tidak salah. Saya tidak mengatakan bahwa bahasa nasional kita ini tidak penting — sangat penting, sebab inilah satu-satunya bahasa yang harus Kita junjung tinggi dan menjadikannya sebagai perekat keberagaman Kita saat ini. Akan tetapi dalam konteks pelestarian budaya agaknya kita tidak bisa berharap terlalu banyak, sebab secara tidak sadar Kita mungkin sudah ikut andil dalam meruntuhkan kekayaan budaya itu sendiri, yaitu dengan mengubur bahasa daerah yang Kita miliki saat ini.

Bersyukurlah Anda semua yang sampai hari ini masih bisa bertutur dalam bahasa ibu. Sebab mungkin saja Anda adalah generasi terakhir yang dapat mengingat Ibu Pertiwi melalui bahasa daerah Anda. Suatu saat, mungkin saja Kita tidak akan tahu lagi bagaimana Ibu Pertiwi ini pernah bertutur sapa kepada kita melalui kearifan lokal dan tradisi yang berasal dari berbagai suku bangsa yang ada di negeri kepulauan ini, sebab suatu saat bahasa daerah Kita, kekayaan budaya ini mungkin saja akan menjadi kenangan.

Warisan tradisi, adat-istiadat atau kearifan lokal yang berasal dari leluhur itu menurut saya hanya mungkin bisa dipertahankan apabila bahasa daerah itu sendiri dapat juga dilestarikan bersamaan dengan itu. Dengan kata lain, bahasa daerah adalah pengikat kebudayaan lokal yang ketika ia ditinggalkan, maka segala aspek budaya lokal tersebut akan hilang dengan sendirinya. Setidaknya hal itu akan terjadi jauh lebih cepat dari yang kita duga.

Bagi yang sudah tidak bisa berbahasa daerah secara total, ya apa mau dikata. Semuanya sudah terlanjur, walaupun mungkin masih bisa belajar. Dan saya mungkin tidak akan bisa menggunakan/menuturkan bahasa daerah Anda, sebaliknya juga Anda. Namun setidaknya masing-masing Kita masih punya kesempatan untuk menjaga apa yang masih bisa kita jaga, memelihara apa yang masih bisa kita pelihara, tentu saja dengan kemampuan dan cara kita masing-masing. Dan Kita boleh saja menyerukan semangat untuk senantiasa menjaga/membela Budaya Nusantara, akan tetapi jangan sampai, "Bahasa Luar khatam kita kuasai, Bahasa Ibu layu Kita kencingi."

Apapun sudut pandang Anda tentang hal ini, pada akhirnya kembali kepada diri Anda masing-masing. Apakah hal ini penting atau tidak, semua kembali kepada persfektif masing-masing. Silahkan saja belajar bahasa yang lain, dan itu baik. Akan tetapi berkoar-koar tentang bela budaya, yaitu membela ke-Indonesiaan Kita yang kaya ini, agaknya akan terasa hambar dan sia-sia apabila bahasa daerah sendiri sengaja di tinggalkan.

Sekali lagi, jika saat ini anak-anak Anda audah tidak bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah, maka dapat dipastikan bahwa Anda adalah generasi terakhir penutur bahasa ibu Anda. Setelahnya, tentang warisan ini, Kita mungkin tak akan pernah sempat mengucapkan Selamat Tinggal kepada Ibu Pertiwi, yaitu Ibu yang pernah menitipkan nilai-nilai luhur bagi kehidupan Ke-Indonesiaan Kita yang sangat beragam namun Tetap Satu ini.

Karimawatn, 16-05-2018

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.