Header Ads

ads

Moralitas Cabe-Cabean (Part 1)

Moralitas Cabe-Cabean (Part 1)

Apa? Moral?

Swer, saya sama sekali sudah tidak tertarik lagi ngebahas apalagi ngulik soal pilihan moral pribadi lain. Moralitas itu, sekali lagi hanyalah turunan saja. Turunan dari isi kepala kemudian menjadi standar umum (konsep). Tidak lebih dari itu.

Bicara soal moral itu sama saja membicarakan sesuatu yang awalnya tidak ada, tapi harus dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi seolah-olah nyata, bahwa ada yang namanya moral(itas) — ada yang harus seperti itu. Setelah disepakati, maka dibuatlah tutorialnya dalam banyak versi sebagai tuntunan untuk menggapai, misalnya surga. Ada surga yang isinya dihuni 72 bidadari dan ada juga surga berupa rumah abadi super nyaman disisi Allah. Ingin hidup bermoral koq tetep aja pamrih? Disitu kadang saya merasa heran.

Tapi begitulah, soal moral(itas) ini tak cukup sebatas buku. Banyak banget yang sengaja promo dimana-mana, buka lapak khusus untuk menjual moral. Lapak yang satu ngatain apa yang dijual dilapak sebelah ndak bagus. Yang lain lagi berbusa mulutnya promosi berbagai produk moralnya. Ada yang mati-matian ngasih diskon dan bonus. Bahkan ada yang sampai tega ngobrak-ngabrik lapak orang, karena merasa terancam dagangan moralnya bakal tidak laku lagi. 
Kalo sudah begini kan bingung jadinya. Koq yang namanya moral(itas) itu banyak banget variannya? Seperti jualan pakaian dalam aja. Standar dan ukurannya beda-beda. Mau pakai tuntunan moral(itas) yang mana? Lha, mau di omongin ato tidak, semua (ego) pada bilang bahwa panduan moral yang mereka imani pasti lebih bagus dari yang lain dan selalu menganggap diri sudah hidup selayaknya sesuai tuntunan. Padahal? Hmm, entahlah.

Yang saya tahu, salah satu efek samping dari ajaran moral yang umumnya diserap sampai ke alam bawah sadar adalah bahwa orang menjadi lebih suka membanding-bandingkan dosa diantara sesamanya sendiri, entah itu didalam keluarga, didalam hubungan pertemanan, maupun didalam masyarakat. Yang merasa kecil dosanya, ego menjadi sombong karena menganggap deposit mimpi tentang hidup abadi di surga menjadi semakin banyak. Yang merasa besar dosanya habis dibully tanpa ampun, kemudian mati ketakutan karena merasa tak kuat nanti akan dibakar setelah mati. Hal ini terjadi karena masih banyak yang percaya secara buta dan tuli konsep tentang dosa yang hanya berdasarkan buku panduan saja tanpa mau lagi menggali kesadaran yang semestinya dapat muncul sendiri dari dalam.

Bahkan, yang lebih aneh lagi, banyak yang mengaku-ngaku bahwa hidupnya sangat bermoral. Coba aja, mana ada yang mau di bilang ndak bermoral?. Ujung-ujungnya pasti bilang, "Jelek-jelek begini lebih bermoral koq dari pada hewan". What? Apa itu yang dicari dan mau di pamerin karena sudah merasa paling manusia dan hidup sesuai aturan?

Lagi-lagi, malu donk ama anjing, babi, onta, tikus, bajing, monyet, dkk. Ya, mereka ini kan sekelompok hewan yang sering dipakai buat ngelempar muka orang kalo pas lagi kesel. Yang satu bilang, "Anjing lu!", dan kemudian dibalas, "Lu yang babi!". Seolah-olah semua hewan itu makhluk paling hina dina di Planet Biru ini. Selalu dilempar kesana-kemari. Padahal kalo mau buka mata dan buka kepala, kelakuan para hewan itu seringkali tidak sesadis kita-kita yang ngaku manusia ini. Kita lupa, bahwa kita ini pun termasuk hewan, yaitu hewan yang berjalan tegak kesana-kemari selain mencari makan, ya mencari perhatian juga.

Kita lupa, bahwa Kita ini pun termasuk hewan, yaitu hewan yang berjalan tegak kesana-kemari selain mencari makan, ya mencari perhatian juga.~ Leonians

Mau ngeles kek gimanapun, manusia itu tetap mewarisi insting hewan. Dan udah dari sononya begitu. Hanya manusia satu-satunya spesies paling dominan di planet ini yang bisa melipatgandakan instingnya guna memenuhi setiap keinginannya yang luar biasa itu. Dan tentu saja, tidak ada hewan lain yang bisa menandingi manusia dalam hal ini. Jadi, kalo ada yang bilang hewan itu tak bermoral, ya memang begitulah mereka.

Tidak ada kosakata moral(itas) di kalangan para hewan. Tidak ada KBBH (Kamus Besar Bahasa Hewan), karena itu barang memang tidak ada, dan mereka tidak hidup dengan panduan moral. Emang ada katak yang doyan sembayang agar bisa menjadi katak yang baik dunia akhirat?. Kalaupun ada, maka hanya ada satu katak di dunia ini yang seperti itu, dan itu milik Anthony de Mello. Akan tetapi untuk bisa melihat katak ini, Kamu harus menyelam kedalam setiap catatan de Mello. Jika beruntung, maka Kamu akan melihatnya, karena Kamu sendirilah Katak itu — seekor katak yang sedikit mulai nyadar dan bukan hanya sekedar mikir dan lompat-lompat seenaknya.

Nah, kata moral(itas) itu kan cuma ada di kamus manusia saja, yaitu sebuah konsep yang diciptakan manusia sendiri dan konon katanya dapat menjamin prilaku umat agar terhindar dari kejahatan. Faktanya? Masih banyak juga yang edan. Sori kalo definisi ini memang sengaja gak pakai KBBI. Jadi, dengan mengatakan bahwa hewan tak bermoral bukan berarti manusia bisa ngeles dan merasa dirinyalah satu-satunya spesies sangat bermoral di muka Bumi ini.

Dari sejak kecil kita sudah dibisiki oleh generasi jaman old, bahwa manusia itu adalah makhluk mulia yang berakhlak paling tinggi dibanding makhluk lainnya di muka Bumi. Namun faktanya, seekor anjing tidak pernah belajar soal moral agar dapat menjaga, melindungi, dan setia kepada tuannya sampai mati. Begitu juga seekor hornbill, tak pernah dapat kuliah moral, namun ia tetap setia dengan pasangannya sampai mati.

Ada kalanya, sekali-kali belajar menghayal itu bagus. Lalu bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana jika seandainya manusia di Bumi ini tiba-tiba hilang begitu saja?" Apakah Bumi ini akan langsung hancur berantakan? Bisa jadi malah sebaliknya, lebih tentram dan hijau bestari. Bukan berarti ndak ada bunuh-bunuhan antar sesama hewan. Akan tetap ada. Tapi itu hanya soal makan saja. Makan sewajarnya demi bertahan hidup. Yang makan daging ndak mungkin makan rumput, atau sebaliknya. Nah, kalo manusia kan beda, mereka bisa makan segalanya. Temen atau keluarga sendiri aja seringkali disantap juga. Ngeri!!

(...bersambung)

Karimawatn, 04-05-2018

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.