Sandal, Masjid, Yesus dan Bu Haji
Entah bagaimana, tiba-tiba aku ada di halaman sebuah masjid. Hujan baru akan beranjak pergi dan masih menitipkan rintik di ubun-ubun. Kulihat hampir semua mereka sudah masuk ke dalam masjid yang cukup besar itu.
Satu dua orang ada yang baru saja datang, berjalan dengan sangat hati-hati — takut kotor, maklum hujan dan halaman masjid itu memang agak becek disana-sini.
Aku masih berdiri di halaman masjid itu persis di dekat tangga. Sesekali aku melongok ke dalam, dan tampaknya sembahyang akan segera dimulai.
Cuaca begitu sejuk dan panah langit masih turun kecil-kecil. Mataku tertuju pada sandal-sandal yang penuh sesak itu. Bertumpuk-tumpuk tak karuan. Ada merk sandal keren, ada yang cuma capit biasa. Ada yang bersih, dan ada pula sandal yang penuh lumpur.
Kupandangi sandal-sandal yang menggigil itu pasang per pasang. Oh, ada juga yang tercerai dari kekasih hatinya. Dibagian lain, seolah-olah ada yang teriak minta tolong, "Tolong, jangan tindihin gua donk.".
Sungguh, mereka adalah sandal-sandal yang malang. Sudah diinjak-injak lalu dibiarin berantakan dibawah gerimis — berjejalan, semrawut seperti antrian manusia yang hendak naik kapal di sebuah dermaga dan tak tahu arti merajut sabar.
Setelah kupuaskan mataku, memandang sandal-sandal malang di tangga masjid itu, aku pun mulai menunduk. Kuambil satu persatu sandal itu. Kususun rapi ditangga masjid. Mau itu sandal keren atau butut, yang penting berbaris rapi sesuai pasangannya. Sandal-sandal yang bercerai kubuat rujukan kembali. Kubiarkan mereka berpelukan lagi dibarisan yang mulai indah itu. Penuh warna-warni.
Seorang remaja yang baru saja datang, menghampiriku. Tampaknya dia bukan marbot masjid. Entah karena merasa terlambat atau apa, ia mengurungkan niatnya memasuki masjid dan memilih membantuku menyusun sandal-sandal yang kuyup dan kedinginan itu.
Di dalam, sembahyang sudah dimulai. Lantunan doa dengan bahasa yang tak kumengeri itu menggema ke penjuru mata angin. Sedangkan aku dan remaja bersarung itu masih berjuang dibawah rintik hujan menjadikan sandal-sandal itu bersusun rapi menurut pasangannya masing-masing.
Tidak terlalu lama, semua sandal itu pun telah menjadi barisan prajurit Terakota. Tak lagi berantakan. Aku pun lega melihat barisan para sandal yang mulai tertib itu menunggu tuannya datang dan akan menginjak badan mereka lagi sampai ke rumah. Oh, nasib jadi sandal.
**
Tak pernah sekalipun dalam hidup ini aku menginjakan kaki ke dalam masjid. Ke gereja saja sekarang sudah jarang-jarang. Tapi "Sang Sutradara" di dalam mimpi kali ini memberiku peran sebagai "tukang susun sandal" di sebuah masjid antah brantah. It's Oke. Done.!!
Pernah juga beberapa tahun silam aku bermimpi melihat Yesus (setidaknya bawah sadarku mengatakan itu Dia). Dia dengan jubahnya yang putih itu datang berjalan kaki dan disambut orang ramai di depan gereja sini — di kampung ini (gereja lama, bukan yang megah seperti sekarang ini.).
Aku hanya melihat Dia dari kejauhan. Bukannya tak ingin mendekat, tapi di dalam mimpi itu aku merasa "sudah cukup" melihat-Nya dari tempat aku berdiri — malas mau berdesak-desakan.
Ketika Yesus memasuki gereja dengan segenap keramahan-Nya, orang-orang tetap tak henti menjadi semut di sekitar Dia. Suasanya begitu sesak dan riuh, dan Yesus tetap melayani mereka dengan senyum-Nya. Di dalam mimpi, Tuhan yang gondrong dan tak pernah ke salon itu, betul-betul hanya seperti manusia biasa — sangat membumi. Dia selalu tertawa dan sesekali bercanda dengan "semut-semut" yang ada disekeliling-Nya.
Aku tetap tak kuasa menerobos kerumunan orang, memilih berdiri sambil berjinjit di depan pintu masuk gereja tua itu. Dan orang-orang itu begitu lapar ingin melihat Tuhan mereka. Masih bisa kulihat Yesus duduk di bangku paling belakang, sambil merangkul anak-anak yang mengerumuni Dia.
Ketika ibadat akan dimulai, seseorang petugas gereja menghampiri Yesus, membungkuk memberi hormat dan berkata,
"Tuhan, mari saya antar duduk di depan. Sudah kami siapkan tempat untuk Tuhan".
"Tidak perlu. Biarlah Aku disini saja dengan mereka ini.", jawab Yesus.
Petugas gereja itu bingung harus berbuat apa, sedangkan Yesus masih saja tak peduli dan memilih "bersenda gurau" dengan semut-semut yang mengelilingi Dia.
Ibadat hari itu benar-benar batal, karena Tuhan lebih memilih ngobrol, bercanda dan tertawa bersama mereka yang ada di gereja tua itu. Sangat natural, sangat indah dan sangat menyenangkan sekali melihat "Tuhan" seperti itu.
**
Baru sekali seumur hidup ini aku bermimpi seperti itu — melihat Yesus. Bahkan mimpi ini pernah aku share dengan seseorang yang memahami simbol-simbol di dalam mimpi, dan itu dulu sudah lama sekali.
Dari obrolan yang cukup panjang melalu inbox itu ada satu yang menarik dan takkan kulupa. Dia pernah berkata, bahwa "Yesus adalah simbol setiap kita — manusia." Jawaban padat dan singkat itu cukup membuatku puas untuk mulai memahami pribadi Yesus dengan persfektif yang benar-benar baru.
**
Saat akan kuakhiri catatan mimpi tentang sandal di masjid ini, aku teringat pengalaman masa kecil. Kali ini bukan soal sandal atau masjid, tapi waktu aku kecil, sebelum bapak dan ibu pindah rumah, kami pernah bertetangga dengan keluarga haji. Ibu haji ini baik sekali. Setiap kali senyum atau tertawa, akan menyembul satu gigi emasnya — bersinar dan bertengger digusinya. Khas sekali.
Seringkali Bu Haji mengundangku makan di rumah mereka. Dan hampir setiap sore, aku mengintip anak-anak belajar pengajian di rumah itu. Kusipitkan mataku diantara celah dinding papan, dan kulihat teman-teman kecilku belajar mengaji disitu. Kadang salah satu dari mereka mengetahui aku sedang mengintip, aku pun berlali pulang ke rumah. Sungguh, pengalaman itu takkan pernah terulang lagi, sebab Bu Haji yang baik itu pun telah tiada.
Jadi, apa bedanya Yesus dengan Bu Haji ketika sedang tertawa dan tersenyum? Tidak ada. Semuanya itu menyenangkan dan membuat "hati" damai.
**
Oya, sekarang memang November, sedang puncak-puncaknya musim hujan. Di musim ini, sandal-sandal seringkali "tertinggal" dan menggigil di luar rumah. Kasihan ya sandal?!
🙏😎🙏
Karimawatn, 06-11-2018

Tidak ada komentar