Header Ads

ads

Retret Dibawah Gerimis

Retret Dibawah Gerimis

Sekali lagi, Bahasa Manusia itu sangat terbatas sebab ia adalah Bahasa yang keluar dari Daging. Dan karena ia berasal dari daging, maka ia akan cepat membusuk. Itulah sebabnya, seringkali Kita kesulitan bagaimana mengungkapkan bahasa jiwa Kita kepada orang atau entitas lain.

Akan tetapi, jiwa yang murni selalu memiliki bahasanya sendiri. Dan ada saatnya mulut ini tidak dibutuhkan untuk mengucapkan kata-kata apapun, sebab seekor anjing kesayanganmu akan tahu bahwa kamu mencintainya, dan Kamu juga tahu bahwa ia selalu setia kepadamu.

Tak ada hal lain lagi yang lebih mengagumkan dari pengalaman ini. Ketika setiap jiwa saling berkomunikasi dengan caranya sendiri, maka cinta yang luar biasa itu berubah menjadi sebuah jembatan yang sangat indah — ia menghubungkan dirimu dengan seluruh bentuk kehidupan.

Orang lain seringkali mengatakan bahwa inilah Bahasa Cinta. Akan tetapi Aku lebih suka menyebutnya sebagai Bahasa Jiwa Yang Murni, dimana Cinta adalah satu-satunya Kata yang ada didalamnya — tak ada yang lain lagi.

Sebagai anak manusia, Kita seringkali gagal memahami bahasa ini, sebab Kita sudah terlanjur diperkenalkan dan jatuh kedalam bahasa yang melekat pada pengalaman daging. Sehingga apapun konsep Bahasa Cinta yang dibangun melalui hiruk-pikuk pengalaman daging (materi) itu selalu memiliki syar(i)at yang harus dipatuhi yang pada akhirnya menjadikan cinta itu sendiri tidak pernah bertumbuh.

Cinta yang Kita kenal melalui nasehat masa lalu, mimbar, khotbah, ceramah, buku suci dan lain sebagainya seringkali adalah cinta yang cepat layu. Ia tidak pernah berkembang dan mekar, sebab ia telah ditanam kedalam jiwa-jiwa yang kemarau.

"Ajarilah Aku Bahasa Cinta-Mu", adalah seuntai bait kekanak-kanakan yang selalu Kita lantunkan untuk merayu Dia dan mengajari Kita tentang rahasia itu. Dan pada saat Kita melantunkan bait itu, Kita telah larut dalam kelupaan panjang, bahwa setiap pencerahan selalu datang dari dalam diri dan bukan berasal dari tempat nun jauh disana yang Kita sendiri pun tidak pernah tahu dimana, walaupun Kita harus memaksa diri dengan menyebutnya sebagai Surga. 

Ada kalanya kita harus mengatup kedua bibir dan menghiasi batin ini dengan nuansa retret ketimbang tenggelam kedalam candu yang penuh dengan hingar-bingar pujian kepada yang Dia dianggap sebagai Maha Cinta itu. Sebab Kita bukanlah mannequin yang hanya pandai bernyanyi.

Karimawatn, 25-05-2018

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.